Modal Sosial dalam Penciptaan Pasar

by

Refleksi terhadap Pasar Purnama Ramadan 2019 di Kampung Areng Lembang

Oleh: Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, aekomadyo00(at)gmail.com

Pasar bisa terjadi secara alamiah, bisa diciptakan. Yang alamiah biasanya demand-based: ada kebutuhan mendesak dari masyarakat, lalu sebagian masyarakat meresponnya dengan menyediakan pasokan dari kebutuhan itu. Misalnya pasar yang terjadi ketika pedagang membuka lapak di sebuah tanah lapang di kawasan permukiman, lalu warga membeli kebutuhan sehari-hari di lapak tersebut karena jaraknya yang dekat, dan lama kelamaan lapak-lapak itu bertambah secara alamiah hingga menjadi sebuah pasar. Pasar yang diciptakan biasanya supply-based. Misalnya, pasar organik, yang dipicu oleh kesadaran akan pentingnya bahan makanan yang sehat dan idealisme para petani untuk menghindari pestisida dalam produksi pertanian mereka.

Gagasan Pasar Purnama yang diinisasi oleh Imah Noong bersama penulis di Kampung Areng Lembang lebih merupakan pasar yang diciptakan dengan pendekatan supply-based. Imah Noong punya atraksi observatorium komunitas, yang mampu menarik pengunjung pada saat terjadi fenomena astronomi unik semisal gerhana bulan. Gagasan yang dikembangkan adalah, apakah mungkin kedatangan pengunjung ini mampu membangkitkan ekonomi lokal melalui penciptaan pasar rakyat? Artinya, pengunjung datang tidak hanya meneropong bintang dan rembulan, tetapi juga bisa membeli sesuatu yang dijual oleh penduduk sekitar. Semangatnya, aktivitas Imah Noong bisa memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Gambar 1: proses diskusi, desain, rembug warga, dan persiapan pasar purnama 1.0

Momentum Pasar Purnama 1.0 didapatkan ketika terjadi gerhana bulan total pada bulan Juli 2018. Pengunjung datang ke Imah Noong, menanti proses gerhana bulan menjelang dini hari. Menyambut keramaian, pedagang pun berdatangan. Sebagian memang penduduk setempat yang memang terlibat dalam gagasan pasar purnama dalam aneka rembug warga. Namun pedagang keliling dari luar kampung Areng pun turut mengambil tempat, naluri menghampiri keramaian untuk menjajakan dagangan. Pusat keramaian adalah panggung pertunjukan yang terletak di jalan utama persimpangan dengan gang menuju Imah Noong. Panggung menjadi sarana eksistensi warga: mereka menampilkan kemampuan seni dan budaya untuk dipertunjukkan di panggung itu. Dari atas panggung, saat diminta menjadi narasumber dalam acara bincang-bincang (ngawangkong), penulis mendapatkan insight bahwa Pasar Purnama 1.0 ini selayaknya sebuah pasar malam bagi warga desa (Ekomadyo, 2018).

Gambar 2: Event Pasar Purnama 1.0

Menyelenggarakan pasar tiap bulan purnama tentu berat, namun momentum purnama sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja, meski hanya untuk ngobrol-ngobrol. Event ini dinamakan “Ngawangkong Purnama”, yang artinya berbincang-bincang pada malam bulan purnama.Temanya bisa macam-macam: mulai potensi kopi, salawat purnama, bangunan tahan gempa, dsb. Dalam acara ini, perwakilan warga dan dari alumni ITB yang diundang bisa bertukar pendapat untuk keberlanjutan inovasi sosial. Dalam kesempatan ini, sempat terlontar evaluasi dari pedagang atas pelaksanaan Pasar Purnama 1.0. Meskipun pedagang merasa untung, namun pembelinya masih orang-orang kampung mereka juga, selayaknya jeruk makan jeruk. Pengunjung gerhana bulan ternyata hanya asyik dengan pengamatannya lewat teropong, tidak tertarik untuk membeli dagangan yang dijajakan penduduk sekitar Ke depan diupayakan agar pasar purnama juga ramai oleh pembeli dari luar kampung Areng.

Gambar 3: Ngawangkong Purnama dan Rembug Warga Evaluasi Pasar Purnama 1.0

Berbekal evaluasi tersebut, mulai dirancang Pasar Purnama 2.0. Ada dua hal yang menjadi concern dalam merancang event ini. Pertama, desain shelter, yang selanjutnya kami sebut naungan, untuk “membingkai” ruang dagang pasar. Kami kemudian menyebut shelter ini dengan nama “Naungan Portabel”, disingkat “Naubel”, untuk pasar rakyat. Istilah naungan yang dipilih, bukan shelter, adalah kecintaan terhadap bahasa Indonesia, sekaligus mendukung konsep Arsitektur Nusantara yang berorientasi pada “pernaungan” dan bukan “pembilikan” (Prijotomo dan Adyanto, 2004,  Koesmartadi, 2019). Ada beberapa “misi” naungan, sebagai objek arsitektural, dalam rekayasa sosial untuk penciptaan pasar, yaitu sebagai perangkat kendali inisiator pasar (Imah Noong) terhadap keterlibatan warga yang menjadi pedagang, dan kendali warga setempat untuk membatasi teritori dagang dari pedagang informal dari luar kampung. “Spatial reform can contribute to social reform”, kata Lefebvre, yang menjadi dasar pemikiran ini. (Lefebvre, 1991/1974, Coleman, 2015). Selain itu, naungan yang dirancang dengan baik diharapkan mampu menciptakan karakter unik dari Pasar Purnama dan bukan sekadar pasar malam biasa.

Gambar 4: Proses perancangan dan pembuatan prototipe naungan portabel

Concern kedua untuk Pasar Purnama 2.0 adalah bagaimana menarik massa dari luar untuk menjaring massa. Gagasannya adalah, apa yang menjadi daya tarik inisiator Imah Noong untuk menarik massa selain astronomi? Ternyata ditemukan ada dua kekuatan yang telah mampu memperluas jejaring inovasi: jejaring alumni ITB dan jejaring alumni pesantren. Sebagai alumni ITB, inisiator Imah Noong mendapat dukungan dari alumni angkatannya untuk kegiatan sosial di desa mitra. Sebagai alumni salah satu pesantren berpengaruh di Jawa Timur, Imah Noong menjadi salah satu tempat menginap para santri yang kebetulan punya kegiatan di Bandung. Dengan mempertimbangkan jejaring yang dipunyai inisator, inovasi sosial ini diharapkan bisa bersifat inklusif, karena melibatkan banyak pihak (Fuglsang, 2008).

Gambar 5: proses diskusi untuk memperluas jejaring inovasi Pasar Purnama, lewat jejaring alumni ITB maupun jejaring pesantren

Dalam aneka diskusi tersebut, ditetapkan Pasar Purnama 2.0 tahun 2019 akan dilaksanakan tanggal 18 Juni 2019, menjelang dikaitkan dengan suasana bulan Ramadhan. Persiapan dilakukan dengan mengkonsilidasi warga yang akan berpartisipasi dalam Pasar Purnama, termasuk kalkulasi dari risiko-risiko yang mungkin akan timbul. Panggung tetap dirancang sebagai generator pencipta suasana pasar, karena lewat media ini warga kampung Areng bisa tampil, sehingga sense of belonging terhadap keberadaan pasar lebih kuat. Tim internal mulai berkoordinasi lebih teknis, bagaimana merajut para pemangku kepentingan agar sama-sama bisa saling mengorkestrasi peran masing-masing untuk keberhasilan Pasar Purnama. Rancangan Naungan Portabel disempurnakan, dengan pertimbangan kepraktisan replikasi oleh masyarakat. Untuk menambah daya tarik ke pasar, dibuat event Tabligh Akbar yang dikemas dengan pertunjukan Wayang Golek yang disertai dengan pertunjukan Rebana oleh mahasiswa ITB. Acara bakti sosial dari ITB 93 pun dimasukkan dalam rangkaian acara pasar purnama tahun ini

Gambar 6: Persiapan Menuju Pasar Purnama 2.0 tahun 2019

Hari-H pelaksanaan Pasar Purnama 2.0 2019 akhirnya tiba. Sebelumnya, muncul kekhawatiran karena beberapa malam hujan deras mengguyur kota Bandung. Namun ini seni mencipta pasar bertema astronomi: berhadapan dengan ketidakpastian oleh kondisi alam. Pagi-pagi inisiator, tim peneliti, dan warga mulai menyiapkan panggung, naungan, dan gerbang menuju lokasi Pasar Purnama. Sore hari, pasar purnama bulai ramai, bahkan ditengarai didatangi oleh pengunjung dari luar Kampung Areng dan sekitarnya. Setelah maghrib, pasar masih tetap ramai, karena para pengunjung banyak yang membeli hidangan buka puasa di pasar tersebut. Hingga malam usai tabligh akbar, beberapa warung masih buka: mungkin karena ada pengunjung yang membeli minum dan cemilan, atau si penunggu warung ikut mendengarkan ceramah. Dari beberapa kali ikut membeli komoditas pasar, penulis sempat mendengar para pedagang yang minta maaf kepada pembeli karena beberapa komoditas habis. Artinya, apa yang didagangkan di pasar ini cukup laku!

Gambar 7: Pelaksanaan Pasar Purnama: dari persiapan pagi, sore, hingga malam

Keberadaan naungan portabel turut memberikan karakter tempat pada Pasar Purnama 2.0 tahun 2019 in. Jika sebelumnya, intervensi desain hanya pada perletakan area dagang, maka Pasar Purnama 1.0 tahun sebelumnya masih terlihat seperti pasar malam biasa. Bentuk unik dan kreatif dari naungan yang dideretkan di sepanjang jalan bisa menjadi ikon keunikan pasar ini saat dipotret nanti. Dalam prosesnya, sempat dicobakan bahan naungan dari bahan paralon (Polivinyl Carbonat/ PVC), namun kemudian tidak dilanjutkan karena biayanya terlalu mahal. Material bambu dipilih karena lebih murah, sehingga masyarakat kebanyakan mampu membuat sendiri naungan untuk berdagang.

Gambar 8: Karakter tempat (place) pada Pasar Purnama 2.0 tahun 2019

Apakah event pasar 2.0 di tahun 2019 bisa disebut berhasil? Evaluasi menyeluruh dari semua pemangku kepentingan memang belum dilakukan. Namun secara parsial, sudah ada beberapa refleksi dari kegiatan tersebut. Dari tuan rumah, misalnya, masih merasa harus memberikan usaha yang lebih terhadap kegiatan ini, sehingga perlu mulai dipikirkan bagaimana mekanisme pendelegasian kepada warga setempat, terutama anak-anak mudanya. Sementara itu, para pedagang merasa puas karena barang dagangannya laku, namun setelah dihitung-hitung ternyata keuntungan yang didapatkan tipis. Sebagian besar warga yang berdagang di pasar purnama ini adalah pedagang pemula, belum pandai menghitung untung rugi. Dari situ, tercetus keinginan bagi para pedagang untuk diberi pengetahuan tentang entrepreneurship, supaya kalau ada pasar purnama selanjutnya mereka bisa mendapatkan profit yang signifikan. Gotcha! Semoga keinginan ini bukan hanya pemanis bibir. Kalau benar para pedagang ingin belajar untuk meningkatkan taraf hidup mereka, ini menjadi keberhasilan tersendiri bagi event pasar purnama. Bagaimana suatu event dikonstruksi, di mana pengetahuan desain berperan di dalamnya, mampu mendorong semangat belajar bagi para pelaku, khususnya warga setempat. Desain yang emansipatoris.

Bagi penulis, penyelenggaraan pasar purnama menjadi ajang ujicoba bagaimana teori-teori social bisa terkait dengan desain arsitektur. Ada tiga teori sosial yang menjadi bahan pemikiran dan refleksi dari kerja desain event pasar purnama. Yang pertama pemikiran Bourdieu tentang gelanggang modal (field of capital) di mana modal ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolis disirkulasikan dalam suatu ruang sosial (Bourdieu, 1996, Dovey, 2010). Yang kedua pemikiran Lefebvre tentang produksi ruang, terutama bagaimana perbaikan ruang (spatial reform) berperan dalam perbaikan sosial (social reform) (Lefebvre, 1991/1974, Coleman, 2015). Yang ketiga adalah pemikiran Latour tentang kolektif antara aktor manusia dan aktor non-manusia (collective of humans and non-humans) sebagai suatu fenomena sosial, dan bagaimana objek-objek teknis berperan untuk mendelegasikan kehendak manusia.

Sebagai sebuah pasar yang dikonstruksi berdasarkan ide, maka modal budaya, yaitu pengetahuan yang membangkitkan ide tentang pasar, menjadi modal awal bagi terselenggaranya event Pasar Purnama. Dalam kerangka Bourdieu, ruang sosial merupakan gelanggang sirkulasi dari berbagai bentuk modal: ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik (Bourdieu, 1996). Pengtahuan astronomi dari inisiator dan pengetahuan tentang pasar dari peneliti menjadi sumber ide terselenggaranya Pasar Purnama. Sebagai sebuah pasar, tentu Pasar Purnama harus punya kekuatan ekonomi, yang mendorong proses terjadinya aktivitas jual dan beli. Selayaknya sebuah bisnis, awal penyelenggaraan Pasar Purnama membutuhkan investasi. Di sini modal sosial menjadi penting untuk menekan biaya dan mengurangi resiko ekonomi pada awal terselenggaranya pasar. Relasi-relasi sosial yang dibangun adalah antara inisiator, tim peneliti, warga lokal yang diwakili oleh beberapa orang tokoh, alumni yang membantu memberikan donasi, serta beberapa penampil dari luar yang diharapkan mampu menarik massa untuk datang ke Pasar Purnama. Dengan modal sosial yang baik, maka suasana gotong royong menjadi lebih terasa: kalau untung buat masyarakat, sedangkan kalau rugi dianggap risiko bersama.

Dalam sebuah ruang sosial, artefak arsitektural bisa berperan dalam membingkai gelanggang yang tercipta. Lefebvre, filsuf sosial, memberikan perhatian khusus bagi disiplin arsitektur dan perencanaan kota, karena dia percaya bahwa perbaikan sosial bisa dimulai dari perbaikan spasial (Lefebvre, 1991/1974, Coleman, 2015). Untuk kasus pasar purnama, peran desain arsitektural adalah pada perancangan lay-out pasar dan naungan portabel untuk lapak pasar. Sebelum ada acara Pasar Purnama, adanya event astronomi yang mampu menarik khalayak, seperti gerhana bulan, dimanfaatkan warga setempat untuk membuat panggung untuk menampilkan potensi seni pertunjukan yang dimiliki warga. Awalnya panggung diletakkan menyatu dengan area peneropongan bintang, yang akhirnya menimbulkan suasana “crowded” antara aktivitas pertunjukan dengan aktivitas peneropongan. Pada saat desain Pasar Purnama 1.0 tahun 2018, dipisahkan antara area panggung dan area peneropongan, di mana dialokasikan area pedagang Pasar Purnama berada di antara dua area tersebut. Namun karena tidak dibatasi dengan jelas, maka justru lebih banyak pedagang dari luar yang memanfaatkan event ini daripada warga setempat. Pada event Pasar Purnama 2.0, dirancang naungan portabel untuk berjualan, dan khusus warga lokal yang diperbolehkan menempati naungan ini. Artinya, naungan portabel mampu membingkai keberadaan dan kesempatan warga lokal untuk menjadi pedagang resmi Pasar Purnama, sementara pedagang dari luar berjualan di luar area naungan ini. Warga lokal mendapat prioritas untuk berdagang di dekat area yang menjadi magnet pengunjung, yaitu area peneropongan dan panggung pertunjukan.

Dalam perspektif Teori Jaringan-Aktor, objek-objek teknis ikut diperhatikan dalam suatu fenomena sosial. Latour menyebutnya sebagai kolektif antara aktor manusia dan aktor non-manusia, di mana objek-objek teknis bisa berperan dalam penerjemahan, komposisi, penyatuan ruang dan waktu, dan akhirnya menjadi delegasi dari kehendak manusia. Peralatan astronom berperan untuk menarik pengunjung untuk datang ke Imah Noong. Beberapa rumah warga yang menjadi homestay saat ada acara eduwista astronomi untuk anak-anak, berperan untuk mempertemukan sebagian pengunjung dengan sebagian warga setempat. Ruang tamu yang luas menjadi tempat aneka diskusi, antara inovator Imah Noong sebagai tuan rumah dengan tamu dan warga setempat. Sarana penyediaan air bersih bagi warga, berupa sumur artesis, tanki penampung, dan saluran pemipaan, menjadi media kontrol bagi tuan rumah sekaligus inisiator Imah Noong untuk mengundang warga di ruang diskusi, dengan alasan iuran air bersih, yang juga digunakan untuk mendiseminasikan gagasan kepada warga dan ajang penyampaian aspirasi warga. Dan naungan dan penataan pasar purnama berperan mempertemukan pengunjung dan warga setempat melalui aktivitas jual beli bertema astronomi.

Imah Noong dan Pasar Purnama diharapkan menjadi model bagaimana lingkungan binaan bisa menjadi mediator dalam pembangunan masyarakat. Baik inovator maupun peneliti mempunyai latar belakang disiplin keilmuan sains dan teknologi, sehingga memilih jalan teknologi untuk pengembangan diri. Agar lebih bermakna, pengembangan teknologi perlu diniatkan untuk memberi kemanfaatan seluas-luasnya buat masyarakat. Selayaknya dalam ajaran agama, kemaslahatan bagi masyarakat banyak menjadi bentuk bagaimana semangat ilmu yang bermanfaat diterapkan dalam praktik. Ini menjadi makna terpenting dari Imah Noong dan penyelenggaraan Pasar Purnama.

Referensi

  1. Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241-58). Greenwood Publishing Group, Westport.
  2. Coleman, N. (2015). Lefebvre for Architects. Routledge, Oxon
  3. Dovey, K. (2010). Becoming Places: Urbanism/Architecture/Identity/Power. Routledge, New York.
  4. Ekomadyo, A.S. (2018). “Ngawangkong” Pasar Purnama. Artikel ditulis kembali sebagai narasumber acara “Ngawangkong Samagaha” (Berbincang Menyambut Gerhana) di Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, 27 Juli 2018, https://iplbi.or.id/ngawangkong-pasar-purnama/
  5. Fuglsang, L. (ed) (2008). Innovation and the Creative Process, Towards Innovation with Care: New Horizons in the Economics of Innovation. Edward Elgar Publishing Ltd, Cheltenham UK.
  6. Levebvre, H. (1974/1991). The Production of Space. Diterjemahkan oleh Donald Nicholson-Smith. Basil Blackwell, Oxford.

Pasar Purnama Ramadhan 2019

https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4555682/unik-pasar-di-lembang-ini-hanya-buka-saat-bulan-purnama

Pasar Purnama Gerhana Bulan 2018

http://jabar.tribunnews.com/2018/07/28/pasar-purnama-tambah-semarak-acara-observasi-gerhana-bulan-di-imah-noong-lembang
http://jabar.tribunnews.com/2018/07/25/pasar-purnama-akan-hadir-saat-pengamatan-gerhana-bulan-total-di-imah-noong
https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/07/26/ada-pasar-purnama-bersamaan-dengan-gerhana-bulan-total-427892
https://www.ayobandung.com/read/2018/07/27/35964/yuk-lihat-gerhana-bulan-total-di-imah-noong