Arsitektur Nusantara atau Arsitektur Indonesia ?

by

Tjahja Tribinuka | Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS | E-mail tribinuka(at)ymail.com


Anjungan Propinsi Timor Timur yang menjadi Museum Timor Timur dengan menampilkan Arsitektur Timor Leste di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sumber gambar : https://www.tamanmini.com/upload/spot/large/1338111149.jpg

Dalam kegiatan Sarasehan dan Seminar Arsitektur Nusantara yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur FADP ITS dan IPLBI di Surabaya tanggal 12-13 Maret 2018, terjadi perdebatan sengit mengenai istilah Arsitektur Nusantara ataukah Arsitektur Indonesia. Pendefinisian Arsitektur Nusantara diperdebatkan dengan usulan penamaan Arsitektur Indonesia. Paling tidak ada dua alasan, pertama adalah mengenai istilah Nusantara yang sebenarnya tidak selalu  identik dengan Indonesia, karena negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Phillipina dan lain-lain juga menggunakan istilah Nusantara. Pertimbangan kedua adalah hal yang memberatkan pendefinisian arsitektur Nusantara sebagai karya-karya arsitektur di Indonesia sebelum abad 18 dikarenakan nama Indonesia belum lahir. Keberatan ini karena contoh bahwa sebuah kuil di Jepang yang dibangun sebelum negara Jepang lahir, tetap dinamakan sebagai ‘Arsitektur Jepang’ sesuai dengan nama negara tersebut pada saat ini.

Perdebatan sengit ini memicu pertanyaan, apakah pendefinisian arsitektur itu harus dilakukan dengan pembatasan sebuah wilayah politis dari kekuasaan suatu negara ? Misalnya saja Arsitektur Timor Leste yang ada sekarang bisa dijadikan kasus untuk ditelaah. Sebelum tahun 1999 Timor Leste bernama Propinsi Timor Timur yang berada pada wilayah politis dari kekuasaan Pemerintah Negara Republik  Indonesia. Oleh karenanya rumah adat di Timor Timur (sekarang di Timor Leste) dimasukkan dalam kelompok ‘Arsitektur Indonesia’. Setelah tahun 1999 ketika Timor Timur lepas dari wilayah politis kekuasaan Pemerintah Negara Republik  Indonesia dan menjadi Negara Timor Leste, maka rumah adat tersebut tidak lagi bisa disebut sebagai ‘Arsitektur Indonesia’ sudah berubah menjadi ‘Arsitektur Timor Leste’. Mungkin jika di suatu saat Timor Leste bergabung kembali ke wilayah politis kekuasaan Pemerintah Negara Republik  Indonesia, maka rumah adat tersebut bisa disebut lagi sebagai sebuah karya Arsitektur Indonesia. Menjadi membingungkan dan tidak tetap.

Bagaimana jika rumah adat di Timor Leste tersebut dikelompokkan dalam Arsitektur Nusantara ? ada dua kemungkinan, pertama jika ada kerelaan dari warga dan para ahli di Timor Leste, apakah mereka merasa juga merupakan bagian dari wilayah Nusantara ? Seperti warga dan para ahli di Malaysia, Singapura, Phillipina dan lain-lain yang memang merelakan dan justru mendefinisikan bahwa wilayah mereka merupakan bagian dari Nusantara. Jika memang ada kerelaan dan bahkan pendefinisian bahwa rumah adat Timor Leste adalah bagian dari Arsitektur Nusantara, maka baik sebelum tahun 1999 atau setelahnya, karya tersebut tetap bisa disebut sebagai karya Arsitektur Nusantara, tidak ada perubahan nama apakah masuk silayah Indonesia atau tidak. Jika memang tidak rela, maka tetaplah rumah adat Timor Leste disebut sebagai karya Arsitektur Timor Leste.

Kerelaan ini memang penting, termasuk pemikiran pendefinisian dengan tujuan kemudahan pada setiap penulisan karya ilmiah untuk pengelompokan arsitektur. Wilayah Nusantara bukanlah wilayah negara, tetapi wilayah budaya dari beberapa negara yang ada di antara dua samudera dan dua benua, termasuk Malaysia, Singapura dan Phillipina. Kerelaan ini selanjutnya termasuk ppula emikiran untuk mendefinisikan arsitektur, apakah memang harus dikelompokkan berdasarkan pembatasan sebuah wilayah politis dari kekuasaan suatu negara, atau dibatasi oleh sebuah wilayah budaya ? jika dibatasi oleh sebuah wilayah politis dari kekuasaan suatu negara, maka kembang susutnya sebuah negara akan mempengaruhi pendefinisian. Tetapi jika dibatasi oleh sebuah wilayah budaya, maka pendefinisiannya akan sulit berubah, walaupun wilayah budaya tetap bisa berubah dalam kurun waktu yang sangat lama. Sebuah budaya yang telah menjadi identitas dari sekelompok masyarakat kenyataannya memang membutuhkan waktu yang lama untuk berubah menjadi budaya yang lain.

Kerelaan ini termasuk meminggirkan ego bahwa arsitektur itu tidak perlu dikotak-kotak milik negara ini atau negara itu. kerelaan ini adalah kemauan bekerja-sama dan saling mengakui keserupaan budaya dari beberapa negara. Kerelaan ini bukan malah mengaburkan, tetapi malah mempersatukan persaudaraan budaya dari beberapa negara. Jadi jika kemudian negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Phillipina dan lain-lain juga menggunakan istilah Nusantara, maka hal tersebut jangan sampai dianggap sebagai permasalahan klaim istilah, tetapi perlu dianggap sebagai sebuah persatuan persaudaraan budaya dari sisi arsitektur dengan pemberian nama yang sama. Mungkin juga dari bidang-bidang budaya lainnya pula ada yang sama dari beberapa negara di antara dua benua dan dua samudera sebagai wilayah Nusantara.

Pendefinisian berdasarkan wilayah budaya ini juga bisa menjawab perdebatan kedua mengenai istilah arsitektur kuno dan hubungannya dengan nama sebuah negara seperti Jepang. Bisa dipertanyakan apakah yang dimaksud dengan arsitektur kuno tertentu itu termasuk dalam arsitektur Negara Jepang ? ataukan Arsitektur Budaya Jepang ? Secara khusus jika sejarah tidak pernah mencatat nama wilayah di negara Jepang dengan identitas tertentu sebelum Negara Jepang saat ini lahir. Jika memang tidak ada wilayah budaya dengan nama lain seperti nama negara Jepang, maka kuil kuno di Jepang sebelum Jepang lahir tetap akan disebut Arsitektur Jepang, dengan pengertian bahwa arsitektur dikelompokkan sebagai identitas dalam budaya Jepang, bukan arsitektur sebagai identitas dari negara Jepang. Hal ini mungkin akan jelas jika sebuah karya arsitektur lahir dari budaya sebuah negara yang telah punah seperti Negara Romawi.

Karya-karya kuno abad ke 27 sebelum Masehi sampai abad 5 Masehi di Italia apakah akan didefinisikan sebagai ‘Arsitektur Romawi’ ataukan akan didefinisikan sebagai ‘Arsitektur Italia’ sesuai nama negaranya pada saat ini. Jika memang karya-karya tersebut disebut dengan nama  ‘Arsitektur Romawi’, maka apakah pendefinisiannya berdasarkan identitas dalam budaya Romawi, ataukah identitas dari negara Romawi ? jika identitas dari Negara Romawi kemudian sudah berganti menjadi Negara Italia, apakah pendefinisian artitektur untuk situs kuno di atas termasuk ‘Arsitektur Romawi’ ataukah ‘Arsitektur Italia’ Lebih jauh lagi, ketika kekuasaan Negara Romawi sampai ke Libanon, maka di Libanon juga ada Arsitektur Romawi, contohnya kuil untuk Bacchus di Baalbek. Karya arsitektur yang ada pada foto di bawah, termasuk dalam pendefinisian karya Arsitektur Romawi, ataukah karya Arsitektur Libanon ?

Sama seperti mempertanyakan rumah adat di Timor Leste sekarang, apakah termasuk karya Arsitektur Nusantara, ataukah karya Arsitektur Indonesia ? menggunakan wilayah Budaya ? ataukah menggunakan wilayah Negara ?


Kuil Bacchus di Baalbek, Libanon. Sumber gambar : https://www.ancient.eu/img/r/p/750/1318.jpg?v=1485680468