BITA Versus MEA

by

Aminatun Jahroh (15216056)            
Cherryl S. Zadhine (15216040)                 
Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur Institut Teknologi Bandung.

MEA merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yang memiliki pola mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade antara negara-negara anggota ASEAN. Para anggota ASEAN termasuk Indonesia telah menyepakati suatu perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut. MEA adalah istilah yang hadir dalam indonesia tapi pada dasarnya MEA itu sama saja dengan AEC atau Asean Economic Community. Secara umum, MEA bertujuan untuk membentuk komunitas ekonomi tingkat regional antara sesama negara anggota ASEAN sebagai suatau integrasi ekonomi kawasan ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki tingkat daya saing yang tinggi. Selain itu juga untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan pengembangan kebudayaan khususnya di wilayah ASEAN.

Ciri-ciri utama MEA adalah kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, memiliki wilayah pembangunan ekonomi yang merata, daerah-daerah akan terintegrasi secara penuh dalam ekonomi global, dan basis dan pasar produksi tunggal. Ciri-ciri ini akan sangat saling berkaitan dengan kuat. Dengan memasukkan pada unsur-unsur yang paling dibutuhkan dari setiap masing-masing ciri-ciri dan mesti dapat memastikan untuk konsisten dan adanya keterpaduan dari unsur-unsur dan pelaksanaannya yang tepat dan bisa saling mengkoordinasi antara para pemangku kekuasaan atau kepentingan yang punya relevansi.

Secara umum penerapan MEA pada tahun 2015 akan memberikan peluang yang sangat besar bagi negara-negara pesertanya khususnya Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia juga selalu berusaha untuk mempersiapkan diri menghadapi MEA 2015, hal ini dapat dilihat dari pembangunan dan pengembangan infrastruktur penting seperti bandara dan pelabuhan, di berbagai tempat di seluruh wilayah Indonesia.

Bersaing dengan pengembang asing, biro arsitek lokal berusaha bersaing dengan kekhasan yang mereka punya. Memang developer asing kadang masih merendahkan tenaga lokal dibandingkan tenaga asing yang lebih maju dalam hal teknologi dan pengalaman. Dalam hal arsitektural, tenaga lokal mungkin dapat bersaing dengan tenaga asing karena kekhasannya. Namun kekurangannya adalah pengetahuan tentang sistem bangunan (mekanikal, struktual, struktur). Tenaga asing umumnya tahu tentang sistem bangunan dan modular.

BITA aktif berkomunikasi dengan klien. Pada masanya, BITA memilik tenaga konsultan yang lengkap dan pasar saat itu sedang marak-maraknya pembangunan pabrik industry. Tidak banyak perusahaan konsultan seperti BITA sehingga satu-satunya saingan besar adalah konsultan asing. Namun konsultan asing kekurangannya adalah biayanya yang mahal sehingga klien lebih memilih untuk bekerja sama dengan BITA. Hal lan yang perlu dilakukan adalah mengembangan pengetahuan tentang teknologi software. Seperti klien asing yang sudah mewajibkan penggunaan software tertentu dalam proyeknya

ISO (International Organization for Standardization) adalah salah satu standar internasional dalam sebuah sistem manajemen untuk pengukuran mutu organisasi. Mereka memegang peranan penting dalam mengukur bagaimana kredibilitas perusahaan yang ingin bersaing secara global dan juga adalah salah satu cara untuk meningkatkan sistem manajemen mutunya. Mereka yang memiliki sertifikasi ISO akan memiliki kemungkinan lebih untuk memenangkan kompetisi pasar. Hal itu disebabkan karena adanya jaminan kualitas dari produk atau jasa yang ditawarkan, serta kepercayaan konsumen akan brand terkait. Oleh karena itu, BITA harus selalu meng-update ISO mereka untuk menjaga kepercayaan klien.