Arsitektur Teks: dari Project-based ke Problem-based untuk Berarsitektur yang lebih Adaptif

by

Agus Ekomadyo, Pengajar Arsitektur Institut Teknologi Bandung, Email: agus_ekomadyo@yahoo.co.id, aekomadyo00@gmail.com Instagram: agusekomadyo

Disampaikan dalam roundtable discussion “Kontradiksi dalam Berarsitektur”, Biang Desain – Prodi Arsitektur ITB, Indobuildtech Building Bandung, 13 Oktober 2016

Ketika Ekslusivitas Profesi Arsitek Digugat

Dalam praktik, profesi arsitek sering digugat karena cenderung ekslusif, hanya melayani kalangan yang berada saja. Maklum, masyarakat terlanjur menganggap status arsitek sebagai status yang elite, dan baru berani meminta jasa arsitek setalah merasa mempunyai dana yang berlebih dari cash-flow kebutuhan sehari-hari. Maka layanan jasa arsitek di mata konsumen identik dengan arsitektur yang megah, elegan, estetik, puitik, kreatif, dan berbagai kata sifat yang menunjukkan ketinggian suatu karya, yang tentunya punya korelasi yang sangat kuat dengan konsekuensi biaya. Ketika para arsitek sibuk melayani kebutuhan kalangan berada ini, yang dari proporsi sebenarnya sangat minoritas dari semua masyarakat yang membutuhkan produk arsitektur, maka muncullah ungkapan nyinyir: “maju tak gentar, membela yang bayar”.

Gugatan secara serius –dan lebih akademis- disampaikan oleh pak Hasan Poerbo dalam suatu orasi ilmiahnya. Konteks saat itu adalah ketika sebagian arsitek dimobilisasi untuk membantu seorang “klien” yang kebetulan memegang kekuasaan tertinggi di republik ini untuk membangun gedung yang monumental. Sementara sebagian besar masyarakat Indonesia masih membutuhkan hunian yang layak, dan ini tidak menjadi perhatian sebagian besar arsitek saat itu. Dari situlah muncul konsep “super-client” dari pak Hasan, yang artinya masyarakat luas, yang sebenarnya membutuhkan secara esensial produk arsitektur yang diproduksi melalui desain para arsitek.

Tetapi hidup para arsitek tetap harus berlanjut. Yang menggugat boleh menggugat, yang bekerja tetap mesti bekerja guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika sumber penghidupan (melalui uang) datang dari klien (yang mampu membayar jasa arsitek) maka demi keberlangsungan hidup para arsitek tetap melayani mereka yang mempunyai uang lebih tersebut. Memikirkan masyarakat (super-client) boleh-boleh saja, tetapi tentu tidak musti dijalani dengan idealisme yang kaku. Logika tidak akan jalan tanpa logistik, meski uang bukan segalanya tetapi segalanya tetap membutuhkan uang. Biarlah yang berpikir punya inisiatif untuk menggugat, yang bekerja akan tetap menjalani pekerjaan seperti apa adanya.

Melihat Kontradiksi sebagai Peluang

Para pemikir, termasuk pemikir arsitektur, tentu akan “galau” melihat kesenjangan yang terjadi. Ketika ia berpikir, ada gagasan-gagasan yang tengah dibangun dalam pemikirannya tersebut. Gagasan tersebut biasanya bermuara tentang sesuatu yang diharapkan akan lebih baik dari yang sekarang terjadi. Sebuah keniscayaan akan perkembangan dan kemajuan hidup manusia. Dan ketika realitas ternyata tidak mengarah pada gagasan tentang “kehidupan yang lebih baik” tersebut, kegalauan akan muncul. Maka lahirlah sebuah ungkapan: “kontradiksi”.

Apakah kontradiksi selalu berkonotasi negatif? Konotasi negatif kontradiksi sering terbangun, misalnya pada suatu argumentesi, di mana apa yang dihasilkan dan disimpulkan berbeda dengan apa yang ditanyakan atau menjadi tujuan awal suatu pembahasan. Atau seorang yang ingin menuju ke suatu tempat tertentu, dia justru bergerak ke arah yang berlawanan. Atau dalam psikologi kontradiksi ditemukan pada para pengidap “split personality”: seseorang yang tahu apa tentang apa-apa yang dia anggap baik, tetapi ia bertindak justru berlawanan dengan keyakinannya tersebut.

Secara naluriah, manusia memang cenderung mencari kenyamanan dalam hidup. Cenderung membagi realitas secara hitam dan putih, dan menganggap yang putih sebagai sesuatu yang baik dan menjadi acuan. Namun pada realitas hidup tidaklah hitam-putih, tetapi penuh warna; warna satu yang acapkali hadir begitu kontras dengan warna lainnya. Kontrasnya realitas sering menunjukkan warna ekstrim juga, misalnya warna hitam dan putih. Saat orang berada dalam perspektif putih melihat hitam, maka yang dipersepsi adalah kegelapan; sebaliknya ketika yang hitam melihat putih yang dipahami adalah kesilauan. Dari sini maka kontradiksi merupakan bagian dari realitas hidup sendiri, selayaknya keniscayaan dualisme dalam penghayatan akan kehidupan.

Ada satu upaya manusia dalam membuat fenomena dualitas kehidupan menjadi sesuatu yang produktif dan konstruktif. Upaya tersebut dikenal dengan nama dialektika. Di beberapa negara yang masyarakatnya maju, metode dialektikan digunakan untuk mendapatkan aneka pengetahuan baru, yang kemudian mendorong masyarakat untuk selalu belajar. Dialektika diawali dengan suatu tesis yang dikritisi (baca: diragukan), dan keraguan itu membangun antitesis. Dari tesis dan antitesis ini kemudian muncul upaya untuk sintesis, untuk kemudian –biasanya melalui sebuah hipotesis- menghasilkan tesis baru. Tesis yang kemudian juga akan diragukan oleh antitesis baru, dan begitu seterusnya, dan metode ini memacu masyarakat untuk selalu belajar, karena pengetahuan yang dimiliki selalu punya kans untuk dipersalahkan. Di Indonesia tradisi dialektis ini kurang terbangun karena masih kuatnya budaya penurut dan ewuh-pekewuh: perbedaan pendapat sering disikapi secara emosional berlebihan. Budaya ini acapkali menghambat sikap kritis dan kurang berani dalam mengungkap suatu permasalahan.

Dalam diskusi dengan seorang rekan tentang fenomena kontradiksi dalam berarsitektur, penulis mencoba melihatnya dengan peluang untuk membangun dialektika. Kontradiksi tersebut tertuang dalam pernyataan “arsitektur sebenarnya dihadirkan sebagai sarana untuk hidup manusia yang lebih baik, namun sekarang justru yang terjadi akibat arsitektur adalah kebalikannya: ketidaknyamanan, kerusakan lingkungan, bencana alam, kerusakan lingkungan, atau ketidakadilan sosial. Dalam perspektif dialektika, anggaplah frasa pertama sebagai tesis, dan yang kedua sebagai antitesis, maka yang akan terjadi adalah sebuah upaya untuk mencari sintesis. Dan, tiba-tiba kontradiksi bisa berubah menjadi peluang, peluang untuk membuka cara ingin tahu.

Dan berikutnya, kita bisa memulainya membangun banyak dugaan-dugaan, beberapa hipotesis. Misalnya, penulis mencoba membangun hipotesis bahwa kontradiksi dalam berarsitektur terjadi karena paradigma utama dalam berarsitektur (bagi para arsitek) adalah paradigma teknis-pragmatis, terutama karena pada masa sekarang arsitek banyak diproduksi oleh mekanisme industri masyarakat modern. Arsitek cenderung berorientasi pada hasil guna, yang acapkali berakibat pada pengabaian pada hal-hal di luar teknis yang berpengaruh pada penciptaan hasil guna tersebut.

Paradigma teknis-pragmatis ini membuat praktik arsitek cenderung berorientasi pada project., dengan asumsi bahwa pemberi tugas selalu benar dan confirmed, karena hanya dengan asumsi itu arsitek “konvensional” bisa bekerja. Padahal dalam kenyataan, banyak kekuatan-kekuatan dalam suatu pemberian tugas yang  bekerja tidak serta merta selaras dengan cita-cita arsitek membangun lingkungan yang lebih baik.

Arsitektur Teks: Sebuah Alternatif Jalan

Jika hipotesis di atas diterima, bahwa kontradiksi dalam berarsitektur terjadi mayoritas arsitek bekerja karena project-based, maka paradigma problem-based bisa diujicobakan. Dengan perspektif problem-based, maka proses berarsitektur tidak melulu dimulai dari proyek, tapi bagaimana arsitek mencoba melihat realitas permasalahan, lalu bagaimana pengetahuan arsitekturalnya dikontribusikan untuk merespon permasalahan tersebut. Maka proses berarsitektur akan mengarah pada penyelesaian suatu masalah, dan merupakan proses iteratif dan dinamis, namun pada keyakinan akan suatu kontribusi terhadap perwujudan lingkungan yang lebih baik.

Dan arsitektur teks menjadi salah satu alternatif jalan bagi arsitek untuk keluar dari jebakan project-based. Di sini arsitek lebih mendapatkan otonomi dalam mengambil keputusan, berbeda dengan situasi heteronom dalam suatu project. Teks memang mempunyai konotasi terhadap sesuatu yang ditulis, tetapi sebenarnya teks diartikan sebagai sesuatu yang dibaca. Ketika teks berupa tulisan, maka kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam produksi tulisan tersebut tidaklah sekompleks dalam produksi lingkungan binaan. Di sinilah arsitek mendapatkan otonomi: bagaimana gagasan arsitekturalnya tidak punya preferensi untuk dibangun, tetapi dibaca oleh orang banyak.

Dan acapkali teks bisa lebih berpengaruh daripada bangunan. Para nabi masih dirasakan keberadaannya sampai sekarang, meskipun sudah wafat ratusan tahun lampau, karena mereka-mereka mewariskan teks. Leonardo da Vinci dikenal bukan karena beberapa karya terbangunnya –yang sebagian besar dibiayai oleh penguasa tiran- tetapi juga karena gagasan-gagasan visioner dalam lembaran-lembaran kertas. Beberapa arsitek sempat beruntung mampu menciptakan teks lewat bangunan, misalnya Borobudur, sehingga pesan melalui artifak ini bisa terus menerus dibaca.

Ketika memilih jalan arsitektur teks, maka arsitek akan sedikit bergeser posisinya dari desainer ke pujangga. Seorang pujangga adalah menciptakan aneka teks untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, biasanya pesan-pesan tentang keluhuran hidup. Tetapi darah asli arsitek adalah desainer, apakah dalam suatu arsitektur teks watak ini bisa tetap dipegang oleh arsitek? Merancang teks bisa dianalogikan dalam merancang bangunan: jika merancang bangunan, arsitek bisa bekerja dengan membayangkan bagaimana bangunan tersebut terwujud, maka arsitek bisa memabayangkan apa yang akan dihasilkan saat ia merancang suatu teks. Tetapi apakah itu akan benar-benar terjadi? Karena ada perbedaan mendasar dalam merancang bangunan dan merancang teks: yang satu berorientasi pada guna dan citra, sedangkan yang kedua berorientasi pada pembacaan dan pengaruh terhadap pembacaan tersebut.

Penutup

Ketika sekelompok arsitek mencoba membangun suatu “arsitektur teks” dalam bentuk “Stensil Arsitektur”, apakah ini pekerjaan serius atau senda gurau belaka? Mengapa perlu ada teks, mengapa perlu berwacana, mengapa perlu berdialektika? Benarkah ini bagian dari kehidupan, atau sekadar bergenit-genit mencari perhatian?

Manusia hidup dalam kondisi untuk bekerja dan berpikir: ada yang berbuat (the doers) dan ada yang bernubuat (the thinkers). Vita activa dan vita contemplativa: bekerja dan berpikir pragmatis untuk memenuhi kebutuhan keseharian, dan berpikir kontemplatif untuk mencari kemuliaan hidup. Memperoleh kemuliaan adalah kebutuhan manusia yang berbeda dengan spesies lainnya.

Arsitektur teks memang bukan jalan bagi arsitek untuk memenuhi kebutuhan keseharian, lebih sebagai kebutuhan akan keluhuran. Teks-teks apa saja yang bisa dirancang untuk mempengaruhi orang, agar arsitek lebih bisa punya makna bagi masyarakatnya. Jika memang bagian dari pemenuhan kebutuhan manusia, maka arsitektur teks akan selalu punya ruang untuk tetap survive dalam dinamika kehidupan manusia. Selayaknya desain juga hadir sebagai upaya manusia untuk mengembangkan kemampuan adaptasi, maka ketika para arsitek sedang merancang teks selayaknya ditempatkan juga pada upaya pengembangan kemampuan adaptasi tersebut.