Menggali Sumur dari Tokyo ke Bandung: Inspirasi dari LABO Architecture+Design

by

Muhammad Fahmi Widiarto (15216024)      
Mutiara Asmara Pertiwi (15216066)
Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur Institut Teknologi Bandung

Ada satu pepatah yang pernah lewat di telinga penulis: Segala sesuatu harus dimulai dari bawah, kecuali menggali sumur. Maksudnya, segala sesuatu pasti bermula dari hal yang kecil dan remeh. Ibarat menumpuk-numpuk butiran pasir hingga menjadi gunung. Contoh nyatanya, kita sering mendengar kisah perusahaan raksasa yang dirintis dari sebuah bilik kecil di rumah. Sebut saja yang kelas nasional seperti Bukalapak, ataupun kelas dunia seperti Apple. Saat baru berdiri, kantornya sama-sama hanya sebuah meja di garasi sang pendiri, dengan staf yang bisa dihitung sebelah tangan dan alat seadanya. Sama-sama punya keinginan berkembang, pindah ke kantor mentereng dengan staf yang banyak nan produktif. Siapa tahu, suatu hari juga bisa punya kantor di luar negeri.

Namun, selalu ada pengecualian dari hal yang lazim. Di dunia arsitektur dan desain, misalnya, ada firma lokal LABO yang jalur pendiriannya bisa dibilang terbalik kalau dibandingkan yang lain. Ketika arsitek-arsitek lain, baik perorangan maupun dalam biro, berjuang untuk bisa menjejakkan kakinya di mancanegara, LABO justru lahir di mancanegara—di Tokyo, Jepang—dan berusaha menjejakkan kakinya di tanah air. Sekilas, bisa saja firma ini dikatakan contoh dari fenomena gali sumur yang disebutkan di awal. Memulai dari titik “atas” menurut kacamata Indonesia, khususnya mereka yang mengidam-idamkan paparan internasional. Belum lagi, mereka sudah punya portofolio konkret di luar negeri.

Namun begitu, tentu saja LABO juga dimulai dari awal yang sederhana.

Nelly Daniel, principal dari LABO Architecture+Design, menceritakan kisahnya ketika ditemui di kantornya di bilangan Dago, Bandung (27/4/2018). Bersama suaminya, Deddy Wahjudi, Nelly sepakat untuk mendirikan biro arsitektur dan desain. Kala didirikan di Tokyo tahun 2006, LABO—diambil dari laboratorium—tak ubahnya kata ganti dari pasutri tersebut. Berkedudukan di kediaman keluarganya, LABO didirikan dengan tujuan “memberikan nilai tambah bagi alam dan manusia”. Hingga 2007, mereka bekerja berdua hingga akhirnya mereka bersama kedua anaknya memilih pulang kampung ke Bandung. Meski begitu, bukan berarti biro yang mereka bangun lantas bubar jalan. LABO kemudian didirikan ulang segera setelah mereka kembali ke tanah air, dan resmi menjadi sebuah PT pada 2008. Kantor lamanya di Tokyo pun masih dipertahankan sebagai perwakilan, meski kebanyakan aktivitas LABO kini berbasis di Bandung.

“Kami ingin menjadikan LABO sebuah pengabdian dari kami,” menurut Nelly. “Dan tujuan kami akan lebih mudah tercapai bila kami mengabdi di tanah air. Oleh karena itu, kami pulang.”

Dari sini, barulah LABO “memutar ulang” kisah klasik perusahaan kondang yang dimulai dari kantor rumahan. Dari garasi rumah Nelly di bilangan Gatot Subroto, LABO mulai memasarkan diri lewat sayembara-sayembara. Mengikuti berbagai sayembara di dalam dan luar negeri. Menurut Nelly, mengikuti sayembara adalah suatu cara untuk membangun jaringan dan kepercayaan klien dan calon klien. Penyelenggara sayembara pun tak ragu untuk mengundang mereka untuk mengikuti lebih banyak sayembara. Tawaran-tawaran proyek pun bermunculan dari berbagai pihak, khususnya perusahaan swasta dan perorangan. Perlahan, LABO berubah dari kata ganti pasutri Deddy-Nelly menjadi sebuah tim arsitek dan desainer terpandang. Kantor LABO di garasi Nelly pun secara alami meluas ke ruang-ruang rumah, hingga akhirnya satu lantai rumah berubah menjadi perkantoran. Pada 2011, LABO pun pindah ke bilangan Bukit Dago, di lembah sungai Cikapundung. Labo the Mori, julukan tempat itu, kini menampung belasan staf LABO sekaligus keluarga Deddy-Nelly.

Kembali ke kisah menggali sumur, tentu saja tiap sumur punya kedalaman yang berbeda-beda agar bisa berfungsi optimal. Menggali terlalu dangkal, maka tidak akan ada air yang keluar. Menggali terlalu dalam, air bisa jadi meluap hingga banjir, atau mungkin malah merebut jatah tetangga. Akhirnya, usaha mengambil air pun malah jadi sia-sia, bahkan malah jadi bencana karena tenggelam banjir atau diamuk tetangga. Di dunia usaha pun sama; tidak semua usaha punya impian untuk menjadi raksasa. Bukan karena ingin “main aman”, tetapi karena memang sudah menemukan ukuran yang tepat untuk mencapai tujuannya.

Menurut Nelly, LABO belum akan berkembang menjadi firma skala besar dengan ratusan karyawan dalam waktu dekat. “Tumbuh menjadi industri” dengan segala risikonya, menurut Nelly, bukan pilihan yang baik untuk mencapai tujuan LABO. Dengan ukuran yang sekarang, Nelly mengaku akan lebih mudah baginya dan Deddy untuk menciptakan suasana kerja yang hangat namun tetap profesional. Dalam beberapa proyek, posisi staf-staf LABO dirotasi demi menemukan potensi tiap-tiap orang serta konfigurasi tim yang tepat; sesuatu yang jelas lebih mudah dilakukan pada tim yang kecil. Akan lebih mudah pula bagi mereka untuk menjaga kualitas kerja biro dan memastikan visi LABO tentang desain tetap tersampaikan dalam tiap rancangannya. Memastikan bahwa jiwa LABO akan selalu hadir di tiap karyanya. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa dengan tumbuh (terlalu) besar, LABO malah berubah menjadi biro desain yang “dingin dan kekurangan jiwa, dimana satu orang belum tentu kenal dengan orang di sebelahnya”.

“Di situlah satu manfaat bagi kami untuk mengikuti sayembara. Supaya kami tahu sejauh mana kami perlu berkembang” ujar Nelly.

Menurut Nelly, masih banyak tempat bagi kaum muda Indonesia untuk “menggali sumur”. Ketika di luar negeri arsitek mulai kesulitan mencari pekerjaan, arsitek Indonesia masih punya prospek yang luas. Selama pembangunan masih merajalela, arsitek masih akan terus dicari di tanah air. Dia mengingatkan bagi para calon arsitek dan arsitek muda, bahwa budaya Indonesia juga menjadi nilai tambah yang mesti dipertahankan. “Berbaktilah untuk Indonesia, karena dari sinilah kita berasal.”

Ya, apa gunanya juga menggali sumur kalau airnya tidak bisa digunakan orang-orang sekitar?