Hanson E. Kusuma. Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB. Email hekusuma(at)gmail.com.

PENELITIAN

Enam sekuens kegiatan dalam penelitian, mengadopsi Creswell (2011): (1) identifikasi persoalan, (2) kajian pustaka, (3) spesifikasi tujuan penelitian, (4)pengumpulan data, (5) analisis data dan (6) laporan dan evaluasi penelitian. Enam tahapan tersebut dalam pelaksanaan penelitian dikerjakan secara berurutan, tidak dapat dibalik. Kajian pustaka harus dikerjakan sebelum tujuan penelitian diputuskan. Kajian pustaka yang komprehensif, akan membantu pengambilan keputusan tujuan penelitian yang tepat, menghindari pengulangan penelitian yang telah dikerjakan oleh orang lain, menjamin kebaruan temuan penelitian dan menjamin kontribusi penelitian pada pengembangan ilmu pengetahuan atau pemahaman terhadap permasalahan yang sedang dihadapi.

Tujuan penelitian menggambarkan penelitian yang akan dikerjakan bersifat deskriptif (naratif, fenomenologi, etnografi), eksploratif (grounded-theory, studi-kasus) atau eksplanatori (korelasional, kuasi eksperimental, eksperimental), (Creswell, 2007, Groat & Wang, 2002). Rumusan dari tujuan penelitian, memiliki implikasi langsung pada metode pengumpulan data, apakah akan bersifat open-ended atau close-ended, kualitatif atau kuantitatif. Rumusan tujuan, jika tujuan dirumuskan dengan baik, juga secara implisit menggambarkan pengetahuan yang akan diungkap atau teori yang akan disusun, yang strukturnya tergantung pada metode analisis yang digunakan1. Sehingga, secara praktis dapat dipahami bahwa tujuan, pengumpulan data dan analisis data merupakan tahapan yang berurutan yang sekuensnya tidak dapat ditukar-tempat.

Tahapan terakhir dari penelitian, yang juga merupakan maksud penelitian dikerjakan adalah mendapatkan pengetahuan baru2. Penelitian akan sia-sia jika setelah rangkaian kegiatan yang dikerjakan, tidak didapatkan pengetahuan baru yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan atau secara langsung meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan lokal yang ada di lingkungan sekitar. Mendapatkan pengetahuan baru merupakan klimaks, dari enam tahapan kegiatan penelitian yang sekuens-nya berurutan.

Ketiadaan salah satu dari enam kegiatan yang tersebut di atas, akan membuat rangkaian kegiatan yang terjadi tidak dapat disebut penelitian. Penelitian selalu ditandai dengan keberadaan persoalan yang spesifik. Tanpa kajian pustaka penelitian akan tidak berarti. Tanpa tujuan, apa yang dicapai tidak akan jelas dan kontribusi pada pengetahuan akan kabur. Bukan penelitian jika rangkaian kegiatan dikerjakan tanpa pengumpulan data. Data yang terkumpul akan percuma tanpa dianalisis. Tanpa analisis pengetahuan baru tidak akan didapatkan, yang didapatkan mungkin hanyalah opini pribadi. Yang terakhir, penelitian hanya dikatakan berhasil jika diperoleh pengetahuan baru3.

CIRI-KHAS PENELITIAN

Penelitian dikerjakan untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang persoalan tertentu yang spesifik. Satu penelitian tertentu tidak mungkin dapat mengungkap segala macam pengetahuan secara utuh tentang permasalahan atau persoalan tertentu yang sedang dihadapi. Pengetahuan yang utuh hanya dapat diperoleh melalui rangkaian kegiatan penelitian yang dikerjakan oleh peneliti tertentu secara berkelanjutan atau oleh komunitas pengembangan keilmuan secara kolektif (banyak orang tanpa kesepakatan formal) atau kolaboratif (bersama-sama dengan kesepakatan formal).

Di antara sekian banyak persoalan di dalam perencanaan ataupun perancangan arsitektur, penelitian memperdalam dan mengembangkan pemahaman terhadap permasalahan spesifik dari persoalan tertentu. Penelitian tentang persoalan kekuatan struktur misalnya dapat fokus hanya pada permasalahan kekuatan bambu sebagai material batang tarik, tidak membahas permasalahan yang lain. Penelitian tentang tempat favorit, misalnya dapat  fokus hanya pada pilihan tempat favorit dewasa muda, karakteristik fisik tempat dan kegiatan-kegiatan yang terjadi dan tidak memperhatikan misalnya persoalan keselamatan, keamanan, keberlanjutan dll dari tempat favorit, meskipun persoalan-persoalan tersebut juga merupakan persoalan penting lain di dalam ranah pengetahuan arsitektur. Penelitian fokus pada usaha untuk memahami karakteristik/pattern (dibantu analisis) dari komponen tertentu dari pengetahuan arsitektur.

PERANCANGAN

Enam sekuens tahapan kegiatan perancangan, mengadopsi dari Duerk (1993): (1)identifikasi fakta, (2)memilih persoalan prioritas, (3)memutuskan tujuan, (4)menetapkan kriteria, (5)memilih konsep dan (6)presentasi. Sewajarnya fakta (tapak, konteks dan pengguna) diidentifikasi dan dipahami dengan baik, di awal rangkaian kegiatan perancangan. Karya perancangan selalu berada di tapak4 yang memiliki karakteristik yang khas, dikelilingi konteks5 yang khas dan pengguna6 yang mungkin juga sangat berbeda dengan karya perancangan lainnya. Perancangan tidak mungkin dimulai tanpa memahami ‘lokalitas’ fakta perancangan. Karena itu, identifikasi fakta merupakan kegiatan pertama yang seharusnya dikerjakan oleh arsitek sebelum mulai berimajinasi ruang dan bentuk yang akan dirancang.

Di antara beragam fakta tapak, konteks dan pengguna, sebagian dapat diperhatikan lebih cermat, mengikuti persoalan (issue)7 yang diprioritaskan dalam perancangan. Jika persoalan hemat energi menjadi prioritas, mungkin fakta koordinat lintang bujur dan iklim tapak perlu didata lebih cermat. Jika persoalan keselarasan dengan lingkungan permukiman sekitar diprioritaskan, maka langgam bangunan sekitar diamati, datanya dikumpulkan, misalnya menggunakan metode instrumented observation, dan dianalisis dengan teliti, misalnya menggunakan content analysis (Krippendorff, 2004). Persoalan prioritas dapat dipilih sebelum, bersamaan ataupun sesudah identifikasi fakta, dan dapat dipilih sebelum atau bersamaan dengan dengan pengambilan keputusan tujuan (hasil akhir ideal yang ingin dicapai) perancangan.

Kriteria merupakan standar yang digunakan untuk menilai ketercapaian tujuan perancangan. Jika tujuan yang ingin dicapai keselarasan dengan lingkungan permukiman sekitar, maka kriterianya misalnya, tingkat kemiripan langgam kulit bangunan, kemiripan dimensi atau proporsi bangunan, kemiripan konfigurasi ruang, dll. Kriteria ditetapkan setelah tujuan diputuskan. Selanjutnya pada setiap kriteria perancangan, dapat dipilih beberapa konsep perancangan (cara arsitektural untuk mencapai tujuan dan memenuhi kriteria perancangan). Misalnya untuk memenuhi kriteria kemiripan langgam kulit bangunan, dipilih konsep langgam dinding yang memiliki tipologi bentuk yang mirip dengan bangunan di lingkungan sekitar tetapi menggunakan warna analogic (warna-warna yang berdekatan), dan bentuk, dimensi, proporsi bukaan yang sama persis tetapi dengan warna komplementer (posisi pada diagram warna berlawanan). Konsep perancangan mengikuti kriteria, dan kriteria ditetapkan berdasarkan tujuan.

Sekuens tujuan, kriteria dan konsep tidak dapat ditukar-tempat. Seharusnya tujuan tidak dicari-cari atau dipas-paskan dengan konsep yang terbayangkan sejak awal. Seandainya konsep datang lebih dulu daripada tujuan dan kriteria, kemungkinan sang arsitek ‘nyontek’ solusi desain yang telah dirancang oleh orang lain, hanya copy-paste yang pernah dilihat di media atau di lapangan. Arsitek peniru yang seperti ini tidak akan menjadi arsitek besar. Seandainya tujuan lebih dulu diputuskan, lalu kriteria dirumuskan, dan kemudian konsep dipikirkan, mungkin konsep-konsep yang tak terbayangkan sebelumnya akan bermunculan, karena kemunculan konsep dipandu oleh tujuan dan kriteria bukan oleh imajinasi hasil melihat karya orang lain.

Enam tahapan kegiatan perancangan seperti di atas sangat masuk akal dan mudah untuk dipahami. Enam tahapan tersebut mengorganisasikan dan menata kegiatan perancangan mengikuti sekuens waktu. Yang lebih dulu dan menjadi sebab didahulukan. Yang datang kemudian dan menjadi akibat dikerjakan kemudian. Hubungan sebab-akibat antar kegiatan tertata dengan benar. Penataan seperti ini, dapat diperkirakan akan menghasilkan proses perancangan yang efisien (hemat waktu, tenaga dan biaya) dan efekftif (memberikan hasil seperti klien puas, reputasi baik, bagi mahasiswa lulus tugas akhir dst).

CIRI-KHAS PERANCANGAN

Perancangan dikerjakan untuk mendapatkan perwujudan karya arsitektur dalam berbagai skala, seperti bangunan, lanskap, kota, kawasan dst. Di dalam perancangan, tapak dan konteks direspon, kebutuhan pengguna diwadahi, komponen yang tangible (atap, dinding, lantai, kolom, pondasi dll) dan yang untangible (ruang)  dirangkai menjadi satu. Perancangan merupakan kegiatan merangkai berbagai macam komponen pengetahuan/persoalan menjadi satu keutuhan. Karena itu, perancangan disebut juga sebagai kegiatan sintesis (merangkai).

PENELITIAN VS PERANCANGAN

Penelitian merupakan kegiatan pengembangan pengetahuan tentang persoalan spesifik tertentu. Fenomena tertentu diurai menjadi persoalan-persoalan kecil, karakteristik persoalan tersebut diidentifikasi, ciri-khas yang dimiliki dan pattern (ilmu) yang tersembunyi di dalamnya diungkap menggunakan metode-metode analisis. Analisis (mengurai) merupakan core kegiatan penelitian. Sebaliknya, perancangan merupakan kegiatan merangkai berbagai persoalan menjadi satu kesatuan yang utuh. Berbagai persoalan dipahami dan dirangkai menjadi satu kesatuan ruang dan bentuk. Sintesis (merangkai) merupakan core kegiatan perancangan.

Kegiatan penelitian dan perancangan memiliki karakter yang berbeda. Penelitian berusaha memahami persoalan tertentu, perancangan menerapkan pemahaman semua persoalan, yang terkait perancangan. Penelitian cenderung bersifat dekomposisi, konvergen, fokus, rasional dan ilmiah, sehingga prosedur pengerjaannya harus benar (valid) dan dapat dipercaya (reliable). Perancangan cenderung bersifat rekomposisi, divergen, keutuhan, intuitif dan tidak harus ilmiah, sehingga prosedur pengerjaannya tidak baku dan tidak harus (tidak perlu) valid. Akurasi analisis sangat penting dalam penelitian. Kreativitas sintesis sangat penting dalam perancangan, karena alternatif dan variasi kemungkinan kombinasi/rangkaian berbagai persoalan tidak terbatas (infinite).

JURNAL PENELITIAN DAN PERANCANGAN

Artikel dalam jurnal penelitian disusun mengikuti tahapan kegiatan penelitian, diawali dengan (1)latar belakang persoalan, (2)pemetaan persoalan di dalam kajian pustaka, (3)pernyataan permasalahan/tujuan, diikuti dengan penjelasan tentang (4) metode pengumpulan data dan (5) analisis data, diakhiri dengan (6) interpretasi dan diskusi yang merupakan ramuan dari hasil analisis, teori dan pemikiran peneliti. Urutan pembahasan dalam artikel  jurnal penelitian sangat tegas sesuai dengan karakter dari penelitian.

Mengikuti pola dari jurnal penelitian, artikel dalam jurnal perancangan juga dapat disusun mengikuti tahapan kegiatan perancangan, diawali dengan  (1)deskripsi fakta-fakta penting terkait persoalan prioritas, (2)pemetaan persoalan prioritas, (3)pernyataan tujuan perancangan, diikuti dengan (4)penjelasan kriteria perancangan, dan diakhiri dengan (5)konsep-konsep perancangan yang dipilih, yang dapat juga disertai dengan kajian pustaka yang menjadi dasar (reasoning)9 penetapan kriteria dan pemilihan konsep perancangan.

Tetapi, kreativitas sintesis sangat penting dalam perancangan, sehingga urutan penulisan artikel jurnal perancangan tidak harus baku seperti tertulis di atas. Sekuens penulisan artikel jurnal perancangan dapat disusun mengikuti sekuens kegiatan perancangan yang dikerjakan oleh arsitek. Sekuens seperti di atas hanyalah salah satu kemungkinan sekuens yang mudah diterima akal sehat, yang mungkin bermanfaat, dapat digunakan sebagai entry dan mudah untuk disampaikan ke dan diterima oleh calon arsitek yang sedang belajar. Prinsip yang dapat diterapkan dalam penulisan artikel jurnal, baik jurnal penelitian atau perancangan adalah sekuens penulisan mengikuti sekuens kegiatannya.

Jurnal digunakan sebagai media komunikasi dan akumulasi pengetahuan. Jurnal penelitian digunakan sebagai media komunikasi dan akumulasi pengetahuan spesifik (persoalan tertentu). Jurnal perancangan digunakan untuk media komunikasi dan akumulasi pengetahuan proses perancangan dan kemungkinan-kemungkinan sintesis berbagai persoalan, yang jumlahnya tidak terbatas (?).

1) Teori merupakan penjelasan terstruktur dari fenomena. Penjelasan dikatakan terstruktur apabila hubungan antar faktor jelas, apakah berupa hubungan korespondensial (coincidence), korelasional, kausal (sebab-akibat, langsung ataupun tidak langsung), persamaan, kemiripan, perbedaan, pengelompokan dll yang dapat diungkap menggunakan metode analisis data seperti analisis koresponden, analisis korelasi, analisis regresi, structural equation modeling, anova, manova, analisis klaster, analisis komponen prinsip, analisis faktor dll.
2) Pada tahapan penelitian yang dijelaskan oleh Creswell (2011), pengetahuan baru yang diperoleh melalui interpretasi (interpretasi = hasil analisis + teori + pemikiran) berada dalam tahap ke 6, laporan dan evaluasi penelitian.
3) Pengetahuan dikatakan baru apabila berbeda dengan yang lama. Yang lama hanya dapat dipahami melalui kajian pustaka. Karena itu kajian pustaka merupakan kegiatan yang esensial dalam penelitian.
4) Tapak, memiliki karaktersitik yang umumnya tangible, seperti dimensi, topografi, geologi, hidrologi, kebisingan, aroma, flora-fauna, kepadatan tanah, utilitas, pemandangan ke dalam dan keluar tapak, posisi terhadap matahari, arah dan kecepatan angin, arah mata angin dll, yang spesifik tergantung pada lokasi tapak.
5) Konteks, memiliki karakteristik yang umumnya untangible, seperti kondisi demografi (komposisi usia, pendapatan, pendidikan, suku, dll), budaya (langgam bangunan di sekitar tapak, kebiasaan penduduk meluangkan waktu di sore hari, tradisi tahunan, kebiasaan buang sampah dll), kondisi ekonomi (tingkat ekonomi masyarakat, kegiatan mata pencaharian, dll), kondisi sosial (pola interaksi dan komunikasi antar anggota masyarakat di lingkungan sekitar, hirarki dan hubungan antar orang, dll), kesejarahan lokasi, etika masyarakat dll.
6) Pengguna, memiliki keinginan, kebutuhan, kebiasaan, nilai (value= pemikiran/rasa tentang apa yang penting/tidak penting), tujuan yang ingin dicapai, preferensi, kegiatan dll yang diwadahi dalam perancangan.
7) Yang dimaksud dengan persoalan/issue perancangan adalah segala macam topik atau hal-hal yang harus dipikirkan atau direspon di dalam perancangan, misalnya kenyamanan, keamanan, keselamatan, kekuatan, ketangguhan, citra (identitas, keindahan, status, hirarki, pesan dll), mood (respon emosional, suasana hati, sikap), respon kognitif, fungsi, dampak lingkungan, keberlanjutan, energi, orientasi, interaksi, privasi, teritori, dll.
8) Content analysis (analisis isi), dapat digunakan untuk menganalisis data teks ataupun objek. Langkah analisis data objek: mengurai objek menjadi komponen penyusun, identifikasi ciri-khas komponen, pengkategorian ciri-khas dan pemberian nama.
9) Pada penelitian, kajian pustaka digunakan untuk memetakan pengetahuan yang telah berkembang, mempertajam tujuan penelitian dan menjamin kebaruan penelitian. Pada perancangan, kajian pustaka digunakan sebagai sumber ‘ilmu’ (reasoning) yang diterapkan dalam menyusun kriteria dan konsep perancangan tertentu. Misalnya, karya perancangan yang menggunakan ilmu hasil penelitian struktur, akan lebih tangguh daripada yang strukturnya hanya ‘dikira-kira’ secara intuitif oleh arsitek.

PUSTAKA
1. Creswell, J.W. (2011). Educational Research, Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Boston: Pearson Education Inc.
2. Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design Choosing among Five Approaches, 2nd edition. Thousand Oaks: Sage Publications Inc.
3. Duerk, D.P. (1993). Architectural Programming, Information Management for Design. New York: Van Nostrand Reinhold.
4. Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley& Sons. Inc.
5. Krippendorff, K.H. (2004). Content Analysis: And Introduction to Its Methodology. Thousand Oaks: Sage Publications, Inc

CATATAN
Artikel ini merupakan hand-out yang dibagikan pada acara Workshop Metode Pembimbingan Penyusunan Karya Ilmiah Mahasiswa bagi Dosen Pembimbing Tugas Akhir, yang diselenggarakan di Program Studi Arsitektur, Universitas Pancasila, Jakarta, pada tanggal 28 Maret 2013. Artikel disusun untuk melengkapi materi presentasi yang berjudul Penelitian versus Perancangan.

 

Comments are closed.