The Bank and the Old Building

by

Agus Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, aekomadyo00(at)gmail(dot)com

 

Sering suatu konsep kita terima dengan “taken for granted”: penjelasan mengapa suatu konsep itu muncul tidak disertakan dengan lengkap. Misalnya di dalam kelas, seorang guru sering bertanya, “Di hutan ada kan…”, lalu dijawab “….cil” oleh murid-murid. Mengapa harus ada kancil di hutan, sepenting apakah kancil untuk anak-anak SD, atau jangan-jangan sosok kancil bagi anak-anak SD hanya ada di dalam cerita dan tidak tahu bentuk kancil sesungguhnya? Coba kalau anak-anak tersebut diajak jalan-jalan ke hutan yang sesungguhnya, maka kalau ditanya apa yang mereka lihat, bisa seharian penuh mereka bisa mengumbar jawaban. Mungkin ada anak yang menceritakan melihat semut, karena kebetulan semut di hutan berbeda dengan semut di rumahnya. Luasnya wawasan akan membuka aneka cara pandang baru terhadap suatu fenomena.

Ketika kuliah saya diantarkan tentang pentingnya preservasi bangunan tua dalam arsitektur. Muncul pertanyaan yang terus menghantui hingga kini: mengapa kita harus memelihara bangunan tua warisan budaya Eropa? Sedangkan saya sendiri belum mendapatkan kesempatan berkunjung ke Eropa, dan “terpaksa” mempelajarinya lewat cerita dan gambar-gambar belaka. Kalau bangunan tua yang diantarkan adalah bangunan candi, ini lebih kontekstual dengan Indonesia, karena dianggap menyimpan nilai-nilai yang bisa menginspirasi deklarasi kemerdekaan Indonesia. Lha, bangunan-bangunan Eropa, buat apa dipertahankan, bukankah kita diajarkan bahwa bangsa Eropa adalah bangsa yang menjajah kita selama 350 tahun? Bukankah banyak cerita kelam tentang penderitaan rakyat pribumi kebanyakan saat Nusantara diduduki oleh bangsa-bangsa? Seorang walikota Bandung pernah menghadapi dilema saat harus melindungi bangunan-bangunan tua warisan penjajah Belanda di kotanya karena dianggap sebagian kalangan sebagai warisan penjajahan (https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-1104300/dada-ada-pro-dan-kontra-soal-nasib-bangunan-tua).

Mengapa bangunan tua warisan Eropa itu menjadi penting? Saya mencoba menjawabnya dengan melepas atribut arsitektur. Saya mencoba memposisikan diri sebagai orang biasa, anggaplah sebagai turis yang gemar memotret. Dan kalau di suatu tempat yang banyak bangunannya, saya cenderung mengarahkan lensa ke sesuatu yang lebih menarik dari sekitarnya. Dan ketika ada bangunan tua bergaya Eropa ada di situ, intuisi saya selalu mengarahkan lensa kamera ke bangunan itu. Ohoy, ternyata bangunan itu lebih cantik daripada bangunan lainnya. Apalagi kalau ada wanita-wanita cantik yang ada di depan bangunan itu, asyik betul saya memotretnya. Dan… aha, mengapa bangunan warisan Eropa itu begitu menarik? Karena ia cantik, karena ia artistik.

Maka serangkaian indoktrinasi preservasi selama kuliah mulai mendapatkan jawaban. Kami diajari tentang suatu karya seni! Nah, mengapa suatu karya seni itu dinilai baik, para seniman bisa memberikan jawaban yang diterima oleh kalangan seniman lainnya. Di lain pihak, penjelasan-penjelasan seni sering berupa ungkapan esoteris yang tidak bisa dipahami oleh kebanyakan orang. Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa beberapa kalangan yang kontra terhadap perlindungan bangunan tua warisan Belanda. Bayangan akan sakit hati di masa lalu mengalahkan apresiasi terhadap karya seni.

Di dunia seni dikenal istilah kurator. Para kurator ini yang memberikan apresiasi mendalam sekaligus kritik terhadap karya-karya seni. Para kurator ini yang rajin menyelenggarakan pameran, membuat diskusi, dan membangun galeri, sehingga cerita-cerita yang terkait dengan karya seni bisa terbangun dan menjadi perbincangan khalayak. Karya-karya besar Paul Cezanne hanya akan dinikmati warga desanya saja kalau tidak ada kurator yang membawanya untuk dipamerkan di Paris, dan di situ Cezanne terkagum-kagum sendiri saat lukisannya diberi pigura. Teman saya, Taufik Rahzen sempat bercerita ia membeli beberapa karya nukil kayu, lalu ia di tempat dan waktu terpisah ia menemukan buku tua yang menceritakan nukil-nukil kayu tersebut, dan ketika ia berhasil mengaitkan cerita keduanya, ia mampu menjual kembali nukil-nukil kayu tersebut dengan harga lebih dari sepuluh kali lipat. Ini rupanya rahasia mengapa karya seni bisa begitu bernilai tinggi. Ada relasi antara seniman, kurator, kolektor, dan masyarakat, yang mempengaruhi nilai suatu karya seni.

Di Semarang, nama Almarhum Pak Eko Budiharjo bisa disebut sebagai kurator bangunan-bangunan tua di kota ini. Akhir tahun 1980-an, saat itu saya masih menjadi siswa SMA di kota ini, beliau banyak menulis artikel-artikel ringan di koran tentang arsitektur dan perkotaan, termasuk tentang keberadaan bangunan-bangunan tua. Ketika mudik setelah menjadi mahasiswa arsitektur di awal tahun 1990-an, penulis sempat berbincang dengan teman semasa SMA –yang kuliah bukan di Arsitektur- namun lancar mengutip pernyataan pak Eko. “..suatu kota akan hilang ingatan jika ia melupangan bangunan-bangunan tuanya”. Sepuluh tahun kemudian ketika saya bertemu langsung dengan, beliau menambahkan dengan, “… maka kalau ada walikota yang tidak peduli dengan bangunan tua maka walikota tersebut dianggap hilang ingatan alias gila. Saya sampaikan ke pak Walikota, ‘Bapak tidak mau ‘kan disebut walikota yang hilang ingatan alias gila?’”. Kekaguman saya terhadap Pak Eko Budiharjo adalah kemampuannya menyampaikan pengetahuan arsitektur dengan ringan dan bercanda, termasuk nilai arsitektur bangunan tua, sehingga bisa dipahami oleh orang awam.

Saya sempat mengikuti bagaimana upaya merawat bangunan-bangunan tua di Semarang. Tahun 1990 saya mengikuti lomba karya tulis tentang perencanaan kota Semarang –karya tulis yang mengantarkan saya memilih melanjutkan studi ke Teknik Arsitektur ITB- dan di situ saya menemukan hasil inventarisasi bangunan bersejarah di kota ini yang disusun oleh Pemerintah Kotamadya Semarang. Tahun 2001 saya diminta membuat video promosi tentang kota lama Semarang, dan mengetahui kalau beberapa tahun sebelumnya telah dibuat Master Plan kawasan ini. Tahun 2010-an saya mulai mengamati banyak aktivitas komunitas yang berlangsung di kawasan kota Lama Semarang. Mungkin generasi sekarang sudah tidak terlalu terikat dengan cerita-cerita kelam tentang penjajahan Belanda, sehingga asyik-asyik saja mereka berswafoto di depan bangunan warisan Belanda. Yang penting keren. Terlebih lagi, warga Semarang gemar memberikan nama-nama lokal untuk bangunan warisan Belanda, seperti Greja Blenduk atau Lawang Sewu. Sepertinya ada gerakan positif warga Semarang untuk merawat bangunan-bangunan tua warisan Belanda, ada sense of belonging, meski sebenarnya itu warisan dari mereka yang dianggap pernah menjajah.

Saat mudik Lebaran tahun 2017, saya menemukan beberapa bangunan tua di Semarang yang bisa terlihat “unik”. Bukan bangunannya yang menarik perhatian saya –itu mainstream buat arsitek-, tetapi logo perusahaan perbankan yang disematkan pada bangunan itu. Total ada 5 logo bank pada bangunan tua yang bisa saya abadikan: QNB di jalan Thamrin, Bank Mandiri di Jalan Pemuda, Bank Mandiri di Kota Lama, ATM BRI di Kota Lama, dan OCBC NISP di Kota Lama. Sebagai perbandingan, ada beberapa Bank di Bandung yang juga menyematkan logonya pada bangunan tua yang dirawat karena menjadi kantornya: Bank BTPN di jalan Dago, OCBC NISP di jalan Asia Afrika, Bank BTPN di kawasan Cikapundung, dan CIMB Niaga di Dago.

Dua tahun lalu saya menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Heritage as Branding”, dengan menghadirkan pengalaman Pak David B. Soediono saat merancang gedung “de Vries” yang kemudian menjadi ikon kantor Bank OCBC NISP di Jalan Asia Afrika Bandung. Rancangan pak David ini dianugerahi IAI Awards tahun 2015. Awalnya saya mengira bahwa ini menjadi bentuk kepedulian para bankir terhadap bangunan tua sebagai suatu aset ekonomi. Dugaan saya ini terkait dengan kiprah seorang ekonomi yang mau menjadi koordinator pengelolaan Kota Tua Jakarta. Tidak mungkin karena idealisme arsitektur, pasti duit yang ada di dalam pikiran sang ekonom tersebut. Ternyata setelah mendapat perkuliahan dari Pak David, kenyataannya tidak sesederhana itu. Proyek itu didapatkan oleh beliau lebih karena ada relasi beliau dengan salah satu petinggi bank tersebut yang pernah menjadi mahasiswa beliau. Namun pak David menghibur, bawa meskipun gerakan ini berjalan lambat, seperti gerakan siput, tetapi mulai tumbuh kepedulian bisnis perbankan terhadap bangunan-bangunan tua (https://ar.itb.ac.id/2016/02/07/heritage-as-branding-pengalaman-merancang-toko-de-vries-bandung/).

Tulisan ini mencoba menawarkan pendekatan baru untuk apresasi terhadap bangunan tua: sudut pandang ekonomi. Pendekatan normatif dan romantisme arsitektur, mungkin masih perlu, tetapi akan membosankan kalau tidak bisa dikaitkan dengan konteks-konteks lain yang lebih luas. Pendekatan normatif (berorientasi pada “seharusnya”) atau romantis (berorientasi pada “akan lebih bagus jika…) juga akan gagap kalau ditanya mengapa kita harus memelihara bangunan tua warisan penjajah terutama kalau dari kalangan-kalangan yang mempunyai concern yang berbeda. Pendekatan bisnis bisa menjadi alternatif, mengingat ekonomi adalah “lingua franca”, “bahasa” yang menjadi kepedulian semua orang. Bagaimana tidak peduli, jika ekonomi adalah pranata manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka, para arsitek dan budayawan, yang memiliki pengetahuan tentang artistiknya bangunan tua, perlu lebih serius untuk belajar tentang ekonomi dan bisnis, agar idealisme dan pengetahuannya bisa relevan dengan kebutuhan manusia. Apresiasi, kritik, dan kurasi terhadap karya arsitektur tidak melulu ekslusif bagi kalangan arsitek, tetapi akan bisa melibatkan banyak pihak. Semakin luas circle of concern terhadap arsitektur, semakin besar peluang arsitektur untuk berkontribusi signifikan bagi masyarakat banyak.