Lingkungan Binaan sebagai Mediator Religiusitas dan Pembangunan Masyarakat

by

Belajar dari Penelitian Terapan dan Pengabdian Masyarakat di Ciwidey, Burangrang, Cisema, dan Kebon Bibit Bandung

Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, emailL aekomadyo00(at)gmail.com

Bagian dalam buku: “Research, Innovation, and Partnership ITB 2018” diterbitkan oleh Kantor Wakil Rektor Inovasi Riset dan Kemitraan (https://wrrim.itb.ac.id/ )

Pengetahuan tentang peran religiusitas dalam pembangunan masyarakat ditemukan saat peneliti melakukan penelitian tentang gerakan sosial berbasis pertanian di Kawasan Ciwidey, Kabupaten Bandung (Ekomadyo et al.,2015). Ada dua kelompok tani yang diteliti, yaitu pesantren Al Ittifaq, sebuah lembaga pendidikan Islam yang juga mengajarkan pertanian buat anak didiknya,  dan Kelompok Tani Cisondari, yang mengembangkan pertanian organik dan disokong oleh Koperasi Melania yang berafiliasi dengan komunitas Katholik (Gambar 1). Ditemukan, bahwa gerakan pengembangan masyarakat pada kelompok masyarakat ternyata didorong oleh dorongan untuk beramal yang didasarkan pada semangat religiusitas masing-masing kelompok (Nurfadillah, et al., 2019).

Gambar 1: Diskusi dengan tokoh masyarakat dan gagasan pasar tani di Ciwidey (sumber: Ekomadyo et al., 2015)

Dari temuan, ini peneliti mengembangkan beberapa program perancangan lingkungan binaan berbasis pesantren untuk pengambangan masyarakat. Yang pertama adalah perancangan fasilitas inovasi petani kopi di lerang gunung Burangrang, Kabupaten Bandung Barat, bekerja sama dengan Pesantren At Taqwa, menyediakan fasilitas bagi santri bersama masyarakat mengembangkan komoditas kopi (Ekomadyo et al., 2018). Yang kedua adalah perancangan fasilitas inovasi dan pelatihan ternak terpadu di kampung Cisema, Banjaran, Kabupaten Bandung, bekerja sama dengan Yayasan al Amin, merencanakan pesantren tempat santri berlatih dan mengembangkan inovasi ternak domba bersama masyarakat (Ekomadyo, et al. 2019b). Kedua pesantren tersebut berada di bawah binaan DPW Hidayatullah Jawa Barat, dan dari kegiatan pengabdian masyarakat tersebut beberapa pengasuh pesantren berencana melanjutkan pendidikan pasca sarjana pada Program Magister di ITB (Gambar 2).

Gambar 2: Desain ruang inovasi kopi Burangrang, diskusi inovasi ternak di Cisema, dan penjajagan kerjasama pendidikan antara ITB dan DPW Hidayatullah Jawa Barat (sumber Ekomadyo et al., 2018b, Ekomadyo et al., 2019a)

Penerapan semangat religiusitas ini juga diterapkan pada penelitian terapan untuk penciptaan pasar tematik kreatif perdesaan bertema Astronomi di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Bekerja sama dengan observatorium komunitas “Imah Noong”, yang dipimpin oleh alumni ITB dan alumni pesantren Tebu Ireng, desain dan teknologi tepat guna dikombinasikan dengan tradisi salawat untuk menarik pengunjung pasar (Ekomadyo, 2018a). Semangat yang dibangun adalah memadukan tradisi keagamaan dan kreativitas desain lingkungan binaan untuk pengembangan kewirausahaan setempat (Gambar 3).

Gambar 3: Gagasan pasar bertema astronomi di Lembang kemungkinan integrasi sains dan tradisi keagamaan untuk menarik pengunjung (sumber Ekomadyo, 2018a)

Berbagai pengetahuan lapangan tentang relasi religiusitas, pengembangan sosial, dan lingkungan binaan dicoba didiskusikan secara serius dengan Badan Pengkajian dan Penerbitan (BPP) Masjid Salman ITB. Setelah ujicoba penelitian tentang program Rumah Sahabat Salman ITB (Riyadi, et al.,2017) dan ditemukan bahwa lingkungan binaaan berperan dalam gerakan kemasyarakatan oleh program tersebut (Ekomadyo et al., 2019b), dikembangkan sebuah program kuliah publik bertema “Islam dan Perubahan Masyarakat” (Ekomadyo, et al., 2019c). Lewat program ini akan dihasilkan antologi buku sebagai kumpulan pengetahuan dari pengalaman praktis, bagaimana Islam berperan dalam perubahan masyarakat, dan bagaimana peran teknologi, termasuk lingkungan binaan, dalam perubahan tersebut (Gambar 4).

Gambar 4: Temuan penelitian tentang Rumah Sahabat Salman dan salah satu poster kuliah publik Islam dan Perubahan Masyarakat (sumber: Riyadi 2017 dan Ekomadyo 2019c)

Dengan meletakkan arsitektur sebagai bagian dari lingkungan binaan, maka arsitektur lebih dilihat relasinya dengan konteks masyarakat dan lingkungan yang di sekitarnya (Batruska, 2007). Sebagai sebuah manifestasi dari teknologi, lingkungan binaan berperan sebagai pelaku bukan manusia (non-human actors) yang berperan sebagai delegasi dari kehendak pelaku manusia (human actors). Teknologi bisa menjadi “script” yang dibuat oleh aktor manusia agar aktor lain berbuat sesuatu untuk tujuan kolektif (“script to make another human actors to do something to gain collective goals”) (Latour, 1999). Belajar dari riset terhadap Pesantren Al Ittifaq dan Rumah Sahabat Salman, lingkungan binaan berperan sebagai mediator bagaimana nilai-nilai keagamaan berperan dalam pengembangan masyarakat, sebagai agen bagi masyarakat dalam mempelajari sumber-sumber nilai keagamaan (Riyadi, et al., 2018). Artinya, agama bisa menjadi dasar kelompok masayrakat tertentu untuk pengembangan masyarakat, dan lingkungan binaan dirancang sebagai agen dari gerakan pengembangan tersebut.

Referensi

  1. Batruska, T.J. (2007). The Built Environment: Definition and Scope. In McClure, W., and Bartuska, T.J, (2007). The Built Environment: A Collaborative Inquiry into Design and Planning. John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey.
  2. Ekomadyo, A.S., Mukhith, A.T., Nurfadillah, A., Maulana, A.T. (2015). Models of farmers market by synergizing farming and tourism to develop local entrepreneurship in Ciwidey, Bandung. Research Report. Institute for Research and Community Service ITB.
  3. Ekomadyo, A.S. (2018a). Model of theme-based creative rural market by place-as-assemblage approach. Case: astronomical-theme market in Wangunsari village in Lembang Bandung. Research Report. Ministry of Research Technology and Higher Education Republic of Indonesia.
  4. Ekomadyo, A.S., Dwiartama, A., Santri, T., Maulana, A.T. (2018b). “Assemblage Place-Making” approach for design of innovation space for coffee farmers in Burangrang Bandung. Research Report. Institute for Research and Community Service ITB.
  5. Ekomadyo, A.S., Dwiartama, A., Maulana, A.T., Santri, T. (2019a). Development of integrated facilities for livestock innovation and training in Kampung Cisema Bandung. Research Proposal. Institute for Research and Community Service ITB.
  6. Ekomadyo, A.S., Riyadi, A., Rusli, S., Aditra, R.F. (2019b). The role of built environment in collective learning: case rumah sahabat salman. Paper submitted to Indonesian Journal of Science & Technology. Forthcoming
  7. Ekomadyo, A.S., Rusli, S., Dwiartama, A., Riyadi, A. (2019c). Public lecture islam and social change. Proposal. Studia Humanika Masjid Salman ITB
  8. Latour, B. (1999). Pandora’s Hope: Essays on the Reality of Science Studies. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press
  9. Nurfadillah, A., Yuliar, S., Ekomadyo, A.S. (2019). Religiusitas, perubahan masyarakat, dan pembangunan, studi kasus koperasi Pesantren al Ittifaq dan Kelompok Tani Cisondari di Kabupaten Bandung. Paper submitted to Jurnal Salman. Forthcoming
  10. 10.  Riyadi, A., Ekomadyo, A.S., Rusli, S. Nuzzela, S., Yuliar, S. (2017). Local Wisdom for Social Learning: Case of Rumah Sahabat Salman. HABITechno International Seminar – Ecoregion as a Verb of Settlement Technology and Development for Sustainable Urbanization. Institut Teknologi Bandung.
  11. Riyadi, A., and Yuliar, S. (2018). Islamic Learning as Quranic Textual Learning. Presented at International Conference on Re-Learning To Be Human for Global Times; A Dialogue Between Islam and Culture, 3-4 January, Paramadina University, Jakarta, Indonesia