Agus S. Ekomadyo, Dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung. E-mail: agus_ekomadyo(at)yahoo.co.id; ekomadyo(at)ar.itb.ac.id

Pilkada DKI 2012 secara hitung cepat telah memenangkan Cagub Jokowi. Banyak pengamat yang menyebutkan, bahwa pertarungan Jokowi dan Fauzi Bowo adalah pertarungan simbolis. Secara kapasitas, mereka berdua adalah yang pantas memimpin DKI. Tetapi oleh publik, Jokowi dianggap mewakili gagasan perubahan, sementara Fauzi Bowo dianggap sosok yang mampu menjaga kepentingan-kepentingan para pelaku pembangunan yang ada di Jakarta saat ini. Ketika Jokowi memang, maka timbul harapan akan perubahan. Pertanyaannya, perubahan seperti apa?

Perubahan yang akan dibawa Jokowi dapat dibaca dari karakter kepimpinannya saat menjadi walikota Solo. Kebetulan penulis mempunyai kesempatan untuk berbincang dengan beberapa elemen masyarakat kota Solo – birokrat, tokoh masyarakat, mahasiswa, pedagang pasar, dan sopir taksi- tentang kepemimpinan Jokowi. Ternyata mereka fasih menceritakan bagaimana cara Jokowi membangun dan mengelola kota. Bisa disimpulkan, gagasan Jokowi ternyata mampu dipahami oleh kebanyakan masyarakat Solo. Berarti, ada ideologi yang mendasari Jokowi saat ia bertindak, ideologi yang menyatukannya dengan masyarakat Solo.

Secara ringkas, penulis menyimpulkan ada 3 karakter ideologis dalam kepemimpinan Jokowi: kepedulian, dialog, dan keteladanan. Karakter kepedulian misalnya terlihat bagaimana Jokowi membangun pasar tradisional di Solo. Berdasarkan informasi dari pengelola pasar, Jokowi memang walikota yang benar-benar peduli pasar tradisional, berbeda dengan walikota-walikota sebelumnya. Karakter dialog terlihat saat Jokowi berhasil membuat PKL secara sukarela berpindah dari taman kota ke pasar Klithikan, melalui dialog legendaris sebanyak 30 kali. Dari berbagai dialog dengan masyarakat, dikabarkan Jokowi tidak banyak berbicara, tetapi lebih banyak mendengar. Keteladanan terlihat bagaimana Jokowi menginspirasi tokoh-tokoh masyarakat dan komunitas untuk membuat berbagai kegiatan yang menghidupkan kota Solo. Salah seorang tokoh seniman yang sempat ditemui penulis menuturkan, interaksinya dengan Jokowi mendorongnya berkomitmen untuk mendorong seni pertunjukan di kota Solo hingga ke taraf internasional.

Apakah 3 paradigma tersebut – kepedulian, dialog, keteladanan – akan mewarnai era Jokowi saat memimpin Jakarta? Sebagian dari kita masih memilih sikap wait and see, karena politik di Indonesia yang sangat dinamis memungkinkan apa saja bisa terjadi. Sebagian lagi menaruh harapan ini akan membawa perubahan signifikan pada pemilihan pimpinan nasional tahun 2014. Penulis sendiri menaruh harapan, bola salju ini akan membesar dan mempengaruhi paradigma pembangunan di Indonesia. Paradigma pembangunan yang semula pada berorientasi pada pimpinan (leader-oriented), yang sangat kuat dijalankan di Era Presiden Soekarno dan Soeherto di masa lalu, menjadi peradigma yang lebih berorientasi kepada komunitas (community-oriented). Komunitas yang menentukan tujuan pembangunan, sedangkan pemimpin lebih bersifat melayani dan mengarahkan. Paradigma ini akan membawa proses pembangunan yang lebih bersifat parsitipatif, inklusif, dan memberdayakan.

Paradigma pembangunan yang digunakan pada suatu masyarakat akan mempengaruhi pengetahuan mengenai lingkungan binaan yang terbangun. Misalnya, paradigma modernisasi yang di masa Orde Baru yang dialihbahasakan menjadi pembangunan nasional. Paradigma ini menyebutkan bahwa negara berkembang perlu melalui beberapa tahap untuk tinggal landas menjadi negara maju. Paradigma ini mengakibatkan keharusan negara berkembang untuk mencontoh proses pembangunan yang berlangsung di negara maju. Negara maju adalah benchmark, dan negara berkembang harus mengikutinya.

Paradigma dikotomi antara negara maju dan negara berkembang secara tidak langsung mempengaruhi pendidikan tentang lingkungan binaan. Di lingkungan pendidikan arsitektur, misalnya, pada tahun 1970-an terjadi pengiriman besar-besaran staf pengajar ke negara maju (terutama Amerika). Dan saat mereka pulang, mahasiswa diajarkan mengenai lingkungan binaan yang dianggap baik, dengan referensi lingkungan yang telah terbangun di negara maju. Referensi dan standar-standar perancangan banyak berasal dari negara maju (sekali lagi, terutama Amerika), dan mahasiswa diminta mengikutinya dalam tugas-tugas perancangan.

Ketika membangun dan mengelola kota Solo, Jokowi juga belajar dari negara lain, tetapi ia lebih berorientasi pada permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Ini bisa menjelaskan, mengapa banyak komunitas Solo yang mendukung program sang pemimpin, karena program tersebut benar-benar menyentuh permasalahan nyata dan bukan sesuatu yang mengawang-awang. Komunitas-komunitas ini bahkan berperan besar dalam membangun beberapa bagian kota Solo, termasuk event berskala internasional. Solo di masa Jokowi telah membuat orang-orang ke negara maju datang dan belajar mengenai pembangunan di negara berkembang.

Jika di masa depan pemimpin Indonesia banyak berkarakter seperti Jokowi, maka mereka akan lebih banyak mendalami permasalahan nyata di masyarakat. Kompleksitas permasalahan menjadikan para pemimpin tersebut tidak bisa bekerja sendirian. Ia perlu didukung oleh aparatnya dan elemen masyarakat. Di sinilah dibutuhkan pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan masyarakat, yang memandu para pemimpin, aparat pemerintah, dan elemen masyarakat untuk bekerja secara sinergis.

Siapa yang menyediakan pengetahuan tersebut? Tugas tersebut menjadi amanah para peneliti. Peneliti yang punya kepedulian yang kuat terhadap permasalahan nyata di masyarakat. Dengan tingkat pendidikan dan kemampuan metodologisnya yang memadai, para peneliti lebih bisa memetakan permasalahan masyarakat secara lebih terstruktur. Dengan pengetahuan yang terstruktur, pemimpin bisa cepat dan tepat mengambil keputusan.

Fenomena Jokowi memberikan harapan akan hadirnya para peneliti lingkungan binaan yang peduli terhadap permasalahn yang ada di masyarakat. Pandangan bahwa kaum akademisi harus menjadi menara gading dan perlu menjaga jarak dengan masyarakat justru akan mengurangi nilai kemanfaatan dari pengetahuan yang dimiliki akademisi. Semoga pandangan tentang kesatuan antara peneliti dan masyarakat akan mewarnai gagasan-gagasan mengenai penelitian lingkungan binaan di Indonesia sekarang dan masa depan.

 

Comments are closed.