Kota Inovasi yang Membumi

by

Agus S. Ekomadyo, Pengajar di Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, e-mail: agus_ekomadyo(at)yahoo.co.id

Sebutan “Kota Teknologi” (Technopolis) bagi kota Bandung tentu saja menarik perhatian. Modal teknologi memang dipunyai kota ini, yang ditandai dengan banyaknya perguruan tinggi berbasis teknologi atau industri-industri strategis. Namun apakah kota ini sudah mampu menghasilkan aneka inovasi berbasis kekuatan teknologi yang dipunyai? Apakah inovasi dan teknologi yang dihasilkan berakar pada kehidupan masyarakat kota Bandung?

Milieu Inovasi dalam Kehidupan Kota

Gagasan technopolis bukan hal yang baru. Pada tahun 1970-an, gagasan ini pernah dicobakan untuk menciptakan tempat yang nyaman untuk pertumbuhan dan penyebaran industri-industri baru, seperti Akademegorodok di Rusia atau Tsukuba di Jepang. Konsep ini sebenarnya perluasan dari technopark (taman teknologi), yaitu suatu tempat di mana akademisi, industri, dan pemerintah berada pada suatu tempat netral untuk bisa berkolaborai menciptakan aneka inovasi tanpa terhambat birokrasi pada masing-masing pihak.

Meskipun demikian, pengertian technopark tidak sebatas tempat secara fisik, tetapi suatu organisasi. Apalagi ketika inovasi ini menyangkut banyak pihak dengan kepentingan masing-masing, maka bukan sekadar manajemen yang diperlukan untuk mengatur pekerjaan, tetapi tatakelola (governance) untuk mengelola orang-orang. Di sini istilah milieu inovatif (innovative milieu) menjadi kata kunci bagaimana inovasi bisa berkembang dan membentuk jaringan yang lebih luas. Milieu secara sederhana berarti suatu kondisi di mana suatu spesies dapat berkembang dengan baik untuk kemudian terbentuk suatu ekosistem.

Jika taman inovasi ini dibangun berskala kota, maka permasalahan tatakelolanya menjadi lebih kompleks. Apalagi masyarakat kota Bandung yang mempunyai karakter yang unik dengan kompleksitasnya tersendiri. Pemetaan karakter masyarakat, termasuk ekosistem-ekosistem inovasi yang ada, menjadi penting, agar konsep pembangunan kota inovasi yang membumi.

Ekosistem Inovasi pada Karakter Masyarakat Kota Bandung

Namun pertanyaan selanjutnya, adakah karakter inovasi yang dimiliki oleh masyarakat kota Bandung? Para pengkaji budaya mempertanyakan identitias kota ini, dan menyimpulkan bahwa Bandung tidak terbangun oleh akar budaya yang kuat. Berbeda dengan Pulau Bali yang mendapat julukan sebagai pulau Dewata, karena tempat ini mampu menghadirkan aura bagi orang-orang untuk merenung secara mendalam dalam menciptakan karya seni. Atau Yogyakarta, sebagai kota Budaya, di mana setiap sudut kota menjadi ruang-ruang komunal tempat orang berbincang tentang makna hidup dan menjadi inspirasi untuk aneka kreasi.

Bandung didirikan sebagai kota untuk singgah dan bersenang-senang. Maka kota ini lebih punya karakter sebagai sebuah “leisure city”. Masyarakat kolonial membangun kota pelesir di kawasan Bandung Utara. Masyarakat pribumi pun terpengaruh, dan menjadikan pusat kota Bandung, alun-alun, bukan sebagai tempat sakral –sebagaimana kota Jawa pada umumnya- tetapi tempat bersenang-senang dan berbelanja.

Akhirnya masyarakat Bandung secara kultural lebih dikenal serpihan-serpihan kelompok daripada suatu masyarakat yang utuh. Tidak ada nilai tunggal yang dominan dan dipatuhi di kota ini. Hal ini berimbas kurang terbangunnya milieu untuk berproduksi, yang menguat adalah milieu untuk mengkonsumsi. Suasana diskusi menyemau gagasan baru hanya dirasakan pada institusi-institusi teknologi, namun tempat ini selayaknya suatu “pulau” yang terpisah dengan keseluruhan realitas sosial di kota Bandung.

Meskipun demikian, beberapa inovator dari kampus mencoba untuk hadir pada permasalahan nyata di masyarakat. Di ITB, pada masa lalu terdapat tiga pusat penelitian yang berbasis masyarakat, yaitu Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Pusat Teknologi Pembangunan, dan Pusat Penelitian Energi (PPE). Namun kiprah keteknologian ITB di masyarakat menurun drastis semenjak pemberlakuan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/ BKK) tahun 1978. Aktivis teknologi tepat guna kemudian menyebar, dan membentuk banyak organisasi kemasyarakatan akar rumput. Gerakan komunal berbasis ketokohan kemudian juga menjadi pilihan untuk menyiasati minimnya dukungan yang ada. Keberadaan pelaku inovasi ini masih dirasakan ada di Bandung, namun masih terpecah-pecah dan bersifat sporadis.

Suka atau tidak suka, inilah karakter ekosistem inovasi yang dipunyai kota Bandung: sporadis. Berbeda dengan tempat lain yang punya akar budaya kuat, inovasi sporadis di Bandung pun lebih digerakkan oleh motif eksistensi dan bukan menjadi gerakan kesadaran. Kalau mau jujur terhadap fakta ini, masih pantaskah Bandung menyandang predikat kota inovasi atau kota teknologi?

Peran Pemerintah Kota

Akhir dari tulisan ini akan menyoal peran pemerintah kota. Inovasi ternyata membutuhkan campur tangan pemerintah, karena pemanfaatan ipteks merupakan investasi jangka panjang dan tidak efektif bila murni diserahkan ke mekanisme pasar. Di beberapa negara, pemerintah pusat pemberlakukan keringanan pajak bagi industri yang menganggarkan riset untuk pengembangan teknologi.

Lalu apa peran pemerintah kota? Dalam skema desentralisasi di Indonesia, pemerintah kota lebih berperan dalam menatakelola permasalahan di lapangan. Maka intervensi pemerintah kota akan lebih efektif jika menyentuh permasalahan pelaku inovasi di lapangan.

Bagi kota Bandung, ekosistem inovasi masih bersifat sporadis, dan ini merupakan tantangan yang seharusnya direspon oleh pemerintah kota. Kembali ke pengertian technopark sebagai organisasi, maka technopolis pun seharusnya berupa organisasi inovasi yang berskala kota. Dengan prinsip “membangun dari yang sudah ada”, maka memberdayakan unit yang sudah ada menjadi pilihan yang masuk akal. Pemerintah Kota mempunyai unit Penelitian dan Pengembangan (Litbang), yang sebenarnya tidak punya kapasitas untuk melakukan penelitian. Tetapi unit Litbang bisa berperan dalam membangun koneksi riset dari lembaga yang kompeten dengan permasalahan nyata di masyarakat. Jika koneksi ini dikelola dengan baik, paling tidak, ini bisa menjadi upaya yang efektif dalam mengorganisasi jejaring ekosistem inovasi. Maka sebutan “Kota Teknologi”, karena dikelola dengan serius, bukan lagi menjadi gimmick semata.

 

(Artikel dimuat dan disampaikan dalam Forum Asia Afrika, Harian Pikiran Rakyat Bandung, Selasa, 23 Februari 2016)

Materi Presentasi: 2016-02-23 Kota Inovasi yang Membumi (FAA-PR) rsz

Artikel cetak: 2016-02-23 Kota Inovasi yang Membumi (FAA-PR) cetak

 

Workshop
MENULIS BUKU LANJUTAN
Materi dan Strategi,
Jumat dan Sabtu, 5-6 Juli 2019
di Balkondes Karangrejo Borobudur Magelang Jawa Tengah