BANDUNG KOTA KAFE: Produksi Ruang Kafe oleh Komunitas Kopi di Kota Paris van Java

by

Agus S. Ekomadyo, Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung, aekomadyo00(at)gmail.com

Ditulis sebagai bagian dari Buku Antologi Kota Indonesia #2

Editor: M . Cahyo Novianto, Fritz A. Nuzir, I Nyoman Gede Maha Putra,

Penerbit: OMAH Library

Tahun penerbitan: 2019

ISBN: 978-602-5615-832.

Download artikel .pdf: https://iplbi.or.id/wp-content/uploads/2020/01/Ekomadyo-ITB-2019-Bandung-Kota-Kafe-Antologi-Kota-Indonesia-2.pdf

Pendahuluan: Paris, Kafe, dan Bandung

Mengapa Bandung disebut sebagai “Paris van Java”? Beberapa analis menyebutkan, kota ini menjadi tempat bagi eksperimen suatu “Tropical Europesche” pada masa kolonial dulu (Siregar, 1990, Ekomadyo, dkk., 2018). Jika kota Paris, terutama pada masa Haussman, menjadi eksperimen bagaimana semangat “Grand Manner” diterapkan pada rancang kota -meski berbalut relasi kuasa tertentu- dan akhirnya mampu menghasilkan karakter kota yang membanggakan (Kostof, 1991). Maka, “Grand Manner” ala Paris di kota Bandung -juga dengan relasi kuasa tertentu dengan konteks kolonialisme- dirancang agar menjadi kota yang membanggakan bagi warga Eropa yang berkoloni di kawasan tropis.

Namun ada persamaan lain Paris dan Bandung: sama-sama kota tempat “nongkrong” para pemikir. Di Paris, tempat nongkrong ini sering berujud kafe, tempat para filsuf dan seniman berkumpul, berdiskusi, saling memberikan kritik, dan membangun inspirasi untuk karya-karya selanjutnya (Allen, 2011). Secara geografis, Paris terletak di simpul lalu lintas di Eropa, akibatnya masyarakat di sini menjadi masyarakat majemuk, dan ini menjadi salah satu alasan mengapa filsafat berkembang di Perancis, sehingga pemikiran dengan abstraksi sangat tinggi dibutuhkan untuk mengatasi kemajemukan tersebut. Watak filsafat adalah spekulatif, sehingga dibutuhkan tempat-tempat dengan suasana yang cair, seperti halnya kafe, agar pemikiran ini bisa tumbuh, berkembang, dan menjadi matang.

Tempat “nongkrong” oleh Oldenburg (1999) disebut sebagai ruang ketiga (third places), yang digunakan warga kota setelah tempat tinggal sebagai tempat pertama (first places) dan tempat kerja sebagai tempat kedua (second places). Di Amerika, selain kafe, tempat ketiga ini bisa berbentuk toko buku, salon, bar, barber shop dan tempat-tempat hang-out lainnya. Bahkan di tempat ketiga ini sering tercipta relasi-relasi sosial, tempat mempertemukan orang-orang tertentu, di mana hal-hal penting dinegosiasikan, keputusan-keputusan strategis dibaca, yang menghasilkan aneka kesepakatan-kesepakatan bisnis atau politik, sehingga kafe bisa menjadi ruang yang membentuk suatu “masyarakat kafe” (Tjora, 2013, Allen, 2016).

Di Bandung, keberadaan kafe didorong oleh sejarah dan perkembangan kota ini sebagai “Leisure City” sejak zaman kolonial (Ekomadyo, 2019). Fasilitas kuliner di kota ini dihadirkan bukan sekadar tempat makan, tetapi dirancang dengan tema dan suasana tertentu. Ketika gaya hidup minum kopi menjadi industri baru yang berkembang secara global di kota ini pun banyak bermunculan kafe-kafe dengan kopi berkualitas khusus (specialties coffee). Nongkrong di kafe, sembari menikmati secangkir kopi dengan harga di atas rata-rata, menjadi gaya hidup baru di kota ini.

Di Bandung, gerakan kopi berkualitas khusus namun berbasis komunitas, dengan harga yang lebih terjangkau tentunya, mulai berkembang di Bandung sejak tahun 2010-an. Gerakan ini merupakan gelombang ketiga dalam industri kopi, yaitu penyajian kopi berkualitas yang dipadu dengan cerita tertentu, setelah gelombang pertama melalui industri kopi sachet, dan gelombang kedua industri kopi dengan kualitas khusus/ specialties coffee (Nugraheni dan Nugraha, 2018, Nugraheni, 2018). Di Indonesia, gerakan cinta kopi bisa disebut sebagai gerakan untuk mengangkat kopi sebagai khazanah budaya Nusantara yang berkelas dunia, setelah keberhasilan gerakan untuk menjadikan Batik Indonesia sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Gerakan ini mendorong terbentuknya komunitas-komunitas pencinta kopi, yang juga bergerak dalam rantai pasokan kopi dari hulu (perkebunan kopi) hingga hilir (kopi siap saji dan kafe). Keberadaan komunitas-komunitas ini turut membangun cerita-cerita di balik tersajinya kopi.

Produksi Ruang oleh Komunitas Kopi di Bandung: Belajar dari MBC Bandung

Istilah produksi ruang diperkenalkan oleh Lefebvre (1991), dengan tiga kategori ruang (triad space): ruang-ruang praktikal, yaitu ruang dalam pengertian orang kebanyakan sehari-hari; representasi ruang, yaitu ruang-ruang ada dalam pikiran orang-orang, seperti ruang di kalangan arsitek atau ahli planologi;  dan ruang-ruang representatif, yaitu bagaimana ruang terbentuk karena kekuatan-kekuatan tertentu yang bekerja. Pemikiran produksi ruang ini tidak dilepaskan dari kritik pada modernisme dalam perencanaan dan pembangunan kota, di mana para ahli membayangkan ruang secara steril dan deterministik, dan acapkali mengabaikan kompleksitas relasi-relasi sosial yang membentuk ruang-ruang tersebut. Konsep ruang representatif digunakan untuk membuka pengetahuan ada kekuatan-kekuatan tertentu, yang sering tak kasat mata, yang bekerja dalam pembentukan ruang-ruang tersebut.

Pemikiran triad space dari Lefebvre, yang kemudian diadopsi oleh Soja (1996) dengan konsep “third space”, berbeda dengan konsep “third places”-nya Oldenburg, meski sering terjadi misleading dari keduanya. Jika Oldenburg melihat tempat ketiga dari fenomena yang kasat mata, yaitu suasana yang dibentuk oleh orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut, produksi ruang Lefebvre dan Soja lebih melihat kekuatan-kekuatan yang tidak kasat mata yang bekerja membentuk ruang. Ruang-ruang yang diproduksi merupakan representasi dari kekuatan-kekuatan tersebut.

Dengan perspektif ini, maka kafe-kafe tidak sekadar dilihat sebagai tempat nongkrong, namun menjadi representasi dari proses produksi dan konsumsi dari kopi. Dengan perspektif produksi ruang, maka kafe dilihat sebagai gelanggang (field) tempat aneka bentuk modal – ekonomi, sosial, budaya, dan simbolis – disirkulasikan dan dikontestasikan. Modal ekonomi menyangkut aspek keuangan, modal sosial menyangkut relasi antar manusia dalam gelanggang tersebut, modal budaya menyangkut pengetahuan, ketrampilan, dan tatakrama, dan modal simbolis menyangkut identitas, hegemoni, dan citra (Bourdieu, 1986, Dovey, 2010).

Manual Brew Community (MBC) merupakan komunitas pencinta kopi di Bandung mereka menggunakan kafe sebagai tempat konsumsi bagi komoditas industri kopi gelombang ketiga yang mereka produksi. Sebagaimana dijelaskan di atas, industri kopi gelombang ketiga adalah bagaimana kopi dengan kualitas khusus (specialties coffee) bisa disajikan sekaligus dengan cerita tentang kopi tersebut. Para pemilik kafe aktivis MBC mencoba menyediakan specialties coffee yang disajikan dengan teknik penyeduhan manual (manual brewing), tidak dengan mesin. Di satu sisi, harga minuman kopi bisa lebih murah, di sisi lain ketrampilan penyeduh menjadi penting, sehingga untuk menutupi kekurangan akibat aspek manusiawinya, penyeduh perlu menambahkan cerita pada minuman kopi.

Awalnya para MBC ini sering berkumpul informal, berbagi cerita tentang kecintaan mereka tentang kopi. Lalu mereka saling berkunjung, saling belajar strategi bisnis dari masing-masing pemilik kafe. Kemudian mereka menyelenggarakan event kompetisi antar penyeduh manual (manual brewer) di Bandung, bertajuk Bandung Brewer Cup (BBrC). Event ini kemudian menarik perhatian khalayak, karena mampu membuat event penyeduh manual mendahului event serupa berskala nasional. Dampak positif dari BBrC adalah, para barista pemenang menjadi dikenal publik, dan kafe-kafe yang dikelola menjadi lebih ramai dikelola pengunjung.

Perkenalan penulis dengan salah satu pendiri MBC terjadi di tahun 2010-an, sebuah kafe berbentuk warung emperan, bangunan temporer di dekat pusat perbelanjaan di pusat kota Bandung. Kafe yang dia kelola sering disebut “kafe militan”, karena dengan modal yang “pas-pasan”, namun berjuang untuk mengenalkan specialties coffee dengan harga terjangkau kepada khalayak. Beberapa tahun kemudian, pemilik kafe militan ini mampu mengembangkan kafe pada bangunan yang permanen. Ada beberapa kafe yang dia kembangkan, salah satunya di kawasan kota tua Bandung, meski kemudian sempat berhenti karena berbeda visi dengan pemilik bangunan. Kemudian ia mengembangkan kafe yang lainnya,  berkembang pada sebuah bangunan permanen di pusat kota Bandung, bukan hanya menjual minuman kopi tetapi aneka hidangan lain selayaknya restoran, dan sangat ramai terutama sebagai tempat nongkrong anak-anak muda.

Penelitian penulis meluas ke para pendiri MBC lainnya, beserta kafe-kafe yang mereka kelola. Sebagian besar dari mereka mempunyai kafé, beberapa lebih dari satu kafe, namun ada yang memilih bisnis kafe secara tidak langsung, yaitu peralatan kopi. Karena kafe juga merupakan entitias bisnis, di mana ada proses jual beli di dalamnya, maka terdapat aneka variasi dari pemilihan lokasi kafe dari para pendiri MBC, mulai dari yang cenderung idealis bermodal kecintaan pada kopi hingga yang mulai pragmatis mengikuti kekuatan pasar.

Kafe-kafe pendiri MBC ini dapat dipetakan menjadi 3 tipe. Pertama, tipe kafe yang dibangun dengan bentuk sederhana dan temporer, menandakan keterbatasan modal ekonomi dari pemilik, dan menempel atau menempati halaman pada suatu bangunan utama. Tipe ini mirip bentuk “kafe militan” yang didirikan pertama kali oleh pendiri MBC. Strategi menarik pengunjung lebih dengan menyajikan tempat nongkrong bagi komunitas-komunitas yang punya keterkaitan dengan pemilik kafe. Tipe kedua adalah kafe yang dibangun pemilik dengan memilih lokasi jauh dari pusat kota, dengan motif menyiasati mahalnya harga properti. Meski jauh, kafe-kafe ini tetap diminati pengunjung, terutama karena daya tarik lokasi atau daya tarik barista/ pemilik kafe. Tipe ketiga adalah kafe yang dibangun pemilik di pusat-pusat kota, menandakan pilihan pemilik untuk mendekati pusat-pusat aktivitas ekonomi, dengan konsekuensi ada pertimbangan-pertimbangan bisnis yang mewarnai karakter kafe. Dari tipologi kafe para pendiri MBC tersebut, bisa dipetakan, ada variasi rentang dalam memperjuangkan kopi ke dalam bisnis kafe: mulai dari yang berbekal idealisme dan lebih menggunakan modal social, dan ada yang mulai memasukkan unsur-unsur bisnis kompetitif dalam menjual cita rasa kopi.

Tema specialties coffee dalam penciptaan ruang kafe pun dihadirkan dengan aneka cara. Yang paling dominan adalah dengan menempatkan meja barista menjadi focal point dari kafe. Satu kafe memajang sertifikat dan piagam prestasi pemilik kafe dalam dunia perkopian. Ada yang memajang beberapa poster dengan quotation tertentu, meski tidak selalu berkaitan langsung dengan dunia kopi, namun mampu memperkuat penciptaan suasana kafe sebagai “third place”. Ada yang memajang benda-benda vintage, sebagai tanda karakter komunitas yang banyak nongkrong di kafe tersebut.

Lalu, bagaimana ruang-ruang kafe ini dikonsumsi oleh pengunjung? Bagaimana pengetahuan dan kecintaan terhadap kopi yang dimiliki oleh pemilik kafe dikonsumsi oleh para pengunjung kafe? Dari survey yang dilakukan di beberapa kafe milik para pendiri dan aktivis MBC, ternyata sebagian besar pengunjung lebih memilih suasana sebagai pertimbangan mendatangi kafe. Hal ini memang menjadi motivasi umum orang mengunjungi kafe: nongkrong dan menikmati suasana, tidak terlalu khusus bahwa kafe-kafe ini dimiliki oleh orang yang punya pengetahuan lebih tentang kopi. Memang ada pengunjung yang suka bertanya-tanya kepada barista tentang kopi yang disajikan, namun ini terbatas pada jurnalis atau peneliti. Hal ini bukan berarti pengunjung tidak punya pengetahuan khusus tentang kopi. Namun pengetahuan itu sudah didapatkan dari sumber lain sebelum mereka berkunjung ke kafetertentu. Artinya cara mengkonsumsi (mode of consumption) pengetahuan kopi tidak berlangsung secara langsung saat pengunjung meminum kopi di kafe, namun pada konteks dunia perkopian secara lebih luas.

Selain itu, kafe juga menjadi gelanggang pertukaran pengetahuan antara pemilik kafe dan barista. Pertukaran pengetahuan dilakukan dengan magang: pemilik kafe memberikan pengetahuan kepada barista, barista memberikan umpan balik bagaimana ia menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik melayani konsumen sehari-hari. Para barista menjadi aktor terdepan yang mengantarkan kopi dan konsumen. Artinya, selain pengetahuan tentang kopi, kafe juga menjadi gelanggang bagi para barista untuk mengasah pengetahuan tentang bisnis kafe dan melayani konsumen.

                Belajar dari MBC dalam menjalankan kafe, modal utama mereka adalah kecintaan dan pengetahuan akan kopi. Dalam kerangka bentuk-bentuk modal (forms of capital) dari Bourdieu (1986), pengetahuan tentang kopi merupakan salah bentuk modal budaya (cultural capital), yaitu ketrampilan (skills), tatakrama (manners), mandat (credentials), dan nilai-nilai (values) yang didapatkan melalui pengetahuan (knowledge) tentang kopi yang dikembangkan dan dikukuhkan secara terus menerus (structuring and being structured) oleh komunitas MBC (pemilik kafe, barista/pelayan kafe, dan konsumen kafe).

Modal budaya inilah yang disirkulasikan dalam gelanggang bisnis industri kopi gelombang ketiga, yaitu kopi berkualitas khusus yang mengandung cerita tertentu (specialties coffee with stories), baik melalui diskusi atau kompetisi. Sebenarnya interaksi para aktivis MBC adalah sarana bagaimana modal budaya tentang kopi disirkulasikan dan dikontestasikan, baik yang dilakukan secara cair, lunak, dan bersahabat lewat diskusi, ataupun secara keras lewat kompetisi. Artinya, reputasi para aktivis MBC akan ditentukan oleh penguasaan mereka tentang kopi yang mereka jual, yang disirkulasikan lewat antek event interaksi. Pengetahuan kopi menjadi modal budaya yang menjaga reputasi mereka.

Menurut pengamatan penulis berbasis wawancara mendalam, para pegiat MBC bisa dikategorikan sebagai orang-orang kreatif. Jika kreativitas secara sederhana diartikan sebagai penciptaan hal-hal yang baru, maka para pegiat MBC mampu menciptakan kebaruan dalam industri kopi: kedai dengan kopi berkualitas khusus berbasis komunitas, yang salah satu konsekuensinya adalah harga yang terjangkau oleh komunitas kafe tersebut. Mereka menggerakkan bisnis kopi tidak dengan modal ekonomi yang kuat. Kreativitaslah yang mendorong mereka mampu memproduksi ruang-ruang kafe yang mampu menarik pengunjung. Artinya kreativitas berperan penting dalam mentransformasikan modal budaya, berupa kecintaan dan pengetahuan terhadap kopi,  menjadi komoditas yang bisa dikonsumsi khalayak. Kalau dalam perspektif Bourdieu, kreativitas ditentukan karena adanya kompetensi artistik (artistic competence) yang berperan dalam mentransformasikan modal budaya ke dalam modal ekonomi (Webster, 2011).

Belajar dari MBC, temuan penting yang didapatkan adalah bagaimana kreativitas berperan dalam mentransformasikan modal budaya ke dalam modal ekonomi melalui modal sosial. Keterbatasan modal ekonomi menjadikan mereka membentuk komunitas, dan ini menjadi modal sosial yang berpengaruh dalam eksistensi MBC. Hal ini yang membedakan peran kreativitas dalam industri kopi gelombang kedua dengan gelombang ketiga: yang satu lebih didukung oleh modal ekonomi, yang ditunjukkan oleh keberadaan brand-brand multinasional, yang satunya lebih bermodalkan komunitas-komunitas yang bercorak lokal. Modal sosial yang kuat mencirikan karakter kompetensi artistik dari MBC, yaitu budaya kreatif yang berbasis komunitas.

Penutup

Artikel ini sebenarnya dimaksudkan untuk memahami bagaimana budaya kreatif itu bekerja dalam praktik produksi ruang-ruang perkotaan, dan kafe-kafe yang dikelola oleh MBC sebagai kasus. Singkatnya, untuk melihat budaya kreatif bekerja dalam praktik sehari-hari. Motivasi ini didasarkan untuk merespon konsep “Kota Kreatif”, yang banyak dikritik dan menimbulkan kontroversi terutama setelah terlibatnya politik kota dalam penerapan konsep ini. Kritik ini bukan hanya ditujukan bagi Kota Bandung, (Vitchek, 2016), tetapi juga di kota-kota lain di dunia, seperti Hamburg dan Berlin (Novy dan Colomb, 2012).

Sebagai langkah awal untuk memetakan kontroversi tersebut, maka dibuat riset untuk melihat praktik budaya kreatif dalam produksi ruang, dengan menggunakan kerangka teori dari Lefebvre, yang dikombinasikan dengan gelanggang sirkulasi dan kontestasi modal (field of capital) dari Bourdieu. Penelitian ini mencoba mencari jawaban, apa yang sesungguhnya diperjuangkan oleh orang-orang kreatif dalam praktik sehari-hari. Belajar dari MBC ada beberapa hal yang menarik, terutama saat dibahas dalam kerangka gelanggang sirkulasi dan kontestasi modal. Pertama, MBC menggunakan modal sosial untuk mentransformasikan modal budaya ke dalam modal ekonomi. Yang kedua, kreativitas –yang ditunjukkan oleh kompetensi artistik para pegiatnya- berperan dalam upaya transformasi tersebut, terutama menyiasati keterbatasan modal ekonomi untuk menarik konsumen. Selayaknya “Kelas Kreatif” yang disebutkan oleh Florida (2012), sebenarnya ada yang diperjuangkan oleh para pegiat MBC. MBC ingin pengakuan akan modal budaya yang mereka punyai, yaitu kecintaan dan pengetahuan tentang kopi, dan pengakuan ini mereka perjuangkan melalui gelanggang yang terepresentasikan dari kafe-kafe dan event lainnya.

Sebagai sebuah kertas kerja, tulisan ini merupakan bagian dari penelitian untuk mencari tahu, apa
apa yang dibayangkan Florida tentang kelas kreatif dan bagaimana relevansinya dengan produksi ruang-ruang kreatif di perkotaan. Sementara ini, penulis mengemukakan argumentasi bahwa pemikiran tentang Kelas Kreatif dari Florida bukan hal yang baru, namun hanya melanjutkan pemikiran ekonomi berbasis pengetahuan atau ekonomi inovasi dari Schumpeter (1939). Ada dua hal yang menjadi kebaruan (novelty) pemikiran Florida terhadap pemikiran Schumpeter. Pertama, argumen bahwa kelas kreatif memilih tempat-tempat khusus untuk bekerja. Argumen ini mendorong beberapa pemerintah kota membangun tempat-tempat khusus untuk kelas kreatif tersebut, dengan harapan akan mampu menjadi salah satu pembangkit ekonomi kota. Namun argumen ini dipatahkan oleh Moreti (2012), bahwa memang benar kelas kreatif memilih tempat-tempat khusus untuk bekerja, namun tidak sebaliknya, penciptaan tempat-tempat khusus ini mampu menarik mereka untuk bekerja di tempat tersebut. Kedua, pemikiran Florida memberikan ruang bagi para seniman, desainer, jurnalis, dan pegiat humaiora lainnya untuk berpartisipasi dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Ini berbeda dengan ekonomi Inovasi ala Schumpeterian, yang lebih menarik minat para saintis, pencipta teknologi, dan industri-industri besar. Artinya, pemikiran Kelas Kreatif lebih membuka seni dan humaniora sebagai pengetahuan yang bisa ditransformasikan ke dalam kekuatan ekonomi. Dalam beberapa literatur berikutnya (misalnya oleh Yigitcanlar, 2016), memang terlihat upaya untuk mengintegrasikan pemikiran ekonomi inovasi dari Schumpeter dengan kelas kreatif dari Florida dalam kajian tentang penciptaan tempat (place-making) di kawasan perkotaan.

Argumen utama yang ingin dibangun penulis adalah tentang budaya kreatif, sebagai jembatan antara inovasi dan kreativitas. Konsep budaya kreatif dicoba diturunkan dari konsep modal budaya dari Bourdieu, di mana menjadi salah satu modal yang disirkulasikan dalam ruang-ruang sosial. Salah satu bagian dalam modal budaya adalah pengetahuan, dan di sinilah konsep pengetahuan yang punya nilai ekonomi dalam wacana ekonomi inovasi bisa dikaitkan. Artinya, budaya kreatif akan menyangkut kompetensi artistik bagaimana suatu modal budaya, termasuk pengetahuan, disirkulasikan di dalam ruang sosial, bersama modal ekonomi dan modal sosial. Lewat telaah terhadap kafe-kafe yang diproduksi oleh Manual Brew Community d Bandung, tulisan ini diharapkan menjadi satu batu tahapan (milestone) bagaimana budaya kreatif dan place-making bisa masuk ke dalam wacana ekonomi inovasi yang saat ini mampu terus berkembang secara progresif membentuk wacana-wacana baru seperti taman inovasi, start-up, dan yang terbaru industri 4.0.

Referensi:

  1. Allen, W. (2011). Midnight in Paris. Gravier Productions, Mediapro, Televisió de Catalunya (TV3), Versátil Cinema.
  2. Allen, W. (2016). Café Society. Gravier Productions, Perdido Productions, FilmNation Entertainment
  3. Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241-58). Greenwood Publishing Group, Westport.
  4. Dovey, K. (2010). Becoming Places: Urbanism/Architecture/Identity/Power. Routledge, New York.
  5. Ekomadyo, A.S., Nurfadillah, A., Kartamihardja, A., Cungwin, A.J. (2018). Becoming Heritage: A Place-Making Study of Old Neighbourhood Marketplace in Bandung. The 4th PlanoCosmo International Conference, Transforming beyond Borders: Starting the New Urban Agenda. Institut Teknologi Bandung, Bandung, April 2-4, 2018. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 158 (2018) 012012 doi :10.1088/1755-1315/158/1/012012 http://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/158/1/012012
  6. Ekomadyo, A.S. (2019). Evaluating Revitalized Public Markets as Economic and Socio-cultural Places in Indonesia. Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities 27 (2): 963 – 976 (2019). http://pertanika.upm.edu.my/Pertanika%20PAPERS/JSSH%20Vol.%2027%20(2)%20Jun.%202019/15%20JSSH-2245-2017.pdf
  7. Florida, R. (2012). The Rise of the Creative Class, Revisited. Basic Books, New York
  8. Kostof, S. (1991). The City Shaped: Urban Patterns and Meanings through History. Thames and Hudson, London.
  9. Lefebvre, H. (1991) The Production of Space. Blackwell, Oxford.
  10. Oldenburg, R. (1989). The Great Good Place: Cafes, Coffee Shops, Bookstores, Bars, Hair Salons, and Other Hangouts at the Heart of a Community. De Capo Press, Boston.
  11. Moretti, E. (2012). The new geography of jobs. Houghton Mifflin Harcourt Publishing Company, New York.
  12. Novy, J. and Colomb, C. (2012). Struggling for the Right to the (Creative) City in Berlin and Hamburg: New Urban Social Movements, New ‘Spaces of Hope’?. International Journal of Urban and Regional Research DOI:10.1111/j.1468-2427.2012.01115.x
  13. Nugraheni, T. (2018). Gerakan Kafe Berbasis Komunitas di Bandung itu Bernama “Manual Brew Community (MBC)”. https://iplbi.or.id/gerakan-kafe-berbasis-komunitas-di-bandung-itubernama- manual-brew-community-mbc/
  14. Nugraheni, T., dan Nugraha, A. A. (2018). Cafe dan Ruang Narasi Kopi Tyas Nugraheni dan Aris Adhi Nugraha, Penikmat Kopi dan Kafe. https://iplbi.or.id/cafe-dan-ruang-narasi-kopi/
  15. Richardson, J. (Ed) (1986), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241-58). Greenwood Publishing Group. Westport, USA
  16. Schumpeter, J. A. (1939). Business Cycles: A theoretical, historical and statistical analysis of the capitalist process. McGraw-Hill, New York.
  17. Siregar, S. A. (1990). Bandung: The Architecture of a City in Development: Urban Analysis of a Regional Capital as a Contribution to the Present Debate on Indonesian Urbanity and Architectural Identity. Doctoral Theses. Faculty of Applied Science Katholieke Universiteit Leuven.
  18. Soja, E. (1996). Journeys to Los Angeles and Other Real-and-Imagined Places. Blackwell Publishers Inc., Cambridge, Massachusetts
  19. Tjora, A. (2013). Café Society. Palgrave Macmillan, New York.
  20. Vltchek, A. (2016). Insane UN Claim: Bandung is a “Creative City” https://journal-neo.org/2016/02/02/bandung-creative-city/
  21. Webster, H. (2011). Bourdieu for Architect. Routledge, New York.
  22. Yigitcanlar, T., Guaralda, T., Taboada, M., & Pancholi, S. (2016). Place Making for Knowledge Generation and Innovation: Planning and Branding Brisbane’s Knowledge Community Precincts, Journal of Urban Technology, DOI: 10.1080/10630732.2015.1090198