“Ngawangkong” Pasar Purnama

by

Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, aekomadyo00(at) gmail.com

Tulisan ini dibuat sebagai refleksi dari pelaksanaan Pasar Purnama yang diselenggarakan pada malam gerhana bulan Juli lalu. “Ngawangkong” dalam bahasa Sunda artinya berbincang-bincang, jadi dalam bahasa sekarang bisa diartikan sebagai “Ngobrolin Pasar Purnama”. Kebetulan, saya menjadi salah satu pembicara di acara Ngawangkong Samagaha yang diselenggarakan di Kampung Areng Desa Wangunsari Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (gambar 1). Dari atas panggung inilah, saya menangkap “Genius Loci” terselenggaranya suatu Pasar Purnama di kampung ini.


Gambar 1: Ngawangkong Samagaha di Kampung Areng

Sebelum “manggung”, saya mencoba menelusuri “Spirit of the Place” terselenggaranya Pasar Purnama ini. Awalnya, penelusuran dilakukan secara snapshot melihat bagaimana para pedagang memilih dan menata lokasi dagangannya mencoba mencari peruntungan memanfaatkan event gerhana bulan yang terjadi. Karena sedang mempelajari pemikiran Lefebvre (1991:26) dan memanfaatkannya untuk menjelaskan fenomena arsitektur, pengamatan sesaat ini membawa saya untuk memahami bagaimana ruang-ruang diproduksi oleh masyarakat setempat, yang kemudian mengkonstruksi sebuah pasar temporer memanfaatkan fenomena bulan purnama.

Hasil pengamatan sekejap ini didiskusikan bersama inisator Pasar Purnama, mas Hendro Setyanto, pendiri observatorium komunitas “Imah Noong” yang menjadi magnet untuk menarik orang mengunjung kampung ini. Saya memantik diskusi dengan menyatakan bahwa pasarnya secara “place” sudah terbentuk, namun masih belum artistik untuk menunjukkan karakter suatu Pasar Purnama. Mas Hendro menjawab, “Sebenarnya aspek artistik diperlukan, hanya saya bilang ke masyarakat kalau kita belum sempat”. Saya berdalih, “Bukan belum sempat, Mas, tetapi memang sengaja dipikirkan belakangan. Kita lihat dulu bagaimana ruang-ruang terbentuk, baru kalau sudah terbentuk kita pikirkan karakternya lewat desain-desain artistik”. Kemudian saya menjelaskan kepada beliau, bagaimana jalur pejalan kaki di lapangan Aula Barat dan Aula Timur ITB dirancang belakangan, setelah melihat jalur-jalur yang tidak ditumbuhi rumput karena seringnya diinjak-injak orang yang melewati jalur-jalur tersebut.

Awalnya saya hanya memperkirakan pedagang akan berkerumun di sekitar Imah Noong. Dalam rembug warga untuk menyiapkan Pasar Purnama, kami mencoba membuat lay-out pasar di sekitar Imah Noong, dan memperhitungkan berapa lapak yang bisa menempati lahan yang tersedia (gambar 2). Saya dan tim merancangnya langsung di lapangan, mencoba membuat pola-pola serupa untuk lapak menyiasati aneka kendala kondisi tapak yang berbeda beda, terinspirasi dari “tactical urbanism” dari Dovey (2016:235-244). Meski dalam desain kami sudah memikirkan bagaimana lay-out Pasar Purnama pada kondisi puncak kunjungan, namun tidak berani kami sampaikan kepada warga karena khawatir dianggap terlalu menjanjikan. Lay-out ini adalah skenario minimal terhadap Pasar Purnama.


Gambar 2: Rembug warga dan sketsa lay-out pasar purnama.

Namun di lapangan ternyata antusiasme warga berpartisipasi dalam Pasar Purnama cukup tinggi. Selain berjualan di dekat Imah Noong, ada pedagang yang juga berjualan di dekat gang masuk lokasi ini. Kebetulan panggung diletakkan pada area terbuka di sebelah jalan masuk, dan banyak orang yang menonton pertunjukan di panggung, dan ini adalah calon konsumen. Berbeda dengan event Gerhana Bulan sebelumnya, panggung diletakkan di dalam halaman Imah Noong, dan ini menciptakan suasana crowded karena bercampur dengan pengunjung yang ingin melihat gerhana lewat aneka teleskop yang disediakan di tempat ini. Meskipun tidak terkait langsung dengan tema astronomi, keberadaan panggung pertunjukan yang dikelola oleh Karang Taruna merupakan representasi bagaimana warga setempat memproduksi ruang-ruang baru mencoba memanfaatkan popularitas Imah Noong sebagai observatorium komunitas.

Teritori pedagang pada Pasar Purnama yang terjadi bisa dipetakan ke dalam 3 kluster, dilihat posisinya terhadap Imah Noong sebagai pusat. Kluster pertama berada di dalam halaman Imah Noong. Dilihat dari kondisi lahan yang ada, diperkirakan ada 5 pedagang yang bisa ditampung di sini. Namun dalam pelaksanaannya, hanya satu pedagang yang menggunakan area ini, yaitu pemilik rumah yang memanfaatkan teras rumahnya untuk berdagang sayur-mayur dan keripik singkong (gambar 3 kanan atas). Di awal acara, sempat ada beberapa ibu-ibu yang membeli sayur-mayur yang dijajakan, mungkin menonton gerhana sekalian berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ibu pedagang ini memang sering bekerja untuk Imah Noong bila ada event seperti ini.

Kluster kedua adalah di sepanjang gang di depan halaman Imah Noong. Direncanakan hanya memuat 4 lapak, namun kenyataannya lebih dari 10 lapak dibuat oleh warga. Beberapa lahan yang kemudian yang bisa digunakan untuk berdagang adalah halaman rumah, teras rumah, dan kebun yang sudah diratakan karena hasilnya baru saja dipanen. Pada kluster ini, view pasar purnama bisa dibuat “branded”: street market dengan latar belakang bulan purnama (gambar 3 kiri).

Kluster ketiga adalah pedagang yang menempati jalan di sekitar akses masuk ke Imah Noong (gambar 3 kanan bawah). Pedagang-pedagang di sini memanfaatkan kerumunan penonton panggung. Karena berada di luar jangkauan teritori Imah Noong, beberapa pedagang terlihat bukan warga sekitar. Menurut informasi dari panitia, memang beberapa pedagang keliling di sekolah-sekolah sekitar sering memanfaatkan event seperti ini untuk ikut berjualan.


Gambar 3: Suasana Pasar Purnama

Dalam pengamatan sejenak ini, terlihat keberadaan pasar lebih dinikmati oleh warga sekitar. Kebetulan pengunjung dari luar yang datang ke Imah Noong tidak sebanyak event gerhana sebelumnya. Pada hari itu, waktu gerhana cukup larut (pukul 2 dinihari) sehingga pengunjung mulai datang di waktu tengah malam, dan sudah cukup mengantuk untuk berbelanja-belanja pada pasar temporer yang berlangsung. Selain itu, ada event “nonton bareng” gerhana bulan di tempat lain yang jauh lebih menarik perhatian publik karena lokasinya di pusat kota Bandung dan menyediakan tenda-tenda untuk tidur sembari menunggu datangnya gerhana waktu dini hari. Keberadaan pasar ternyata lebih ramai oleh panggung pertunjukan, dan ini lebih menjadi konsumsi penduduk sekitar. Pengunjung lebih fokus untuk melihat benda-benda angkasa lewat teropong, belum banyak terlihat ada yang duduk lama minum-minum Susu Lembang sambil ngobrol menunggu waktu gerhana tiba.

Tetapi ini justru menjadi temuan di lapangan, di luar pemikiran awal, munculnya “Genius Loci” suatu pasar purnama. Pasar Purnama sebenarnya sebuah pasar malam, dan pasar malam hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan pada malam hari. Di atas panggung itulah, saya tidak hanya berbicara dan berbagi pengetahuan, tetapi juga mencerap suasana, menafsirkan “ruh”, seperti diteorikan Norberg-Schultz (1991:5), yang menggerakkan masyarakat untuk suatu penciptaan tempat (place-making). Ketika masyarakat desa setempat menjadi aktor utama, maka tema “astronomi” menjadi tidak terlalu signifikan. Gagasan awalnya adalah memasukkan unsur-unsur astronomi sebagai keunikan pasar, seperti bagaimana rancangan bertema bambu menjadi karakter Pasar Papringan di Temanggung. Namun bagaimana gagasan kreatif ini bisa menjadi penting buat warga sekitar, itu membutuhkan proses.

Setelah acara ngawangkong ini, ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya. Tantangan pertama adalah merajut budaya, antara budaya sains yang melekat pada aktivis dan pengunjung Imah Noong, dan budaya peri-urban pada masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar sebagian masih bermata pencaharian bertani dan beternak, dan hidup secukupnya secara subsisten. Namun sebagian penduduk sudah mulai bekerja di kota dan beberapa lahan di desa ini sudah dimiliki oleh penduduk kota. Merajut budaya dengan latar belakang yang berbeda merupakan tantangan sendiri, dan ini membutuhkan proses dialog yang panjang dan terus menerus.

Tantangan kedua adalah menciptakan karakter pada ruang-ruang pasar yang sudah terbentuk. Beberapa studi presedens mengarahkan bahwa deretan pedagang pada malam hari bisa membentuk karakter streetscape yang unik. Di beberapa titik bisa didapatkan pemandangan dengan latar belakang bulan purnama. Karakter deretan kios temporer yang membentuk sepenggal streetscape sempat saya lihat di sepanjang jalan di Lembang, deretan kios-kios buah-buahan ditata sedemikian rupa menarik wisatawan untuk berbelanja. Dalam diskusi bersama anggota peneliti, sempat terpercik gagasan untuk menggunakan material bambu sebagai elemen utama kios pasar, karena bambu banyak ditemukan di sekitar lokasi ini.  Beberapa pengetahuan tentang material bambu menjadi bahan diskusi tentang aspek teknis desain kios-kios pasar. Tetapi, mengamati place yang sudah terbentuk, apa pun aspek artistik yang akan diujicobakan, Genius Loci Pasar Purnama sebagai pasar malam yang dinanti warga harus menjadi “ruh” bagi rancangan pasar.

Secara ilmu pengetahuan, proses merancang Pasar Purnama ini merupakan bentuk perhatian pada “Architecture in the Making” (Yeneva, 2012:2). Dalam era kompetisi terbuka saat ini, paradigma arus utama profesi arsitek yang bekerja atas perintah dari pemberi tugas untuk kemudian menghasilkan dokumen rancangan bukan lagi menjadi satu-satunya jalan penghidupan profesi arsitek. Kemampuan untuk ikut terlibat secara aktif dalam suatu proses pembangunan bisa menjadi salah satu daya saing arsitek. Di sini saya dan tim belajar tentang “tactical design”, desain yang mampu menyiasati aneka kendala-kendala taktis di lapangan. Desain arsitektur tidak melulu menghasilkan karya yang “wow”, namun bisa memberikan manfaat untuk penggunanya. Ada sisi lain dari Ilmu yang bermanfaat (ilman nafian) dari disiplin arsitekur: bagaimana gagasan-gagasan tentang lingkungan binaan yang lebih baik bisa diadopsi oleh masyarakat sesuai dengan kapasitas dan kepentingan yang dimiliki masyarakat tersebut.

Referensi:

Dovey, K. (2016). Urban Design Thinking: A Conceptual Toolkit. Sydney: Bloomsbury Academic.
Lefebvre, H. (1991). The Production of Space. Oxford: Blackwell.
Norberg-Schultz, C. (1991). Genius Loci: Towards A Phenomenology of Architecture. New York: Rizzoli.
Yeneva, A. (2012). Mapping Controversies in Architecture. Farnham Burlington Surrey: Ashgate

Unduh pdf tulisan: Ekomadyo – Ngawangkong Pasar Purnama