Manajemen Interior Space untuk Green Building

by

Vidya Fauzianti | Rating Analyst, Green Building Council Indonesia | Email vidyafauzianti(at)gbcindonesia.org

Interior Space vs Green Building

Penerapan green building atau bangunan hijau sudah mulai banyak menarik perhatian banyak developer bangunan di Indonesia, terutama untuk bangunan baru dan bangunan yang sudah terbangun, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, sampai ke gedung pemerintahan. Dalam penerapan konsep green building, standar yang ingin dicapai adalah upaya untuk mewujudkan suatu konsep bangunan hijau yang ramah lingkungan sejak tahapan pemilihan lokasi, perencanaan, konstruksi, sampai dengan pengoperasian dan kegiatan pemeliharaan sehari-hari.  Green building tidak selalu hanya dapat diterapkan pada bangunan megah, besar, tinggi dan mewah. Untuk skala kecil misalnya, Interior Space atau Ruang Interior; dimana aktivitas fit out berjalan yang terkait dengan lantai, dinding, plafon, maupun mekanikal dan elektrikal; juga diperlukan konsep ramah lingkungan misalnya dengan menggunakan sumber daya secara efisien, minimalisasi dampak lingkungan, serta mengutamakan kesehatan dan kenyamanan pengguna ruangnya. Suatu ruang yang didesain dengan memperhatikan kesehatan dan kenyamanan para penggunanya akan menghasilkan respon berupa perilaku positif. Perlu diingat bahwa mayoritas bangunan komersial yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta misalnya, merupakan bangunan yang banyak disewa oleh para tenant. Oleh karena itu, peran tenant untuk sustainabilitas bangunan gedung itu sendiri sangatlah penting dan merupakan faktor mutlak. Dalam penerapan konsep ruang interior yang ramah lingkungan inilah, peran tenant sangat menentukan keberhasilan suatu green building. 

Manajemen Pengguna Ruang

Sering kali aktivitas fit out kurang memperhatikan aspek manajemen, karena alasan skala aktivitas yang tidak sebesar aktivitas suatu bangunan gedung secara utuh. Hal ini sangat disayangkan karena sekecil apapun suatu ruangan tetap merupakan bagian dari bangunan gedung. Seluruh aktivitas dari pengguna ruang sangat menentukan berhasil atau tidaknya penerapan konsep green building itu sendiri. Faktor ini sangat dipengaruhi oleh faktor keterlibatan manusia sebagai salah satu sumber daya yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan suatu bangunan hijau, contohnya pihak manajemen pengguna sebagai pihak yang memegang tanggung jawab dalam manajemen ruang tersebut. Segala sesuatunya sudah harus dipertimbangkan mulai dari tahap desain hingga tahap operasional, termasuk aktivitas konstruksi yang berkonsep ramah lingkungan sampai dengan pelatihan-pelatihan untuk pengguna ruangan (karyawan misalnya) sebagai sarana edukasi mengenai lingkungan dan aktivitas dalam ruang tersebut. Sistem manajemen organisasi yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan lingkungan dan mengelola aspek lingkungannya walaupun hanya dalam skala kecil, sangat menentukan keberlanjutan fungsi dari ruang tersebut.

Koordinasi yang sering diabaikan

Fenomena yang sering terjadi dalam industry bangunan adalah tidak adanya koordinasi yang optimal antara pihak yang terlibat; misalnya saja antara ahli mekanikal elektrikal dengan arsitek.  Dalam konsep green building, koordinasi sangatlah penting; termasuk dalam green interior space. Perlu adanya kerjasama antara ahli akustik, manajemen pengguna, desainer interior, kontraktor, teknisi mekanikal elektrikal, ahli lansekap, supplier, dan juga pengguna ruang. Diperlukan suatu kooordinasi yang baik misalnya saja antara pihak kontraktor dan desainer interior untuk mengumpulkan informasi dan memutuskan tiap detail dari perencanaan dan pembangunan ruang interior tersebut, agar menghasilkan suatu desain yang ramah lingkungan tanpa mengurangi estetika dan kenyamanan para penggunanya, dan juga tetap mempertimbangkan ide-ide, konsep, dan kriteria yang telah ditetapkan oleh pemilik proyek dan desainer yang dituangkan dalam design intent, sehingga ruang tersebut memiliki daur hidup yang panjang dan berfungsi secara optimum dalam penggunaannya.

Penerapan green building tidak terbatas pada teknologi, material, maupun struktur; namun bagaimana bangunan itu dapat berfungsi secara maksimal tanpa mengurangi rasa kenyamanan penggunanya; serta bagaimana perilaku penggunanya untuk menjaga sustainabilitas bangunan tersebut, tanpa memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan komunitas sekitar.