Arsitektur Difabel dan Belajar Place-Making bersama Penyandang Disabilitas

by

Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, ekomadyo(at)itb.ac.id

Download pdf: Ekomadyo (2017) – Arsitektur Difabel dan Place Making

Kata “difabel” diserap dari bahasa Inggris “diffable”, yang merupakan akronim dari “people with different ability”, atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “orang dengan kemampuan yang berbeda”. Istilah ini dibuat tentu bukan sekadar penghalusan dari “orang cacat”, atau dalam bahasa Inggris disebut “disabled person”, tetapi sebuah ungkapan penghargaan terhadap orang-orang yang diberi keterbatasan fisik permanen dibanding dengan orang-orang kebanyakan. Maka dalam dunia arsitektur pun dikenal dengan arsitektur yang ramah difabel, melalui desain dan penyediaan fasilitas yang memungkinkan kalangan difabel juga bisa menggunakan bangunan seperti orang pada umumnya.

Namun penggunaan istilah “difabel” ini justru diprotes oleh kawan saya yang justru seorang penyandang disabilitas. Alih-alih menghormati, istilah ini justru “memanjakan” mereka. “Different ability, memang orang normal juga tidak punya kemampuan yang berbeda?”, ujarnya. Penggunaan jargon-jargon ini justru membuat mereka selalu dalam zone nyaman untuk mendapatkan belas kasihan karena keterbatasan yang dimiliki. Kawan saya ini lebih menyebut dirinya dan teman-teman komunitasnya sebagai penyandang disabilitas. Lebih apa adanya.

Kawan saya ini namanya Basuki, memang memilih jalur perjuangan hidupnya untuk mengajak teman-teman penyandang disabilitas menjadi “warga terhormat”. Terhormat bukan karena mendapatkan belas kasihan, tetapi bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat sebagaimana warga lainnya. Aktivitasnya ternaung dalam Yayasan Sahabat Mata, dengan banyak aktivitas yang bisa dlihat di (http://www.sahabatmata.com/about.html). Kawan saya ini memang dulunya aktivitas, sebelum menjadi tunanetra. Kegagalan operasi mata menyebabkan tidak lagi berfungsinya organ penglihatan. Ketika tiba-tiba buta, dunia terasa gelap (ya iya, lah…) bagi Basuki, termasuk masa depannya. Dalam keterpurukan di awal-awal kebutaan itu, ia ditemani oleh radio. Hingga akhirnya ia mendapat pencerahan, bahwa radio sebagai benda mati saja bisa memberi manfaat, apalagi orang buta karena ia manusia. Perjuangan mengalahkan keterbatasan diri untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain ternyata mampu memberi inspirasi bagi tunanetra lainnya. Lewat radio komunitas Sama FM, para tuna netra ini membangun saluran komunikasi dan jejaring untuk bisa memberikan kontribusi sebagaimana warga masyarakat pada umumnya. Saya sering bercanda, kalau Basuki ini mirip si Buta dari Gua Hantu: makin sakti.

Ada penyandang disabilitas lain, yang juga mampu memberikan kontribusi khas ke masyarakat, tatkala ia harus menyiasati keterbatasan fisiknya sebagai tuna netra. Dia adalah Nazar Noeman, pendiri dan pemilik Radio KLCBS sebagai satu-satunya radio khusus musik Jazz di Indonesia. Ketika masih bisa melihat, Nazar adalah anak muda yang gemar bertualang ke tempat-tempat pelosok. Namun ketika tidak bisa melihat, gairah petualangannya disalurkan lewat musik. Lewat pengetahuan musiknya maka publik Bandung bisa tahu khazanah musik-musik Jazz dunia lewat radio yang dikelolanya. Seperti si Buta dari Gua Hantu, sepertinya beliau juga tambah “sakti” meski menjadi tuna netra. Sama-sama tuna netra, sama-sama “sakti” (karena memberi manfaat bagi banyak orang) lewat radio, itulah Basuki dan Nazar Noeman (gambar 1)

Gambar 1: Nazar Noeman dan Basuki

Masih ada satu teman saya penyandang disabilitas yang “sakti”. Pada saat kecil ia terserang polio, akibatnya salah satu kakinya mengecil secara drastis. Dia pernah intensif sebagai rekan kerja saya, dan saya sering lupa jika ia adalah penyandang disabilitas karena kemampuannya yang hampir selalu bisa diandalkan. Sebagai contoh dia pernah bertugas sebagai pembawa kamera untuk proyek pembuatan videografi. Untuk menangkap event yang dinamis dan pindah-pindah tempat, saya (sebagai produser) tak segan memerintahkannnya untuk mengambil momen-momen sulit dan cepat yang mengharuskannya berlari. Dan dia mampu, asal ada kamera dan gambar-gambar eksotis dan atraktif yang harus direkamnya. Dia baru minta kami berjalan lebih pelan saat menyusuri jalur-jalur di Bandara, tentu saja ketika ia tidak sedang membawa kamera.

Sama seperti Basuki, kawan saya ini juga mengritik isu difabel yang sering dijadikan komoditas untuk eksistensi kelompok tertentu. Di proyek lain, kami berjalan melewati suatu pertemuan yang membahas arsitektur untuk difabel, yang dihadiri lebih banyak bukan oleh para penyandang disabilitas. Ujarnya, “Mas, aku harusnya ada di pertemuan itu, kok ini malah mroyek sama sampeyan”. Sekali lagi, saya baru tersadar kalau rekan kerja saya ini penyandang disabilitas. Tersadar sesaat saja, karena selanjutnya kami fokus pada target-target proyek yang menjadi komitmen kami.

Kembali ke urusan Basuki, setelah Yayasan Sahabat Mata menjad eksis, ia meminta bantuan saya untuk membantu mewujudkan masjid yang ramah penyandang disabilitas. Ada sebuah masjid di dekat kantor yayasan ini, di mana Basuki adalah salah satu pengurusnya, yang sering menjadi tempat kegiatan para penyandang disabilitas, bukan saja tuna netra tetapi juga lainnya. Beberapa penyandang disabilitas sulit menggunakan masjid ini, karena ketiadaan ramp untuk akses kursi roda ke ruang salat dan toilet, tidak ada pembedaan warna kontras pada batas tangga yang bisa dikenali penyandang low-vision, ketiadaan tempat parkir motar roda tiga yang digunakan tuna daksa, para tuna netra yang sulit membedakan garis saf karena tidak materialnya sama dengan lantai, serta para tuna rungu yang tidak bisa mendengarkan khotbah jumat. Setelah berdiskusi dengan pengurus masjid lainnya, solusi-solusi desain arsitektural praktis bisa segera kami dapatkan, meski beberapa sesungguhnya tidak arsitektural. Supaya tidak menjadi jargon, maka penambahan fasilitas ini diniatkan bukan untuk memanjakan, tetapi bagaimana memberikan kesempatan lebih mudah agar para penyandang disabilitas bisa turut serta dalam upaya memakmurkan masjid. Mari meletakkan arsitektur masjid yang ramah penyandang disabilitas sebagai alat, dan bukan tujuan.

Belajar arsitektur lewat para penyandang disabilitas juga saya dapatkan di studio Radio Sama FM. Ada dua orang tuna netra kader Sahabat Mata yang tengah berlatih musik: Arif pada biola dan Fifi pada keyboard. Mereka berdua seperti musisi pada umumnya yang langsung bisa “menguasai dunia” lewat permainan alat musik mereka. Di studio Sama FM inilah saya menemukan “place” di mana Arif dan Fifi mampu menemukan dunia mereka. Di “tempat” ini, mereka mendapatkan “being” sebagai manusia yang diakui keberadaan oleh manusia lainnya (gambar 2)

Gambar 2 Arif (dengan biola) dan Fifi (dengan keyboard) dalam di dalam suatu “place” berupa studio radio

Saatnya berteori, bagaimana place-making bagi orang-orang seperti Basuki, Arif, dan Fifi? Ilustrasi-ilustrasi visual puitik dalam menggambarkan “place” yang banyak digunakan oleh Norberg-Schultz (1980) tentu tidak bisa memberikan penjelasan memadai tentang “place” bagi Basuki, Arif, dan Fifi. Penulis sempat mengamati ketika Arif berangkat dari kantor Sahabat Mata untuk salat di masjid lalu kembali. Ini rutenya: keluar ruangan, melewati teras, belok ke sudut tertentu, mengambil sandal jepit, berjalan dengan tongkat menuju masjid, begitu sebaliknya. Yang unik adalah Arif mengenal betul sudut di teras kantor ini tempat ia harus mengambil sandal sebelum pergi dan mengembalikannya setelah ia kembali. Bagi Arif, “place” yang dia lalui dalam perjalanan pulang balik dari kantor dan masjid adalah tempat untuk belajar mengenali lingkungan sekitarnya (gambar 3).

Gambar 3 Cara Arif mengenali place di mana dia berada

Place dalam perspektif “learning” dicoba diajukan oleh McFarlane (2011). Menurutnya, “learning” adalah sebuah cara untuk “mendapatkak jalan”. Pemikirannya dipengaruhi oleh Ingold (2000), yang menejelaskan “learning” sebagai proses di mana orang bisa merasakan jalan mereka melalui sebuah “dunia” mereka melalui pergerakan yang dihasilkan melalui kombinasi tindakan antara agen manusia dan non-manusia. Dibanding dengan penjelasan fenomenologis romantis Heideggerian, konsep “place”-nya McFarlane, yang dipengaruhi cara berpikir assemblage dari Deleuze (1980) Latour (2005), lebih memadai untuk menjelaskan place bagi Basuki, Arif, dan Fifi. Di sini place adalah tempat terjadinya “learning” bagi penggunanya untuk menemukan dunianya saat itu. Dan proses “learning ini” terus berubah dan berkembang, sebuah proses yang “becoming” seperti yang diistilahkan oleh Dovey (2010).

Dengan perspektif “learning” maka studio radio Sama FM adalah “place” bagi Arif dan Fifi menemukan dunia mereka saat berinteraksi dengan biola dan keyboard mereka. Itu mereka sedang latihan, di mana mikrofon radio sedang dimatikan. Dunia bagi mereka berubah jika mikrofon (non-human agent) dihidupkan, lalu mereka akan belajar lagi jalan untuk menemukan dirinya dalam dunia baru tersebut yang terhubung dengan para pendengar Sama FM. Apalagi jika tempatnya berubah, misalnya di panggung yang dilihat ratusan penonton. Mereka akan belajar lagi karena konfigurasi human and non-human agents juga berubah. Semakin banyak belajar, semakin kaya mereka akan pengetahuan. Di situlah kompetensi terbangun.

Sama saja dengan kita, yang selalu belajar dari konfigurasi human and non-human agents yang selalu berubah. Ketika memilih untuk tidak belajar, maka kita memilih membekukan perubahan konfigurasi agen orang dan non-orang dalam dunia kita. Sebaliknya, mengikuti perubahan konfigurasi tersebut mendorong kita untuk selalu beradaptasi, dari situ kita belajar dengan sendirinya. Belajar adalah cara untuk terus bisa beradaptasi dengan ketidakpastian dan perubahan. Jadi ingat pak Yuswadi Saliya (2003), yang dalam perenungannya meletakkan desain sebagai upaya manusia mendapatkan kecocokan (approriateness) antara “vita activa” (hidup untuk bekerja) dan “vita contemplativa” (hidup untuk merenung).

Kesimpulannya, “place” adalah tempat untuk belajar bagi untuk bisa beradaptasi melalui relasi dengan manusia dan objek teknis lainnya. Dengan demikian, “place” bisa mempunyai perspektif lain, selain suasana penuh romantika dari Norberg-Schultz atau representasi dari simbol, identitias, dan kekuasaan dari perspektif Lefebvre (1991). Belajar dari Arif dan Fifi, “place” adalah tempat bagaimana saya, Arif, dan Fifi memanfaatkan relasi kami dan objek-objek yang terkait untuk saling menambah pengetahuan. Tambahan pengetahuan saya berwujud pada tulisan ini, sedangkan Arif dan Fifi mungkin belajar tentang lainnya. Paling tidak, di sini saya mencoba membuat perspektif lain untuk membaca sebuah “place”.

 

Referensi:

Deleuze, G. & Guattari, F. (1980) Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia. London, UK: Continuum.

Dovey, K. (2010) Becoming Places: Urbanism/ Architecture/ Identity/ Power. London and New York, UK & US: Routledge

Ingold, T. (2000) The Perception of the Environment: Essays in Livelihood, Dwelling and Skill. London: Routledge.

Latour, B. (2005) Reassembling the Social An Introduction to Actor-Network-Theory. Oxford: Oxford University Press

Lefebvre, H. (1991) The Production of Space, Oxford: Blackwell.

McFarlane, C. (2011). Learning the City: Knowledge and Translocal Assemblage. West Sussex, UK: Blackwell Publishing. Hlm 1-2

Norberg-Schulz, C. (1980). Genius Loci: Towards A Phenomenology of Architecture. London: Academy Edition.

Saliya, Y. (2003) Perjalanan Malam Hari. Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia dan Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat, Bandung.