Maulana Ibrahim,  Arsitektur Universitas Khairun, Ternate. Email maulanarch(at)gmail.com.

Membayangkan masa lalu, di Bandar raya rempah-rempah adalah mutlak ketika kita menginjakkan kaki pertama kalinya di pulau ini, Ternate. Pulau kecil bergunung api aktif dengan luas 111,80 km2 merupakan salah satu Bandar Rempah di abad ke-13 sampai abad ke-17. Karena kekayaan alam berupa cengkih dan pala yg dikenal dengan emas hitam dari timur, menjadi rebutan berbagai bangsa di dunia. Dimulai dari Spanyol dan Portugis yang mulai datang dan mengambil serta menguasai langsung dari sumbernya pada abad ke-13.  Bahkan jauh sebelum itu, Cina dan Arab sudah berdatangan untuk membeli rempah-rempah tersebut, sebagai bagian dari komoditi perdagangan di jalur sutera. Para penulis barat lebih mengenal kawasan ini dengan sebutan The Spice Islands (kepulauan rempah-rempah : Ternate, Tidore, Moti dan Makian).

Meriam VOC di depan pintu masuk utama Benteng Oranje

Kedatangan Belanda yang diundang oleh Sultan Ternate pada 1607, karena mereka dibutuhkan untuk menghancurkan kekuatan Spanyol, memberi warna baru bagi kehidupan Ternate. Salah satu hasil perjanjian Sultan Ternate dengan Belanda adalah, diijinkannya Belanda membangun benteng di Ternate. Dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Cornelis Matelief de Jonge pada 1607.

Benteng ini pada awalnya diberi nama benteng Melayu, sesuai nama daerah benteng tersebut dibangun. Pada tahun 1609, nama Melayu diubah menjadi  Oranje oleh gubernur Belanda Paulus van Carden. Benteng Oranje menjadi markas besar VOC di Hindia Belanda, sampai Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkannya ke Batavia pada 1619.

Kawasan perkampungan Melayu dipilih sebagai lokasi benteng Oranje karena lokasinya yang strategis di pusat perdagangan masa itu (pribumi dan pendatang), dan untuk mencegah penyerbuan dari laut, karena pantai di depan benteng ini penuh batu karang, yang menyulitkan pendaratan musuh. Di kiri kanan benteng ini, sudah ada sebelumnya perkampungan para pedagang dari Makassar, Cina dan Arab yang sampai saat ini masih dikenal dengan nama Kampung Makassar dan Kampung Cina.

Benteng ini pernah menunjukan ketangguhannnya atas serangan Spanyol,pada pertempuran sengit ketika pasukan Spanyol (dari benteng Kastela) dengan 250orang secara diam-diam menyerang Belanda di Oranje. Belanda dengan hanya 40orang dibantu 100 orang Ternate mampu memepertahankan benteng ini.

Oranje menjadi saksi ditandatanganinya berbagai perjanjian penting yang cukup berpengaruh kepada kesultan Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan (Moloku Kie Raha). Di pulau kecil ini, tepatnya di Oranje lah, menjadi markas besar perusahaan dagang VOC, menjadi ibu kota Nederland Indie dengan 3 orang Gubernur Jenderal pertama VOC, masing-masing Pieter Both (1610-1614), Gerard Reynst (1614-1615) dan Dr. Laurens Real (1616-1619)

Suasana Tampak Depan Benteng Oranje, 1880
Sumber : Collectie Moluks Historisch Museum

Suasana Tampak Depan Benteng Oranje, 2010, ditutupi kios/pedagang kaki lima

Arsitektur Benteng Oranje

Benteng Oranje berbentuk segi empat, dengan pintu masuk utama (gerbang) pada bagian timur dengan ornament khas Belanda; dikelilingi parit dan dinding tebal dari batu karang,batu bata dan batu kali, dengan ketinggian dinding mencapai +/- 4 m. Beberapa dinding memiliki ruang di dalamnya. Pada dinding bagian dalam masih tersisa prasasti yangberisikan tentang pesan-pesan kedamaian dan kesehatan. Di dalam benteng terdapat asrama militer, rumah sakit, gudang,rumah kediaman Gubernur Belanda, makam, beberapa bangunan sipil serta peralatan militer. Bangunan-bangunan tersebut berdiri kokoh dengan gaya arsitektur indis.

Dibagian barat/belakang benteng, terdapat lapangan bernama Oranjeveld yang dipakai oleh Belanda untuk rekreasi, karena dari lapangan ini terlihat gunung Tidore dan dapat menyaksikan serdadu latihan baris-berbaris. Saat ini , lapangan tersebut sudah beralih fungsi menjadi lapangan olahraga dan taman kota (Sunyie Parada)

Oranje Kini

Oranje sebagai saksi bisu masa kejayaan VOC di Hindia Timur, saat ini hanyalah sisa-sisa saja. Meskipun beberapa bagian telah direstorasi. Kondisi benteng saat ini cukup memprihatinkan. Meriam VOC masih dapat dijumpai di sudut-sudut dan pintu masuk, sementara ada beberapa sudut benteng (bastian) yang tanpa meriam. Ruang-ruang di lantai dasar di dalam  benteng dengan kondisi rusak. Banyak bangunan baru yang muncul didalam benteng karena pemanfaatannya saat ini untuk asrama TNI AD dan Kepolisian, juga dibangun rumah ibadah dan perkantoran, mengurangi keaslian kawasan yang telah ada. Termasuk pemugaran (tahun 2008) bangunan kediaman Gubernur Jenderal Belanda yang menghilangkan bentuk aslinya, seperti menghilangkan bukaan pada atap. Gedung ini sekarang menjadi kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate. Pemugaran yang dilakukan pada 2008 juga telah menghilangkan keaslian pada dinding benteng, karena dinding sudah diberi plesteran semen biasa, menutup susunan batu sebagai dinding asli. Juga disertai sejumlah penambahan lantai pada ruang dalam benteng dengan desain yang tidak kuat dasar penelitiannya (Prinsip-prinsip pelestarian benda cagar budaya).

Pada dinding-dinding luar benteng bagian selatan, tepatnya di jalur parit benteng telah dipenuhi rumah kontrakan semi permanen tempat tinggal para pedagang kaki lima (PKL), sementara bagian depan (timur) dipenuhi kios-kios PKL, kantor Koramil kota dan beberapa rumah dinas TNI AD.

Benteng Oranje yang berada di pusat Kota Ternate (Kota kepulauan, terdiri atas 8 pulau kecil, 3 diantaranya tidak berpenghuni), menjadi kawasan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat umum jika ditata dan dikelola dengan baik, seperti memanfaatkannya sebagai ruang terbuka publik, ruang ekspresi warga kota melalui beragam kegiatan serta sebagai museum atau tempat belajar yang rekreatif dan menikmati warisan budaya.

Tampak depan benteng Oranje, berhimpitan dengan bangunan baru.

Suasana di dalam Benteng Oranje, sesudah pemugaran oleh pemerintah pada 2008. Tampak masyarakat yang sedang memanfaatkan ruang terbuka sebagai tempat berolahraga (Latar Belakang : Gunung Gamalama). 

Rumah Gubernur Jenderal Hindia Belanda setelah dipugar oleh Pemerintah (2008), menghilangkan keaslian bangunan (bukaan pada atap dihilangkan)

Dinding (dalam) Oranje yang sudah diberi plesteran semen, menghilangkan keaslian, ditambah dengan pemasangan mesin pendingin udara (AC

Prasasti pada dinding dalam Oranje yang menceritakan tentang kehidupan Penghuni Benteng

Tulisan “VOC” pada meriam-meriam di benteng Oranje.

Sisi Selatan Oranje, dipadati rumah-rumah semi permanen

Permasalahan kawasan benteng Oranje akan dapat diselesaikan jika semua pihak  (Pemerintah-swasta-masyarakat) mau bekerjasama, dilandasi semangat kebersamaan dan pelestarian kawasan/benda cagar budaya yang tepat dan bermanfaat, baik dari segi arsitektur dan lingkungan binaan, fungsi kawasan, pariwisata, perekonomian, pendidikan, seni dan budaya.

Revitalisasi Kawasan Benteng Oranje menjadi pilihan yang tepat, tetapi haruslah dipahami secara utuh sebagai upaya untuk meningkatkan nilai kawasan dari segi Ekonomi, Sosial dan Budaya, bukan hanya memperindah fisik -atau malah merusak keasliannya-, seperti yang terjadi pada pemugaran Oranje pada 2008 lalu-. Kegiatan Revitalisasi haruslah berkesinambungan dan berkelanjutan, melibatkan banyak pihak sesuai kepentingan dan keahlian masing-masing, dengan satu Otoritas kepemimpinan yang betul2 jujur, cerdas, amanah dan kuat.

Oranje sebagai salah satu Pusaka (tangible heritage) Ternate akan terus berkembang seiring perkembangan kota Ternate, sebagai kota dengan berbagai suku dan ras, di pulau gunung api aktif yang memiliki karakter khas, yang semakin pesat pembangunannya. Saksi bisu tanah asal rempah-rempah akan tetap menanti untuk diselamatkan.

 

Comments are closed.