Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 164

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 167

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 170

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 173

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 176

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 178

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 180

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 202

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 206

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 224

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 225

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 227

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 321

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 321

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 321

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/includes/class.layout.php on line 321

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 56

Warning: Creating default object from empty value in /home/iplbiori/public_html/wp-content/themes/platformpro/admin/class.options.metapanel.php on line 49
Trowulan sebagai Kawasan Wisata Budaya Majapahit | IPLBI

Tjahja Tribinuka. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS. E-mail tribinuka(at)ymail.com

Kecamatan Trowulan adalah salah satu daerah di wilayah Mojokerto Jawa Timur yang sudah sejak tahun 1900an menjadi obyek penelitian bagi eksistensi kerajaan Majapahit. Di kawasan tersebut ditemukan banyak situs dan artefak-artefak yang dapat menunjukkan sejarah dan kehidupan bermasyarakat dari kerajaan kuno masa lalu. Sebagian situs bersejarah tersebut terdiri dari waduk besar berukuran 175 meter X 375 meter yang bernama kolam segaran, saluran irigasi berupa kanal-kanal yang lebarnya 5 sampai 20 meter dengan kedalaman 4 meter, landasan permukiman yang menunjukkan bentuk rumah Majapahit, candi persembahyangan dengan tinggi sampai 10 meter, petirtaan dan pintu gerbang dengan ukuran landasan 4 meter X 6 meter dan tingginya mencapai 12 meter, dilengkapi dengan bekas dinding di kiri dan kanannya yang tebalnya 80 cm dan tingginya 6 meter. Struktur-struktur raksasa dengan teknologi maju seperti ini merupakan bukti kebesaran sebuah tata sistem pemerintahan yang makmur.

04-1

Gambar 1. Kolam segaran adalah sarana irigasi yang berfungsi menampung air limbah rumah tangga yang dibersihkan dan dikelola untuk mengairi persawahan

Copy of P1000620

Gambar 2. Candi Gapura Wringin Lawang adalah pintu gerbang luar yang berukuran raksasa dengan tinggi 12 meter untuk menuju ke tempat persembahyangan

candi_bajangratu

Gambar 3. Candi Gapura Bajang Ratu adalah pintu gerbang dalam yang berukuran raksasa dengan tinggi 11 meter untuk menuju ke tempat persembahyangan

Dalam sejarah perkembangan kawasan Trowulan sampai dengan saat ini, telah terjadi berbagai hal yang cukup penting. Pada tahun 1815, kawasan trowulan mulai diteliti oleh Wardenaar atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Sir Thomas Samford Raffles. Pada Tahun 1930-an kawasan ini diteliti oleh Henry Mc Laine Pont hingga menghasilkan reka pemetaan wilayah kerajaan Majapahit bersama dengan Bupati Mojokerto pada saat itu. Sampai dengan saat ini wilayah Trowulan menjadi ajang penelitian arkeologi bagi institusi-nstitusi penting seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM). Di sisi lain, ketika wilayah ini sudah tidak dipergunakan sebagai kota kerajaan, maka masyarakat menempatinya sebagai area permukiman. Kualitas tanah liat yang bagus dan jumlahnya melimpah di Trowulan menyebabkan masyarakat menggunakannya untuk memproduksi batu bata. Perkembangan terakhir beberapa masyarakat yang berjiwa seni memanfaatkannya untuk produk kerajinan terakota seperti gerabah, celengan, patung dan lain-lain.

Seni dan kerajinan di wilayah Trowulan semakin berkembang dengan munculnya para pematung batu dan logam. Hasil karya mereka didukung oleh pembelian para turis yang berkunjung ke lokasi candi-candi Majapahit sehingga gaya yang dimunculkan juga bentuk-bentuk arca dan artefak lain pada masa kuno di Jawa. Gaya tersebut semakin berkembang dengan pesanan bentuk patung dari berbagai daerah karena kualitas yang bagus dari hasil karya penduduk trowulan. Tahun demi tahun yang dijalani para seniman dan berjalan secara turun temurun untuk menghasilkan  karya patung dan gerabah membuat pembelajaran yang baik bagi peningkatan kualitas benda-benda yang dijual. Saat ini penduduk trowulan telah terkenal sebagai pematung yang handal yang setara dengan penduduk di wilayah Muntilan, Jogjakarta.

5

Gambar 4. Hasil karya Patung dari masyarakat Trowulan

Dengan adanya kehidupan masyarakat pematung dan pembuat gerabah di Trowulan, maka pariwisata di kawasan ini pun menjadi lebih lengkap. Turis ysnag datang selain mengunjungi situs bersejarah juga bisa membeli oleh-oleh berupa patung dan berbagai kerajinan yang lain. Bahkan tak jarang karena kualitas hasil kerajinan masyarakat trowulan ini maka mereka bisa mendapat pesanan pembuatan patung atau gerabah untuk diletakkan di hotel atau restoran, baik di pulau Jawa, maupun di luar pulau dan bahkan sampai luar negeri. Kegairahan di dalam masyarakat yang telah membentuk image kawasan dari perpaduan antara situs bersejarah dengan produk budaya masyarakat ini perlu dikembangkan untuk bisa bertahan dan bahkan menjadi semakin ramai.

Kesejahteraan masyarakat trowulan dari hasil kerajinan patung dan gerabah telah dapat dinikmati sebagai hasil yang membuat kehidupan bermasyarakat menjadi baik. Pengetahuan terhadap pakem arca kuno telah menjadi perbincangan umum di dalam masyarakat Trowulan. Berbagai teknik pahat batu, cor logam maupun pembakaran bata juga sudah menjadi wacana sehari-hari yang diketahui masyarakat. Dalam pertimbangan image kawasan seperti ini maka selayaknya tata guna lahan di kawasan trowulan juga perlu ditetapkan agar tidak merubah kualitas kawasan. Pembangunan berbagai fasilitas sudah selayaknya diarahkan pada satu tujuan yaitu wisata budaya. Fasilitas seperti rumah makan dan hotel dapat disediakan sebatas tidak mencemari eksistensi dari situs-situs bersejarah di Trowulan. Pembangunan fasilitas yang mengundang keramaian dan kebisingan seperti pabrik, pusat perbelanjaan dan sejenisnya perlu dihindari karena dapat merusak image kawasan sebagai area wisata budaya.

 

Comments are closed.