La La Land, Menjadi “Ndeso”, dan “Indonesian Dreams”

by

Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, ekomadyo(at)itb.ac.id

https://davethenovelist.files.wordpress.com/2016/12/la-la-land-musical.jpg

 

Apa sih bagusnya film Lalaland, hingga sempat mau mendapatkan piala oscar (tetapi nggak jadi)? Kalau dari covernya, awalnya saya menyangka film paling cuma masalah cinta dua pasang kekasih berbalut lagu-lagu dan tari-tari saja. Ternyata lebih dari sekadar menyanyi dan menari, film ini mengisahkan perjuangan dua orang manusia untuk mencapai mimpi mereka, satu sebagai aktris dan satu sebagai musisi. Dan film ini rupanya menyajikan aneka lagu dengan syair-syair yang sangat puitis. Bukan sekadar itu, di akhir film ini pesan tentang “American Dreams”, yang diantarkan dengan pelan-pelan sepanjang film, mendapatkan momentum terpentingnya. Is a dream must comes true? Lihat saja filmnya…

American Dream. Ya, mengapa mimpi Amerika ini relevan dengan Indonesia? Ada persamaan antara Indonesia dan Amerika, yaitu terbentuk bukan karena nation to state tetapi state to nation. Berbeda dengan negara-negara di Eropa, di mana suatu ada bangsa kemudian sepakat membentuk negara, bangsa Indonesia dan Amerika baru dibangun pada saat keinginan untuk membentuk suatu negara akan dideklarasikan.  Bedanya,  bangsa Amerika terbentuk dari aneka etnis yang sebagian besar berasal dari luar wilayah negara ini, sedangkan suku-suku pembentuk bangsa Indonesia sebagian besar berasal di dalam wilayah negara ini.

Ini bisa menjelaskan mengapa “dreams” begitu penting buat Amerika. Mimpi bersama yang menyatukan rakyat Amerika. Martin Luther King memperjuangkan persamaan hak kulit hitam dengan ungkapan “I Have a Dream!”. Atau Donald Trump mengambil hati para voters dengan ajakan untuk meraih mimpi bersama “Make America Great Again!”

Dalam Arsitektur, fenomena American Dreams terlihat pada gerakan New Urbanism di negara tersebut. Beberapa tokoh gerakan ini seperti Peter Calthrope, Peter Kaltz, Andres Duany, dan lain-lain membangun mimpi kota masa depan Amerika yang lebih manusiawi dan efisien. This is the Next American Metropolis”, ujar Peter Kaltz menyatakan manifesto kelompok New Urbanisme. Meski kemudian gerakan ini banyak dikritik karena dianggap lebih sebagai berjualan gagasan daripada mengembangkan aneka solusi permasalahan aktual perkotaan, tetapi di sini kita bisa belajar tentang cara berpikir orang Amerika dalam bergerak untuk lebih maju.

http://www.calthorpe.com/sites/default/files/reduc%20next%20american%20metro.jpg

Relasi Indonesia – Amerika dalam Arsitektur juga terlihat ketika teman-teman arsitek terlihat berselfie dalam acara Diaspora Indonesia mengadirkan Barrack Obama, presiden ke-44 Amerika Serikat, sebagai pembicara kunci di acara ini. Para diaspora meninggalkan Tanah Air untuk bekerja di tanah Amerika dengan membawa mimpi untuk melihat dunia yang lebih luas dan lebih maju. Namun hidup di negeri orang tetap membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Seperti dipesankan pembimbing Tugas Akhir saya Pak Bagoes Wiryomartono bahwa di negeri orang kita adalah “Mr. Nobody”.

Tetapi ternyata orang Indonesia punya mimpi yang lain, yaitu mimpi mempunyai kampung halaman. Menjelang Lebaran tahun 2017, muncul lelucon Cak Lontong tentang tips mudik yang kemudian menjadi viral: “Sebelu pulang kampung, pastikan bahwa Anda punya kampung halaman.” Lelucon yang menjadi penanda bagaimana kemacetan mudik justru membuat iri mereka yang sudah tidak punya lagi punya kampung halaman. Saya pun memposting foto dangau di tengah sawah tidak jauh dari rumah mertua saya, sekadar menjadi “pencitraan” kalau saya punya kampung halaman. Suasana “kampung” memang punya daya tarik tersendiri. Selain lebih “adem” dari hiruk pikuknya kota, di kampug mertua saya bisa menikmati d nasi bungkus tiga ribu rupiah (dan dibungkus full daun pisang, bukan stereofoam). Di sini saya jadi lebih rajin ke langgar, yang jaraknya lebih dekat dari jarak antara bangunan terdepan kampus ITB, tempat kerja saya di kampus, dengan masjid Salman di kampus ini

Menjadi “ndeso” saat ini mungkin menjadi mimpi sebagian masyarakat Indonesia saat ini. Ketika sebagian orang merasa malu karena disebut “ndeso”, saya malah sempat malu karena dianggap “kurang ndeso”. Kejadiannya adalah ketika saya diwawancarai sekelompok mahasiswa TU Delft Belanda yang tengah meneliti tentang kampung di Indonesia. Sebuah pertanyaan “Do you lives in kampung?”, membuat saya sedikit terpatah-patah menjawab pertanyaan ini. Untung pas SMP dan SMA saya sering kongkow-kongkow, bahkan beberapa kali nginep di rumah kawan saya yang ada di kampung. Mudah-mudahan ini bisa menjadi dasar bagi bocah-bocah bule ini supaya informasi dari saya tentang kampung di Indonesia bisa dianggap valid ketika diuji di negeri Belanda sana.

Menjadi tetap “ndeso” mungkin alasan mengapa orang Indonesia rela bersusah payah untuk pulang kampung saat lebaran. Biasanya orang tua menjadi alasan utama. Sebuah foto yang menjadi viral menyebutkan orang tua hanya mengharapkan kedatangan anak-anaknya saat hari raya, bukan harta benda apalagi cerita sukses di kota. Berbakti kepada orang tua ternyata juga membawa pengalaman lain yang juga bermakna. Di setiap pulang kampung selalu saja kami temukan aneka cerita, suasana, dan tempat-tempat unik yang selama ini luput dari perhatian kami. Semakin mblusuk semakin banyak eksotika lokal yang kami temukan. Ada kerinduan, ada perenungan, dan ada pembelajaran ketika kami kembali menjadi “kampungan”.

Jika Amerika punya mimpi, apa mimpi Indonesia? Apakah Indonesia juga membutuhkan mimpi? Bagi orang Indonesia, mimpi punya konotasi yang baik. Ungkapan “mimpi di siang bolong” menjadi konotasi bagi orang yang suka melamun dan tidak produktif. “Mimpi kali, ye…” menggambarkan keinginan yang tidak akan mungkin bisa terlaksana. Mimpi basah, punya konotasi tabu, sehingga tidak terlalu pantas diperbincangkan di wilayah publik.

Bangsa ini punya istilah sendiri yang menggambarkan keinginan kuat untuk maju, yaitu “cita-cita”. Bagi almarhum Ayah saya, cita-cita-lah yang mendorongnya untuk pertama kali bersekolah di luar kampungya untuk kemudian menjadi priyayi dan hidup setara dengan orang-orang kota. Kawan saya rela merantau ke kota sejak SMP demi mengejar cita-cita untuk menjadi mahasiswa ITB. Para pendiri bangsa kita jelas punya cita-cita saat memutuskan untuk mendeklarasikan negara Indonesia, cita-cita yang senantiasa tersimpan dalam gen para pewaris mereka.

Pesan tentang pentingnya cita-cita suatu bangsa tercermin dalam novel Arus Balik karya Pramudaya Ananta Toer Arus Balik. Dikisahkan, bahwa seorang anak yang baru kembali dari perantauan disuruh merantau lagi oleh sang Ayah karena anak tersebut dianggap tidak punya cita-cita yang kuat. Arus Balik adalah perenungan Pram arus bangsa ini yang saat ini tengah membalik: dulu pernah kuat mempengaruhi dunia, kini justru melemah didominasi kekuatan-kekuatan lain. Arus balik ini terjadi akibat bangsa ini semakin melemah dalam membangun cita-cita bersamanya, dan malah terjebak pada kepentingan jangka pendek atau konflik-konflik internal.

http://i.gr-assets.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1463799193i/963151._UY575_SS575_.jpg

Menjadi ndeso bukan sekadar bermimpi, ini adalah upaya untuk merenung kembal (to retreat) sejanak mundur, untuk mempertanyakan kembali apa cita-cita bangsa ini. Setelah sekian lama cita-cita direduksi menjadi serangkaian jargon seperti menjadi dokter dan insinyur atau menciptakan manusia Indonesia seutuhnya, sudah saatnya bangsa ini dengan jujur menuliskan kembali cita-cita. Ungkapan yang tidak harus terlihat hebat, tetapi jujur dan mewakili hasrat terdalam. Hanya kejujuran yang mampu menyingkap mimpi-mimpi semu yang membentuk masyarakat delusif.

Kalau begitu, apa cita-cita Anda, cita-cita saya, dan cita-cita kita? Mungkin cita-cita yang sederhana, seperti menghibur wong ndeso. Seperti menjadi penyanyi dangdut adalah cita-cita Cita Citata yang sudah sejak lama Cita Citata cita-citakan.