Filosofi Desain Nakamura Yoshifumi

by

Irene Debora Meilisa Sitompul | Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur ITB | Email iren.debora(at)yahoo.com

Nakamura Yoshifumi, lahir di prefektur Chiba, Jepang pada tahun 1948. Ketika ia berumur enam tahun, ia menemukan sebuah lokasi yang pas di bawah alat mesin jahit ibunya yang kemudian menjadi alasan mendasar penentuan karir hidupnya. Nakamura menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mencari jawaban dari pertanyaan “What makes a dwelling.”

Perjalanan Karir

Nakamura Yoshifumi lulus dari Departemen Arsitektur Universitas Seni Mushashino pada tahun 1972. Setelah lulus ia bekerja sebagai asisten arsitek di sebuah perusahaan desain di bawah arsitek Tsunenobu Shinji, seseorang yang berspesialisasi dalam bidang perumahan. Pada saat itu Nakamura sudah menentukan bahwa ia pun ingin menjadi seorang arsitek spesialis dalam bidang perumahan. Namun, ketika krisis minyak pada tahun 1973 terjadi, Nakamura tidak berhasil mempertahankan pekerjaannya dan mengundurkan diri pada tahun 1974.

Dua tahun kemudian, dia mendapatkan pekerjaan sebagai asisten seorang desainer furnitur sekaligus arsitek, Junzo Yoshimura. Namun pekerjaan ini juga tidak bertahan lama, Setelah empat tahun, Nakamura di pecat dari tempat tersebut.

Pada tahun 1981, ia memulai bisnisnya sendiri dan membuka tempat praktek yang ia namakan Lemming House. Namun sebagai seorang arsitek tak bernama sangat sulit untuk mendapat klien, beliau tidak berhasil memenangkan projek desain apapun.

Titik balik karirnya terjadi enam tahun setelah ia membuka prakteknya, yaitu ketika ia menerima permintaan untuk mendesain sebuah pondok di pegunungan. Bangunan ini dinamakan Mitani Hut, sesuai dengan nama pemilik nya. Bangunan yang berada di lahan miring ini menghadap ke arah Utara sehingga pada saat musim dingin, sedikit sekali sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan. Untuk mengatasi hal ini, Nakamura memutuskan untuk menggunakan panel kaca di atap nya dan menutupi nya dengan kain putih pada bagian dalam rumah. Ia percaya bahwa dengan melakukan hal tersebut, sinar matahari dapat tersebar dengan merata pada seluruh bagian rumah dan untuk tidak melakukan hal itu akan sangat mengurangi kenyamanan di dalam rumah. Dalam hal ini Nakamura berpegang teguh pada pendapatnya dan berhasil meyakinkan klien untuk memasang kain di dalam rumah itu. Pada akhirnya, prediksi Nakamura terbukti benar dan hingga saat ini pemilik rumah masih menggunakan kain yang sama pada pondok kecil nya itu. Rumah ini kemudian mendapatkan penghargaan 1st Yoshioka Prize pada tahun 1987 dan merupakan alasan Nakamura tetap bertahan untuk menjadi arsitek.

 Irene - Nakamura (3)

 Gambar 1: Mitani Hut.

Proses Desain

Sejak awal fokus mendesain Nakamura terletak pada manusia dan kenyamanan yang harus diterima oleh penghuni sebuah bangunan. Ia mengatakan bahwa ia ingin mendesain rumah yang nyaman ditinggali senyaman memakai memakai pakaian sehari – hari. Broadbent (1973:12) mengatakan bahwa “The point at issue, then, is whether our architect ought to be interested in people or in things. If they are interested in people they may be cyclothymic, divergent, verbal, imaginative, empirical in their approach and anxious to satisfy human needs.”

Pernyataan dari Broadbent tersebut otomatis menempatkan Nakamura sebagai orang yang divergen, sesuai dengan pembagian oleh Liam Hudson. Namun Hudson kemudian menarik sebuah kesimpulan (dalam Broadbent, 1973:14) bahwa “the scientist searches for control over things which he treats as though they were people; the arts man searches for control over people which he treats as tough they were things.” Yang menariknya hal ini juga sangat sesuai digunakan untuk mendeskripsikan seorang Nakamura Yoshifumi.

Setiap hari, di kantornya, Nakamura memulai pekerjaan pada saat jam makan siang. Ia dan semua karyawannya berkumpul bersama di ruang makan dan makan siang bersama. Nakamura memiliki sebuah kepercayaan bahwa untuk membuat rumah yang sederhana, kuncinya adalah kegembiraan. Oleh sebab itu juga kantornya juga dipenuhi oleh banyak mainan. Ketika klien datang, Nakamura akan mengajak kliennya untuk bercakap – cakap. Namun ia tidak akan menanyakan hal – hal teknis seperti seberapa besar ruang tamua yang klien inginkan atau apa permintaan – permintaan khusus dari klien. Sebaliknya, dia bercakap – cakap tenatng hal sehari – hari, seperti kebaiasaan klien dan apa yang mereka sering lakukan. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencoba mendapatkan perasaan dari sang klien. Nakamura mengatakan bahwa klien sebenarnya tidak tahu rumah seperti apa yang ia inginkan karena hal yang mereka inginkan tersimpan dalam alam bawah sadar mereka dan keinginan itu hanya dapat keluar melalui percakapan mengenai hal  sehari – hari itu. Tujuan percakapannya dengan demikian adalah untuk menarik keluar keinginan alam bawah sadar sang klien.

Selanjutnya Nakamura akan datang ke tempat lahan rumah akan dibangun dan dia kemudian berusaha ‘menenun’ sebuah cerita ke dalam rumah. Oleh sebab itu dia mengatakan bahwa lahan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun rumah. Berangkat dari lahan, Nakamura memulai menggambar. Dalam langkah ini, kesimpulan dari percakapannya dengan klien digunakan untuk menempatkan ruang – ruang dalam rumah. Ketika ia mencapai langkah terakhir dalam mendesain rumah, ia kemudian melupakan tentang kliennya dan mengalihkan fokusnya kepada rumah itu sendiri. Nakamura mengatakan bahwa rumahlah yang memegang peran utama. Hal terakhir yang Nakamura selalu lakukan adalah membuat maket rumah yang ia desain. Melalui maket lah ia mempresentasikan desainnya pada klien.

Oleh sebab itu, cara mendesain Nakamura tidak bisa dikatakan menganut desain pragmatik, ikonik, analogik, maupun kanonik. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, fokus utama Nakamura adalah orang yang tinggal di dalam bangunan beserta kenyamanannya. Oleh sebab itu, tipe mendesain klasik seperti yang disebutkan tidak sesuai untuk mendefinisikan cara mendesain Nakamura. Tentu saja pertimbangan – pertimbangan tentang material (seperti dalam desain pragmatik), iklim (ikonik), analogi (analogik) maupun proporsi (kanonik) juga dipikirkan, namun yang paling utama adalah pengguna.

Nakamura mengatakan bahwa rumah bukan hanya sebgai sebuah kotak yang diberi ruang dan kemudian ditinggali, namun rumah juga berfungsi sebagai tempat untuk menjaga semangat, mimpi dan aspirasi dari sang penghuni. Salah satu kliennya mengatakan bahwa rumah yang Nakamura desain memberi relaksasi murni, dimana anak – anaknya dapat tumbuh dengan bahagia. Klien yang lain mengatakan ada sebuah kecerdikan dalam meletakkan jendela – jendela di rumah, yang dalam istilah teknis nya penggunaan ruang. Satu alasan paling penting mengapa Nakamura berhasil mendesain rumah seperti itu adalah karena dia sangat memperhatikan detail – detail kecil dari seorang klien. Hal ini sekali lagi menekankan bahwa beliau merupakan tipe orang divergen dan memiliki toleransi yang sangat besar terhadap manusia yang akan berinteraksi dengan bangunan yang ia desain.

(Artikel ini merupakan bagian dari tugas matakuliah AR2211 Teori Desain Arsitektur tahun 2015)