Cek “Place” Sebelah: “Everyday Architecture” Dalam Sebuah Film

by

Agus S. Ekomadyo, Dosen Arsitektur ITB, aekomadyo00(at)gmail.com

Film “Cek Toko Sebelah” mungkin akan menjadi salah film yang dikenang oleh masyarakat Indonesia saat ini. Film ini tercatat dilihat oleh 2,5 juta penonton. Jumlah luar biasa ini memang berbanding lurus dengan konten yang ditawarkan oleh film ini. Saat usai menonton film ini di sebuah bioskop, penulis mengamati sebagian besar penonton masih terduduk di kursinya masing-masing, tak segera beranjak pergi seperti biasanya ketika credit title mulai dimunculkan di akhir film. Mungkin masih tersimpan di benal kesan mendalam dari film ini, dan berharap tayangan belum berakhir. Bahkan beberapa hari setelah ini, saya juga masih menemukan kawan-kawan yang aktif membincangkan hal-hal menarik dari film ini.

Sambutan hangat masyarakat terhadap film ini karena ia hadir bukan sekadar hiburan semata, tetapi sebuah representasi dari suatu gerakan budaya. Gerakan budaya ini bisa dilacak dengan mulai munculnya atraksi komedi tunggal (stand-up comedy) oleh beberapa anak muda. Seperti acara obrolan Warung Kopi di Radio Prambors di era Orde Baru yang menyajikan kritik melalui lelucon, komedi tunggal di Indonesia juga membawa misi serupa: kritik sosial melalui lelucon. Hanya berbeda konteksnya, kritik sosial komedi tunggal tidak lagi urusan politik, tetapi lebih pada perilaku sehari-hari. Aneka fenomena keseharian seperti berbagai masalah, kontradiksi, penderitaan, absurditas, dan lain-lainnya bisa menjadi bahan untuk merenung melalui tertawa (Kompas 9 Oktober 2011).

Sebagai seorang yang banyak mendalami arsitektur, saya mencoba mencari representasi arsitektur yang tersaji melalui film ini. Dalam arsitektur, dikenal konsep “place” (tempat) untuk membaca relasi antara lingkungan fisik dengan manusia-manusia yang menggunakannya. Secara sederhana, “place” dipahami sebagai ruang fisik (space) yang mempunyai makna tertentu. Lewat konsep “place”, bisa dipelajari bagaimana peran arsitektur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat (everyday architecture).

Dalam “Cek Toko Sebelah”, ada beberapa “place” yang muncul secara dominan. Pertama adalah toko milik koh A Fuk, tempat setting utama film ini. Di sebelahnya, ada toko milik mang Darman, yang maknanya terbangun karena relasi kontestasinya dengan toko milik koh A Fuk. Meski demikian, relasi dua toko ini mampu menciptakan “place” untuk membangun hubungan kasih antara dua orang penjaga toko yang berbeda. Rumah Yohan, anak pertama dari koh A Fuk, menjadi “place” yang maknanya terbangun sebagai tempat ia membangun hidup bersama Ayu, istrinya, yang berbeda etnis dengannya. Anak kedua koh A Fuk, Erwin, sering menggunakan cafe-cafe mewah sebagai “place” untuk membicarakan masa depan hidup bersama pacarnya, Natali. Sementara makam sang Ibu (istri koh A Fuk) menjadi “place” yang menyatukan koh A Fuk dengan kedua anak laki-lakinya tersebut. Ruang tamu milik A Ming menjadi “place” bagi Yohan dalam menyalurkan eksistensi dirinya lewat main kartu bersama 3 orang temannya. Sementara ada sebuah cafe yang menjadi “place” yang merepresentasikan eksistensi Ayu yang ingin mengembangkan bakat memasak yang dimilikinya. Dan aneka “place” hadir dalam film ini, beserta desain arsitekturalnya, dan menggambarkan keberadaannya dalam keseharian manusia. Dan tentu saja hadir bagaimana wujud-wujud arsitektural terancang sebagai latar dari “place” yang tercipta.

Bagi saya pribadi, scene film yang paling menggambarkan “place” adalah ketika toko koh A Fuk telah dikosongkan, yang tersisa hanyalah ruang dengan rak-rak kosong dan sebuah foto mendiang istri koh A Fuk yang masih tergantung di dinding. Dalam ruangan toko yang hampir kosong, koh A Fuk terduduk sendiri, sembari menangis, memandang foto mendiang istrinya dan meratap, karena ia tak sanggup melanjutkan toko yang mereka bangun berdua. Lewat scene ini, saya langsung “ngeh” tentang apa yang dimaksud dengan “place attachment” dan bagaimana konsep ini  hadir dalam keseharian. “Place attachment” saat ini menjadi salah satu kajian para peneliti yang mencoba melihat relasi antara manusia dan lingkungan binaan (https://www.researchgate.net/publication/222246966_Towards_a_Developmental_Theory_of_Place_Attachment). “Place attachment”, atau secara mudah bisa diartikan sebagai keterikatan pada suatu tempat, yang membuat koh A Fuk menjadi sangat terpukul ketika toko tempat ia beraktivitas sehari-hari bersama para karyawan harus ia pindah tangankan.

Tetapi itu persepsi saya secara pribadi, yang pada saat ini kebetulan sedang asyik mempelajari “place”. Bagaimana dengan persepsi dari orang-orang lain? beberapa mahasiswa menuliskan apa “place” yang paling berkesan dalam film tersebut (lihat kutipannya di akhir tulisan ini). Hasilnya, empat mahasiswa menyebutkan toko koh A Fuk yang sebagai tempat yang paling berkesan, satu mahasiswa menyebutkan makam sang Ibu, dan dua mahasiswa menyebut ruang-ruang di rumah sakit. Dua deskripsi “place” di rumah sakit sempat membuat saya terhenyak: ternyata rumah sakit yang dirancang dengan pendekatan standar-standar tetap mampu menghadirkan ruang-ruang emosional. Keberadaan orang yang sakit ternyata mampu membangkitkan emosi dari mereka-mereka yang menjenguknya, dan ini bisa menjadi inspirasi untuk merancang rumah sakit yang menghadirkan ruang-ruang emosional selain pemenuhan aspek fungsional dan standar-standar.

Bagi saya pribadi, kajian “place attachment” dari disiplin arsitektur akan memberikan kontribusi bagi upaya untuk membangun modal sosial (social capital) bagi masyarakat. Dan film “Cek Toko Sebelah” mampu menjadi representasi bagaimana “place attachment” berkontribusi bagi modal sosial bagi orang-orang yang digambarkan dalam film ini. Tetapi itu menurut saya. Bagaimana dengan Anda?

 

Place favorit saya dalam film “Cek Toko Sebelah” adalah toko milik koh A Fuk saat Yohan dan Erwin masih kecil dan Lilyana (Ibu mereka) masih hidup. Toko yang belum besar dan berkembang itu mengingatkan saya akan pasar yang saya kunjungi bersama ibu saya waktu kecil. Toko di pasar itu serupa dengan toko di film yang penuh dengan barang. Scene dan place tersebut memberikan efek nostalgia bagi saya.

Keshia Simatupang

 

Tempat yang paling berkesan bagi saya adalah toko kelontong milik koh A Fuk yang  terletak bersebelahan dengan toko sembako. Setting toko dibuat menjadi sangat mirip dengan toko kelontong di kehidupan nyata dengan adanya interaksi yang terjadi di antara para pegawai yang bekerja di sana dengan elemen-elemen tokoh yang ada di luar seperti pedagang roti, kurir barang, dan juga pegawai di toko sebelah. Toko milik koh A Fuk ini dibuat seolah menjadi hub atau penghubung dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing peran yang ada disana, baik yang ada di dalam maupun di luar toko.

Irfan Nur Fadhilah

  

Tempat yang paling berkesan dilihat dari segi arsitektur adalah toko sembako milik koh A Fuk. Toko tersebut bukan hanya sekedar toko untuk transaksi jual-beli. Namun, tempat itu menjadi awal mula bisnis ketika koh A Fuk mengalami masa-lasa sulit pada awalnya. Tempat itu juga memberi kenangan akan masa-masanya bersama istri tercinta. Ketika mengetahui Erwin tidak berkenan melanjutkan bisnis yang dibanggakannya, Ko A Fuk jatuh sakit dan sangat kecewa bahwa ia harus menjual toko tersebut, ia seperti kehilangan sebagian dari dirinya ketika menghabiskan malam terakhir di dalam toko. Semua kenangan masa lalu seperti terputar kembali. Tempat ini memberi pengalaman ruang dan waktu yang luar biasa untuk penghuninya.

Tiffany Claudia

 

            Place yang menarik bagi saya adalah ruang tamu pada rumah dari koh A Fuk, pada adegan saat Erwin menyatakan bahwa dia tidak akan meneruskan toko sembako milik ayahnya. Banyak interaksi yang berlangsung dalam tempat tersebut dari saat Erwin kecil hingga dewasa. Koh A Fuk yang awalnya keras kepala dan berusaha membujuk anaknya untuk meneruskan usahanya, akhirnya mengurungkan niatnya dan mengaku salah kepada Erwin. Tempat tersebut menjadi lattar dari interaksi yang sebelumnya belum terjadi pada tempat tersebut dan akhirnya membentuk kesan tersendiri pada tempat tersebut,

Haryono Kurniawan

 

Tempat yang paling mengesankan buat saya adalah kuburan ibunya. Disana anak pertama (Yohan) menziarahi ibunya sekaligus menjadi tempat Yohan bercerita akan kejadian sehari – hari. Saya teringat ini akan ayah saya yang kadang – kadang melakukan hal serupa sendiri di makam ayah beliau. Di tempat ini orang dapat merasakan kasih dan sayang meski dari mereka yang telah lama tiada.

Dea Fathur Rochman

 

 Menurut saya, ‘place’ yang paling menarik di film ‘Cek Toko Sebelah’ adalah rumah sakit, ketika ayahnya sedang dirawat, Yohan dan Erwin bertengkar keras membahas ketidakadaan Erwin ketika ibunya meninggal. Mereka juga berseteru mengenai warisan toko ayahnya. Walaupun ayahnya sedang terkapar di kasur, beliau mendengar seluruh pembicaraan mereka.

Melvin Taslim

 

 Scene dalam film “Cek Toko Sebelah” yang paling membuat saya merasakan kesan emosional adalah ketika Erwin, sang adik memberikan teh kepada Yohan, kakaknya ketika sedang menjaga ayahnya di rumah sakit. Di sana, Yohan dan Erwin seakan kembali ke masa lalu, ke masa ketika ibunya masih hidup, menceritakan kedekatan mereka berdua dan betapa Erwin sangat mengidolakan kakaknya. Yohan pun mengatakan dengan sejujurnya, bahwa tujuannya untuk meneruskan usaha toko bukan untuk tujuan yang egois melainkan karena itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari ibunya. Rumah sakit merupakan salah satu ruang tempat biasanya emosi tertumpah dan tercampur. Film ini berhasil membawakan emosi yang tepat dalam scene ini walaupun ruangan secara fisik terasa kaku. Memberikan suatu pelajaran bahwa untuk mengenang suatu ruang dalam memori hidup kita, tidak selalu harus berada di tempat tersebut, yang diperlukan adalah orang-orang yang terlibat dalam memori itu serta suasana ruang yang cukup mendukung.

Ikyu Tirtodimedjo