ARSKOT SKETCHAWK 2019: Membawa Pengetahuan-Ruang-Kelas ke Wilayah Publik

by

Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung, aekomadyo00(at)gmail.com

Tuh…Kang Thamrin, ada usul yg bisa juga buat  mengangkat kegiatan sketchwalk jadi “sketch hawk”…menyatakan perang kpd “wajah-buruk kota”… spy tdk tergelincir ke kegiatan “elitis” melulu…memoles-moles bangunan yg memang sdh indah…  

(Usulan Pak Yuswadi Saliya ke pak Muhammad Thamrin untuk Bandung Sketch Walk/ BSW)

Kegiatan kuliah Arsitektur Kota di ITB dan kegiatan Bandung Sketch Walk bisa disebut “satu mazhab”, yang berbeda adalah tempat dan pesertanya. Yang satu kegiatan kuliah formal yang diikuti mahasiswa Arsitektur ITB, yang satunya kegiatan jalan-jalan yang bisa diikuti oleh umum meskipun lebih banyak diikuti oleh para arsitek. Substansinya tidak terlalu beda: sama-sama mengkeskplorasi arsitektur kota dan menerjemahkan hasilnya dalam bentuk sketsa-sketsa.

Tradisi tugas-tugas arsitektur kota adalah luaran dalam bentuk-bentuk sketsa. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih peka secara ragawi terhadap fenomena arsitektur kota yang dipelajari. Pendekatan ini dipengaruhi oleh kritik fenomenologi terhadap pendekatan positivistik, termasuk dalam desain arsitektur yang sering terpenjara oleh kerangka berpikir Cartesian. Pendekatan ini melihat bagaimana Arsitektur bisa dipahami dengan cara mengalaminya secara ragawi (Rasmussen, 1964, Bloomer, dkk, 1977).

Namun tradisi ber-sketsa ini mendapat tantangan ketika harus diantarkan ke generasi milenial yang sudah terbiasa dengan kegiatan produksi secara digital. Dalam beberapa tahun, kuliah Arsitektur Kota model lama sempat dirasakan membosankan oleh mahasiswa. Mungkin dalam benak milenial yang terpikir adalah “Model HP dari awal hingga kini sudah berganti bentuk, kuliah, kok modelnya seperti itu-itu terus”.

Atas dasar pemikiran tersebut, pada tahun 2019 penulis sedikit melakukan modifikasi dalam pembelajaran, terutama memanfaatkan terknologi digital ala milenial. Tugas-tugas sketsa tetap, karena ini menyangkut kepekaan (sense) dari mahasiswa terhadap suatu fenomana, dan ini merupakan sikap ilmiah yang wajib dipertahankan. Bedanya, jika tahun-tahun sebelumnya sketsa-sketsa dipresentasikan secara manual di depan kelas, untuk tahun 2019 presentasi dilakukan dengan media digital. Tepatnya media video yang siap untuk diunggah ke media sosial, dalam hal ini adalah Youtube. Artinya, semua informasi yang akan dipresentasikan oleh mahasiswa, termasuk sketsa-sketsa, harus dirangkum dalam tayangan audio visual berdurasi maksimal 7 menit. Ketika di akhir semester mereka mempresentasikan video ini di kelas, maka forum kelas akan memutuskan apakah tayangan ini layak dipublikasikan atau tidak.

Memutuskan untuk mempublikasikan tugas mahasiswa ke media sosial sebenarnya berisiko: apakah mahasiswa mampu menyajikan hasil belajarnya kepada publik? Namun dengan kerangka publikasi ilmiah, maka benchmark kualitas tulisan adalah tulisan lain di media publikasi tersebut (jurnal konferensi). Karena tugas kuliah ini akan dipublikasikan di youtube, maka benchmark-nya adalah tayangan lain di media sosial ini. Dengan bench-mark ini, maka kualitas pekerjaan dari mahasiswa ITB akan tetap di atas rata-rata tayangan di Youtube. Kalau pun nanti ada, kritik ataupun kontroversi menjadi sarana perbaikan untuk tugas tahun berikutnya, dan ini yang menjadi semangat continuous improvement dalam proses pembelajaran. Secara prosedural, perlu ada mekanisme kendali-mutu (quality control), dan ini dilakukan pada sesi presentasi tayangan pada akhir masa perkuliahan, di mana dosen, asisten, dan peserta kelas memberikan masukan untuk perbaikan tayangan sebelum dipublikasikan.

Hasilnya? Silakan lihat link di bawah (gambar 1):

  1. Arskot Sketchawk – Cibangkong – Di Antara Mall, Rel, dan Air, https://www.youtube.com/watch?v=0JrR-PXVD7o&feature=youtu.be
  2. Cibangkong: Ragam Cerita Kampung Kota AR4111 Arsitektur Kota ITB, https://www.youtube.com/watch?v=pkGHp6wWAGU&feature=youtu.be
  3. Cibangkong: Kampung dalam Kota Bandung AR 4111 Arsitektur Kota ITB, https://www.youtube.com/watch?v=pkGHp6wWAGU&feature=youtu.be
  4. Kawasan Burangrang: Arsitektur Kota Sketchawk 2019, https://www.youtube.com/watch?v=ypq4Gj1I5_c&feature=youtu.be
  5. Burangrang; Berharmonisasi dalam Kawasan (AR4111 Pengantar Arsitektur Kota ITB), https://www.youtube.com/watch?v=emNpQ6l9chw&feature=youtu.be
  6. Selidik Kosambi – Arskot Sketchawk 2019, https://www.youtube.com/watch?v=MALRzxLSWS4&feature=youtu.be
  7. Kosambi Punya Cerita – Ar4111 Arsitektur Kota Itb #Sketchawk2019https://www.youtube.com/watch?v=YiIJVwp9eJk&feature=youtu.be
Gambar 1: Kumpulan tayangan Arskot Sketchawk 2019 di youtube

“Publish or perish”. Sekali lagi, pernyataan kontroversial saya kutip dari Pak Yuswadi Saliya, saat beliau menjadi narasumber dalam acara bedah buku Arsitektur. Pernyataan ini sebenarnya bermula dari tradisi sains, di mana peneliti di tempat berbeda dan bekerja terpisah namun bisa menemukan suatu hal yang sama. Siapa yang berhak mendapatkan penghargaan terhadap penemuan tersebut, misalnya penamaan terhadap temuan, adalah mereka yang lebih dulu mempublikasikannya (Neill, 2008). Maka, dalam dunia sains, publikasi jadi upaya “siapa cepat dia dapat”. “Publish or perish”: penemu yang lambat publikasi akan sering merasa perih.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, publikasi sebenarnya adalah bagaimana membawa temuan-temuan di dalam laboratorium atau ruang-ruang kelas kepada publik. Di sini, Bruno Latour berpesan pada arsitek, “Make Things Public” (Prieto & Youn, 2004, Latour, 2005). Artinya, karya arsitektur perlu dibawa ke publik dalam atmosfer demokrasi, karena publik berhak membangun persepsinya sendiri-sendiri pada suatu karya arsitektural. Tokoh masyarakat Cibangkong, kang Agus Sudarman, yang hadir pada presentasi akhir mahasiswa, berpesan bahwa gagasan terhadap perbaikan kampung kalau bisa berlanjut pada implementasi. Tentu bukan tugas mahasiswa, tetapi dengan mempublikasikan gagasan mereka, siapa tahu ada pihak lain yang tertarik untuk mengimplementasikannya.

Sebagai self-criticism, sebenarnya tugas-tugas mahasiswa ini belum pantas disebut sebagai “Sketch Hawk”. Lebih pantas sebagai “Sketch Kid-Hawk”, sketsa anak elang, toh kelak mahasiswa-mahasiswa ini pada masa depan akan yang menjadi “Arsitek Elang”. Jadi, judul “Arskot Sketchawk” referensinya adalah plesetan Pak Yuswadi terhadal “Sketch Walk”. Isinya adalah mahasiswa belajar membawa pengetahuannya ke wilayah publik lewat media sosial. Secara semiotika, keterpisahan judul dan isi suatu tayangan terjadi karena referensi yang berbeda (Piliang, 2012). Di sini, saya memberikan interpretasi baru ala Latourian terhadap gagasan Sketch Hawk-nya pak Yuswadi Saliya: Make Classroom-based Architectural Knowledge to Public.

Referensi:

  1. Bloomer, K.C., Moore, C.W., dan Yudell, R.J. (1977). Body, Memory, and Architecture.  Yale University Press; 1st edition
  2. Latour, B. (2005). Making Things Public: Atmospheres of Democracy. Exhibition. Zentrum für Kunst und Medientechnologie (ZKM) 19 maret – 7 April 2005, Karlsruhe, Germany. http://www.bruno-latour.fr/node/333.html
  3. Neill, U. S. (2008). “Publish or perish, but at what cost?”. Journal of Clinical Investigation. 118 (7): 2368. doi:10.1172/JCI36371 (http s://doi.org/10.1172%2FJCI36371).
  4. Piliang, Y.A. (2012) Semiotika dan Hipersemiotika : Kode, Gaya & Matinya Makna. Bandung Matahari, 2012.
  5. Prieto, M. and Youn, E.S., (2004). Interview with Bruno Latour: Decoding the collective experiment. July 5, 2004 12: 00 AM, http: //agglutinations.com/archives/000040.html
  6. Rasmussen, S.E. (1964). Experiencing Architecture 2nd Edition. The MIT Press; 2nd edition.