Gede Kresna : Keselarasan dengan Alam dan Lingkungan

by

Clara Christy Tavis, Thea Oribel, Irfan Setiawan, Yasmin Chairani Ulfhah, Fatimatuz Zahra

Mahasiswa Sarjana Arsitektur ITB

Email korespondensi: clara_tavis@yahoo.com

 

Pengalaman Rasa

Rumah Intaran dan juga Bali Utara bukanlah tempat yang sempurna

Namun inilah yang kami punya dan harus kami jaga

Pengetahuan dan kesadaran kami masih sangat terbatas

Itu sebabnya kami senang jika banyak orang datang

Karena kedatangan orang-orang selalu menjadi momentum yang baik bagi kami untuk belajar lebih banyak

Apa yang kami sampaikan kepada Anda bukanlah gaya hidup yang terbaik

Bukan juga bunga rampai kualitas pedesaan yang terbaik

Karena yang terbaik adalah melarutkan diri dalam segenap gerak kehidupan keseharian di desa

Membangun mentalitas rajin sebagaimana petani total menerima segala kelebihan dan kekurangan

Sebagaimana mereka yang telah total mendedikasikan diri untuk menjaga sumber-sumber pangan, sumber-sumber air, dan juga menjaga kualitas oksigen yang tak lain adalah orang-orang desa yang berkeseharian dalam kebersahajaan

Mereka guru-guru kehidupan kita

Kepada mereka lah semestinya kita lebih banyak belajar

Beliau berpesan agar mahasiswa arsitektur sadar bahwa mereka bukanlah agen industri

 

 

Mengenal Sosok Gede Kresna

Gede Kresna merupakan salah seorang arsitek yang sudah lama berkarya di bidang arsitektur Indonesia. Pria kelahiran Bali, 15 Agustus 1974 ini, menyelesaikan pendidikan menengahnya di Buleleng, Bali Utara, dan kemudian melanjutkan kuliah arsitektur di Universitas Indonesia pada tahun 1994. Gede Kresna sempat bekerja di Jakarta selama beberapa saat hingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan sebuah bironya sendiri yang bernama Rumah Intaran. Nama Rumah Intaran ini terinspirasi dari kegunaan pohon intaran yang sangat beragam, baik sebagai obat-obatan hingga sebagai pelepas oksigen yang cukup banyak ke alam bebas. Gede Kresna berharap Rumah Intaran dapat menjadi “obat” bagi permasalahan yang sedang atau akan dihadapi Indonesia dan memberikan kegunaan bagi nusa dan bangsa.

Gambar 1: Gede Kresna dan Ayu Gayatri Kresna

 

Gambar 2: Pohon Intaran (kiri) dan Rumah Intaran (kanan)

Sadar akan kecintaannya pada budaya sejak Beliau masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, Gede Kresna telah menetapkan sebuah tujuan dan fokus dalam hidupnya. Tujuan utama dalam hidupnya yakni melestarikan budaya Indonesia dan membantu kesejahteraan rakyat Indonesia. Beliau berusaha untuk melestarikan budaya dan membantu kesejahteraan rakyat melalui arsitektur. Jadi sebenarnya, arsitektur merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mencapai tujuannya tersebut. Menurutnya, mendapatkan sesuatu yang bukan merupakan bagian dari tujuannya adalah hal yang tidak penting.

Gede Kresna menganggap nama dan ketenaran bukanlah hal yang perlu dikejar karena hal tersebut tidak sesuai dengan tujuannya. Beliau bahkan tidak mementingkan berapa jumlah proyek yang harus didapatkan dalam setahun, karena fokus Beliau terletak pada kualitas kultur pada setiap bangunannya. Dalam setahun, Beliau hanya menerima 1 hingga 2 proyek. Gede Kresna bahkan tidak mengambil ijazah kelulusannya di Universitas Indonesia, karena menurutnya, ijazah hanya akan menjadi beban dalam hidupnya dan membatasinya dalam berkarya. Ijazah dianggapnya sebagai beban untuk bekerja dengan orang lain, yang tentunya tidak sesuai dengan tujuannya yaitu menjadi “obat” untuk Indonesia. Dengan menganalogikan mimpi sebagai terbang ke angkasaGede Kresna berkata, “Untuk terbang sebebas-bebasnya di angkasa, tidak akan dapat dirasakan seseorang apabila orang tersebut membawa beban dalam hidupnya”.

Selain itu, salah satu alasan Gede Kresna memilih arsitektur sebagai jembatan dalam mencapai tujuannya adalah karena arsitektur diyakini dapat menjadi sebuah alat untuk merealisasikan nilai-nilai budaya yaitu melalui sebuah bangunan. Kecintaan Gede Kresna terhadap Nusantara telah mendorong beliau untuk banyak belajar tentang budaya-budaya yang dimiliki tiap suku di Indonesia dan baginya, Indonesia merupakan negara yang sangat berpotensi akan keindahan budayanya. Oleh karena itu, Gede Kresna akan selalu menonjolkan potensi keindahan budaya masing-masing daerah pada setiap desain bangunannya. Rumah Intaran yang didirikan Gede Kresna pun melakukan banyak kegiatan didalamnya, dan arsitektur hanya mendapatkan sebagian kecil dari porsi kegiatan keseluruhan. Rumah Intaran sebenarnya menitikberatkan persoalan jangka panjang yang akan dihadapi Indonesia kelak, yaitu kelangkaan pangan. Oleh karena itu, kegiatan seperti riset pangan, sosial kultur, eksplorasi material, menanam pohon, dan sebagainya lebih banyak dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut ia harapkan dapat mengurangi krisis multidimensi yang sedang melanda kita sekarang.

 

Proses Desain dan Alur Berpikir

Dalam proses merancang, Gede Kresna sangat menitikberatkan pada budaya. Jika kita lihat pada keseluruhan karya-karya Gede Kresna atau penelusuran secara tangible, unsur budaya akan terlihat sangat menonjol. Jika dibuat secara skematik, alur berpikir Gede Kresna dapat dituliskan dalam urutan Budaya, Arsitektur, dan Realisasi. Budaya dapat diwujudkan melalui berbagai ornamen-ornamen pada bangunan. Misalnya, pada salah satu karyanya yaitu Rumah Batubulan, terdapat banyak ukiran-ukiran yang pada pintu, jendela maupun dinding rumah untuk menunjukkan budaya lokal di daerah tersebut. Karya lainnya yaitu Rumah Tepi Sawah yang juga menunjukkan berbagai ukiran-ukiran pada langit-langit rumah sebagai representasi dari budaya yang ada.

Gambar 3: Rumah Batu Bulan

 

Gambar 4: Eksplorasi material kayu pada rumah Tepi Sawah

Dengan berpegang pada konsep desain yang tradisional, Gede Kresna juga sangat memperhatikan bahan atau material bangunan yang digunakan. Begitu pula dengan Gede Kresna, hampir semua material yang digunakan Gede Kresna berasal dari alam. Menurutnya, permasalahan yang muncul ketika memilih material alami, seperti perawatan yang merepotkan hanyalah persepsi. Padahal, sebagai contoh, atap rumbia yang telah digunakan selama 15-20 tahun dapat dimanfaatkan kembali sebagai sagu. Jadi, nilai guna dari material alami tidak seketika hilang. Tugas kita adalah mencari pengetahuan tentang bagaimana caranya memanfaatkan material alami sebaik-baiknya. Selain itu, menurut Gede Kresna, saat ini, banyak masyarakat Indonesia berpikir bahwa kayu merupakan bahan yang sudah mulai sulit untuk dicari. Padahal, jika dilihat lebih dalam ke akar permasalahannya, kegiatan perindustrianlah yang menyebabkan kayu menjadi bahan bangunan yang langka, terutama perindustrian di bidang kelapa sawit yang mengeksploitasi lahan perkebunan di Indonesia. Gede Kresna menjelaskan bahwa telah terjadi pembohongan publik akan kelangkaan bahan kayu yang diakali oleh pihak industri. Persepsi masyarakat ini tentunya bertentangan dengan karya yang selama ini dihasilkannya. Salah satu contohnya adalah Rumah Intaran. Material-material yang digunakan untuk membangun rumah ini berasal dari alam dan sangat ramah lingkungan.

Dalam mengerjakan proyeknya, Gede Kresna juga memperhatikan asal muasal material yang digunakannya.Contohnya, di Rumah Intaran,Gede Kresna mengadakan kegiatan eksplorasi material untuk dapat memilah bahan, meningkatkan kreativitas akan pengembangan material, dan meninjau penggunaan material, contohnya scoring. Saat mendesain proyek untuk klien, Beliau menjabarkan informasi tentang material lokal. Lalu, Beliau membuat scoring lokal material, semakin jauh material yang diambil, scoring semakin rendah. Begitupun sebaliknya, semakin dekat material yang diambil, scoring akan semakin tinggi.

Dalam mendesain, Gede Kresna cenderung menggunakan pendekatan ikonik, dimana bentuk-bentuk karyanya berhubungan dengan cara, kebiasaan, dan budaya masyarakat sekitarnya. Proses perancangannya sangat mementingkan survei lokasi secara langsung agar dapat berkomunikasi lebih dalam dengan masyarakat setempat sehingga Beliau dapat mengetahui kebiasaan dan budaya masyarakatnya serta menggali potensi yang ada di daerah tersebut. Selain itu, Gede Kresna jugaberusaha untuk dapat melibatkan orang-orang lokal dalam pekerjaan pembangunannya.Lebih dalamnya lagi, Gede Kresna juga menerapkan pendekatan empiris dalam proses perancangannya, di mana semua pengalaman akan rasa yang pernah ia alami dalam perjalanan karirnya dituangkan dalam proyek-proyek yang diterimanya.

Gede Kresna juga mengkritisi sistem pendidikan arsitektur yang diterapkan saat ini. Menurutnya, perguruan tinggi atau universitas di Indonesia hampir sama dengan pihak industri yang akan mencetak lulusan-lulusannya untuk bekerja di bidang industri. Semua dilalui tanpa mendalami pengajaran kehidupan nyata dalam bekerja, akar-akar dari permasalahan lingkungan, serta yang terpenting adalah kultur sosial. Saat ini, mahasiswa juga hanya berfokus pada teori tetapi tidak mengerti memiliki bekal akan pengetahuan material.