Mutualisme Modal Budaya dan Ekonomi Untuk Ke-Nusantara-an dan Ke-Indonesia-an

by

Dr. Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung, aekomadyo00(at)gmail.com

(Diringkas dari paper seminar Pengelolaan SDA, SDM, dan Sistem Moda Transportasi Terpadu di Wilayah Timur, Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB), Auditorium Universitas Pattimura Ambon, 19 Oktober 2018. Paper lengkap (.pdf): Ekomadyo – Mutualisme Modal Budaya Ekonomi (Seminar Ambon) )

Istilah “Indonesia” awalnya lahir sebagai representasi kultural pada suatu kawasan geografis yang kemudian menjadi institusi politik dalam bentuk negara. Istilah Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh seorang etnolog, James Richardson Logan, pada tahun 1850, yang menyatakan nama khusus bagi wilayah kepulauan di seberang kontinen India. Sementara istilah “Nusantara” justru sebaliknya, diawali dari representasi geografis-politik pada masa Majapahit, kini istilah ini lebih mempunyai konotasi geografis-kultural. Karakter geografis negara kepulauan di wilayah tropis, satu-satunya di dunia, ternyata memberi pengaruh terbentuknya karakter khas budaya masyarakat kepulauan, yang berberda dengan karakter masyarakat kontinental (Tabrani, 1999:10-17). Ketika kita membicarakan Nusantara, maka akan langsung terbayang keanekaragaman budaya suatu masyarakat berkarakter kepulauan.

Ketika kompetisi antar bangsa semakin terbuka karena globalisasi, menjadi penting untuk melihat kembali keragaman budaya tersebut dalam perspektif kapital. Di satu sisi, dalam globalisasi suatu bangsa yang tidak melakukan riset untuk pengembangan sains dan teknologi akan semakin tenggelam (Gontha, 2018:7). Artikel ini mencoba menawarkan gagasan bagaimana keanekaragaman budaya ini menjadi modal budaya, melalui kegiatan riset, agar bisa menjadi kekuatan ekonomi dalam bentuk inovasi.

Pembicaraan tentang budaya hampir selalu dikonotasikan dengan tradisi dan warisan pada masa lalu (Koentjaraningrat, 2003: 74-75). Namun kemudian muncul suatu bidang baru yang mengkaji budaya, yang disebut dengan “cultural studies”, yang sering disebut sebagai kajian budaya kontemporer. Di sini budaya tidak hanya melihat norma-norma pada masa lalu, tetapi bagaimana nilai-nilai, perilaku, dan artifak hadir pada masa kini, termasuk adanya relasi kuasa di dalamnya (Sardar dan Loon, 1997:9). Konsep modal budaya (cultural capital) lahir dari pemikiran “cultural studies”, yang menyebutkan adanya ruang sosial yang disebut “gelanggang (field) di mana kapital-kapital bekerja untuk menciptakan dan mengendalikan relasi kuasa di dalamnya. Bourdieu (1986:17-26),  menyebutkan ada 4 modal dalam sebuah gelanggang, yaitu modal ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Modal ekonomi menyangkut penguasaan atas uang, modal sosial menyangkut relasi-relasi antar manusia yang ada. Sedangkan modal budaya adalah pengetahuan, tatakrama, nilai-nilai yang mempu mengikat dan menggerakkan suatu kelompok sosial. Modal simbolis berupa penciptaan simbol-simbol melalui suatu kompetensi artistik tertentu, yang menunjukkan dominasi atau perlawanan suatu kelas terhadap kelas yang lain dalam masyarakat (Dovey, 2010:32-35).

Di Indonesia, momentum signifikan transformasi modal budaya menjadi modal ekonomi adalah ketika batik diakui menjadi warisan dunia oleh UNESCO. Dari sini, batik tidak lagi identik dengan pakaian resmi untuk melestarikan tradisi, namun bisa ditampilkan lebih kreatif, kekinian, gaul, dan menjadi bagian gaya hidup sehari-hari. Setelah batik, muncul gerakan budaya kopi, dipicu oleh kualitas kopi Nusanantara yang mendunia namun kurang diketahui di dalam negeri. Kafe-kafe bermunculan, mulai kelas brand global, kafe-kafe alternatif, warung kopi, dan starling (warung kopi keliling).

Pemikiran mengenai “cultural marketplace” berangkat dari gagasan terhadap revitalisasi pasar rakyat sebagai rumah ekonomi dan rumah budaya bagi masyarakat Indonesia (Basri, 2010: xiii-xiv). Meskipun berkembang bentuk pasar yang lebih modern seperti pasar swalayan, ada nilai-nilai budaya yang tumbuh dari relasi sosial pada pasar rakyat yang tidak ditemui pada pasar swalayan. Pasar rakyat merupakan tempat di mana terjadi pertukaran nilai-nilai budaya lewat aktivitas ekonomi. Relasi sosial pasar rakyat dalam menentukan kesepakatan harga, mutu, dan waktu penyediaan komoditas mendorong para pelaku para pelaku untuk saling mengenali dan mempelajari karakter masing-masing untuk mendapatkan kesepakatan bersama secara alamiah.

Dari sini pengertian pasar berkembang dari tempat fisik hingga ke arah pengertian jejaring. Pasar sebagai tempat mengacu kepada tempat fisik, lokasi geografis di mana permintaan dan penawaran bertemu dan pertukaran terjadi, atau tempat di mana orang dan/atau barang dirakit untuk tujuan pertukaran. Pasar sebagai segmen melihat sekelompok orang atau pelanggan potensial. Pasar sebagai mekanisme pertukaran berkaitan dengan berbagai jenis sistem pertukaran yang dilihat melalui mekanisme pertukaran yang digunakan. Pasar sebagai proses melihat proses aktif yang melibatkan transaksi pertukaran pembeli dan penjual dan tindakan agen-agen lainnya yang memfasilitasi transaksi tersebut. Dan pasar sebagai jejaring melihat suatu set kinerja terkoordinasi dari para pelaku pasar yang berinteraksi terhubung satu sama lain (Sabianti, 2012:9-15). Dari pengertian ini, maka para wirausaha merupakan elite di dalam jaringan karena berperan dalam menggerakkan aliran dalam jejaring pasar, terutama kemampuanya membuat lintasan baru antara produksi dan konsumsi (Lindbloom, 2001:56-57).

Meski diyakini bahwa riset dan inovasi berperan penting untuk daya saing ekonomi suatu masyarakat, tetapi relasi kegiatan produksi pengetahuan melalui riset dan pendidikan dan respon terhadap pasar merupakan suatu kontroversi. Kontroversi ini sebenarnya sudah ada ketika pendidikan tinggi mulai diciptakan dalam era modern. Awalnya, pendidikan tinggi dibentuk oleh akademia sebagai institusi untuk mempelajari alam semesta (universe, sehingga lembaga ini dinamakan universitas). Namun tekanan dari masyarakat mendorong universitas bertransformasi menjadi research university, enterpreneurship unversity, hingga developmental university (Yuliar dan Djodikusumo, 2011:70-71). ‘

Konsep inovasi sebenarnya lahir untuk melakukan rekonsiliasi antara dunia di dalam laboratorium sebagai lembaga penghasil pengetahuan dengan dunia di luar laboratorium. Situasi pro-inovasi terjadi jika para peneliti secara berkelanjutan membangun jejaring dengan peneliti lain sekaligus jejaring dengan pengguna pengetahuan untuk memproduksi, memanfaatkan, dan mengembangkan pengetahuan (Yuliar, 2011:205-207). Situasi pro Inovasi ini akan menduku skenario “Garuda Terbang Tinggi” untuk masa depan pendidikan tinggi di Indonesia, di mana pendidikan tinggi responsif terhadap pasar dan berada dalam konteks pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif. (AIPI,2017:98-99).

Salah satu tantangan bagi cara berpikir pasar untuk pengembangan riset dan inovasi adalah tantangan pasar domestik. Ada keragaman karakater masyarakat yang mendorong munculnya keanekaragaman budaya. Budaya akan menjadi kapital kalau menjadi pengetahuan dan nilai-nilai yang mampu menggerakkan masyarakat, dan bukan sekadar mitos. Apa yang dilakukan oleh para inovator budaya bisa menjadi titik masuk riset tentang budaya Nusantara untuk mendukung inovasi. Seperti yang diharapkan pada skenario “Garuda Terbang Tinggi”, riset tentang budaya dalam perspektif inovasi ini akan mendorong penemuan baru dan produksi teknologi oleh masyarakat setempat dan penggunaan teknologi untuk inovasi yang lebih arif karena berbasis budaya lokal.

Daftar Pustaka

  • AIPI (2017). Sains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia 2045. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
  • Basri, M.C. (ed). (2010). Rumah Ekonomi Rumah Budaya: Membaca Kebijakan Perdagangan Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. Richardson, J.(1986). Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. Westport, CT: Greenwood.
  • Dovey, K. (2010). Becoming Places: Urbanism/ Architecture/ Identity/ Power. London: Routledge
  • Ekomadyo, A.S., Santri, T., Resmadi, I., AlMubarok, H. (2016). Conversation Between Trade and Mysticism:  Exercising Design as Mediator to Link Economic and Culture in Kampung Batik Trusmi Cirebon. International Seminar of Vernacular Settlement-8: Conversation with the Sea: People, Places, and Ideas of Maritime Vernacular Settlement. Hassanuddin University, Gowa-Makassar, October 20-22, 2016. ISBN 978-602-71663-1-8
  • Ekomadyo, A.S., Santri, T., Riyadi, A. (2017). Reassembling Traditionality and Creativity? A Study of Creative Community Movement in Cihapit Market Bandung. International Conference of Architectural Education in Asia (Eduarchsia), Indonesian Islamic University, Yogyakarta, November 9, 2017, https://doi.org/10.1051/shsconf/20184107006
  • Ekomadyo, A.S. (2018). “Ngawangkong” Pasar Purnama. Artikel ditulis kembali sebagai narasumber acara “Ngawangkong Samagaha” (Berbincang Menyambut Gerhana) di Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, 27 Juli 2018, https://iplbi.or.id/ngawangkong-pasar-purnama/
  • Gontha, P.F. (2018). Tanpa Sains dan Teknologi, Indoneia Ditelan Dunia. Artikel dalam Kompas, 21 Juli 2018.
  • Koentjaraningrat (2003). Pengantar Antropologi. Jakarta, PT Rineka Cipta.
  • Sabianti, D.S. (2012). Pasar Bahan Bakar Nabati (BBN) Nyamplung  Di Jawa Tengah dalam Perspektif Teori Jaringan – Aktor. Tesis. Development Studies Master Program. Institut Teknologi Bandung.
  • Lindblom, C.E. (2001), The Market System: What It Is, How It Works, and What To Make of It, Yale University Press, London.
  • Porter, M.E., dan Kramer, M.R. (2006). Strategy and Society: The Link Between Competitive Advantage and Corporate Social Responsibility. Harvard Bussines Review, December 2006. Boston: FSG Social Impact Advisor.
  • Sardar, Z., dan Loon, B.V. (1997). Introducing Cultural Studies. Totem Books.
  • Sari, S.P, dan Ekomadyo, A.S. (2018). Designing integrated neighbourhood market place as a strategy of public market revitalization. The 4th Biennale International Conference on Indonesian Architecture and Planning (ICIAP): Design and Planning in the Disruptive Era. Gadjah Mada University Yogyakarta Indonesia, July 26-28 2018.
  • Tabrani, P. (1999). Belajar dari Sejarah dan Lingkungan: Sebuah Renungan Mengenai Wawasan Kebangsaan dan Dampak Globalisasi. Penerbit ITB, Bandung.
  • Yuliar, S. dan Djodikusumo, I. (2009). Tech-Novation. Pemikiran tentang Perluasan Peran ITB dalam Sistem Inovasi Bangsa. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung.
  • Yuliar, S. (2011). Transformasi Penelitian ke dalam Inovasi. Jakarta: Dewan Riset Nasional.