Neo Revitalisasi Kompleks PG. Colomadu

by

Dyah.S.Pradnya.P. Dosen F.Teknik Jurusan Arsitektur UNS. Email dyah_pradnya(at)yahoo.com

Kompleks BCB PG.Colomadu di desa Malangjiwan, merupakan bekas area industri era Kolonial, berupa sistem tata wilayah dan hunian. Beberapa tipe disain mewah hunian untuk pejabat dan selalu memiliki halaman luas  . Ciri khas sistem penghawaan dan pencahayaan alami,  berupa ukuran ketinggian dan jumlah bukaan bangunan maksimal. Juga terdapat bekas jalur kereta api ( lori ) / rel untuk mengangkut tebu pada area tertentu yang sudah tertimbun tanah . Juga bekas perkebunan tebu yang telah beralihfungsi menjadi  perumahan, pabrik, toko, kantor, hotel dan fungsi lain. Di Selatan PG.Colomadu, terdapat deretan hunian kecil sederhana berlantai 1 bagi pegawai dan hunian pegawai pabrik tembakau berupa bangunan tinggi. Keberadaan PG.Colomadu ternyata juga berdekatan dengan pabrik-pabrik sekitar. Maka di kecamatan Colomadu memang terdiri atas beberapa pabrik dan fasilitas hunian , yang menjelaskan riwayat sentra perekonomian .

Namun ketika rutinitas produksi semakin menurun, eksistensi PG.Colomadupun mulai dipertanyakan. Bahkan kompleks tersebut telah terbengkalai dan tak berpenghuni. Oleh sebab itu, pemerintah berupaya untuk melakukan revitalisasi BCB berdasarkan potensi objek dan lokasi strategis. Dalam konteks usulan perubahan , bisnis selalu menjadi pusat orientasi, pengikat dan unsur kontribusi dominan . Berbagai rencana awal revitalisasi , selalu diwarnai dengan beragam retorika impian. Namun bila operasional PG.Colomadu Baru ternyata berbanding terbalik dengan target pengelolaan jangka panjang, bukankan akan bernasib sama dengan PG.Colomadu Lama ?  Hal tersebut akan berdampak pada pengalihan pihak pengelola dan fungsi lain secara fluktuatif dan berpola siklus terkait . Juga akan berdampak negatif pada pengaburan bukti sejarah non otomatis pada kawasan PG.Colomadu. Maka PemKab Karang Anyar dan masyarakat adat , harus membatasi perkembangan kabupaten melalui perubahan RTRW, untuk melestarikan eksistensi salah satu identitas spesifik kota sebagai kawasan budaya.

Proses pembicaraan terpadu dalam revitalisasi BCB, disertai oleh upaya labelisasi & sertifikasi, eksistensi local wisdom, masyarakat adat, akademisi, kerabat pemilik, PemKab, tim teknis, & investor. Namun kuantitas keterlibatan berbagai pihak , justru mengurangi efisiensi dan efektifitas hasil kesepakatan. Berbagai faktor persaingan bisnis, kepentingan pribadi, upaya politik serta kesulitan pelampiran bukti secara yuridis dan adat pun mewarnai setiap proses. Sehingga bukan penyelesaian yang diperoleh, malahan justru sengketa tarik ulur yang semakin tajam dan rumit. Dalam  konteks tersebut, keterlibatan lingkup akademis dibutuhkan  dan diposisikan , sebagai zona transisi/jembatan antara pemerintah dan masyarakat adat.  Sehingga karakteristik pekerjaan lingkup akademis , yang merujuk pada proses penalaran dan logika jangka panjang , menjadi hasil terpenting dalam merangkum pendapat. Juga menghindari dan mengendalikan agar kesepakatan tidak mengarah pada kemunculan upaya  aksi/gerakan sporadis.

Oleh karena itu, memang diperlukan sistem tertentu untuk mencapai kesepakatan, guna mengusung kepentingan bersama,  dan bukan pemenangan salah satu pihak. Peran sosial media online pun menduduki peringkat teratas komunikasi publik, pengkayaan informasi dan proses kontrol berkelanjutan. Adapun beberapa solusi yang diusulkan adalah :

  • Pembatasan waktu, lingkup dan arah pembicaraan antar pihak, dalam menguraikan masalah dan menyusun perencanaan. Agar diperoleh validitas kesepakatan dalam rentang waktu tertentu
  • Mengkaji ulang kesesuaian upaya revitalisasi jangka panjang dan RTRW Kab.Karang Anyar, untuk menyusun sistem pengelolaan holistik serta upaya alternatif. Guna mengantisipasi dan mengatasi masalah darurat temporal dan resiko.
  • Membatasi, mencermati dan mengendalikan  tentang usulan perkembangan fungsi dan tata ruang berdasarkan komitmen dan jati diri dalam RTRW Kab.Karang Anyar . Pemaksaan perubahan gaya hidup dan ruang gerak, akan berdampak negatif pada pola konsumsi, jenis kebutuhan dan percepatan budaya instan . Maka kajian tentang budaya dan karakteristik masyarakat adat menjadi materi utama pertimbangan.
  • Perbandingan statistik kunjungan masyarakat adat dan pendatang perlu didata secara akurat dan periodik melalui respon dan interaksi. Bila berbanding terbalik, akan mempengaruhi fungsi PG.Colomadu Baru sebagai projek impian. Fenomena ikon destinasi pariwisata dan perdagangan, harus mampu memberdayakan masyarakat adat dan bukan sebagai penyedia fasilitas pendatang
  • Proses pembangunan dilaporkan secara visual bertahap melalui sosial media dan laporan proyek. Sebagai bukti fisik tanggung jawab pemerintah dalam merevitalisasi BCB .
  • Kecenderungan pengaruh hegemoni , kosmopolitan,  bisnis dan politik, wajib diantisipasi dan ditindaklanjuti, dengan merunut kembali visi misi revitalisasi BCB jangka panjang.
  • Mempublikasikan dan registrasi PG.Colomadu sebagai kawasan sumber data sejarah berkelas internasional yang memuat tata sentra ekonomi pada era Kolonial dan legalitas status BCB.  Keterlibatan wajib bagi kalangan akademis secara temporal, berfungsi melakukan kontrol eksistensi BCB sebagai identitas yang mengikat karakteristik potensi kebudayaan di kabupaten Karang Anyar. Sehingga terjadi  sinergi aplikasi antara UU no 5 /2017 ttg Pemajuan Kebudayaan, UU no 11/2010 tentang Cagar Budaya dan RTRW Kab.Karang Anyar
  • Resolusi proses labelisasi sebagai Kawasan Bangunan Cagar Budaya, sebagai kontrol terhadap pembatasan proses pembangunan.
  • Mempublikasikan tentang Teknologi pembangunan, Pola penataan hunian dan pabrik menjadi faktor penting dalam pendataan BCB dan wilayah kontrol akademis.
  • Keterlibatan masyarakat adat dalam proses pembangunan fisik PG.Colomadu secara aktif dan formal , sebagai upaya pengawasan melekat dan mengurangi tekanan publik berunsur politik , terhadap pelaksanaan dan realisasi program pemerintah.

Dengan demikian, wujud program revitalisasi dari pemerintah berlandaskan jati diri masyarakat adat dan berbatas waktu.