Pasar Gempol: Becoming Heritage Tourist Marketplace

by

Agus S. Ekomadyo. Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, aekomadyo00(at)gmail.com

 

Artikel versi konferensi: http://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/158/1/012012

Download artikel versi pdf: Ekomadyo – Pasar Gempol Becoming Heritage Tourist Market

Ketika pertama kali mengajak keluarga “berwisata” ke Queen Victoria Market, anak tertua saya sempat berteriak: “kaya di Cihapit!”. Lho, membandingkan pasar di Bandung dengan di Melbourne, apakah “apple to apple”? Mungkin ada persamaan antara dua pasar itu: keduanya terletak di kawasan bersejarah, dan keduanya menghadirkan komoditas yang bisa menjadi atraksi wisata. Yang jelas, selain Pasar Cihapit, Bandung punya satu lagi pasar rakyat di kawasan bersejarah: Pasar Gempol.

Sebagai kawasan bersejarah,  Gempol punya sejarah menarik. Kawasan ini merupakan bagian saat kota Bandung dirancang sebagai kota “Indisch” dengan konsep “Garden City” di masa colonial lalu, yang wujudnya dikenal masyarakat dengan kota “Parisj van Java”. Gempol merupakan salah satu kluster permukiman yang dirancang untuk membangun karakter “Eropa Tropis”, dengan morfologi kantong tertutup (encalave) dengan taman terbuka dan bangunan penanda di pusat sekaligus pintu masuk kawasan (Siregar, 1990:167-189).

Belajar keseharian di kawasan Gempol, saya membandingkannya dengan keseharian di kawasan Cihapit, semata-mata karena saya lebih dulu “nongkrong serius” di situ. Kedua kawasan ini merupakan contoh permukiman “enclave” yang dirancang oleh Belanda di masa lalu sebagai contoh desain kota “Tropical Europe”. Keduanya punya pusat kawasan dengan ruang terbuka, yang masih bisa diidentifikasi keberadaannya meski kini telah tertutup oleh bangunan. Di sebelah ruang terbuka itu terdapat beberapa toko yang dikelola oleh warga Tionghoa di Bandung, dan masih hidup sampai sekarang dan diasuh oleh generasi penerus pendiri toko, seperti toko “Tjihapit” di Cihapit dan toko “Cahaya” di Gempol. Ada pasar rakyat di kedua kawasan ini, yang mulai tumbuh dan berkembang dari masa pasca kemerdekaan hingga kini. Kedua pasar tersebut dikenal karena ada produk kuliner yang sangat terkenal seperti Warung Mak Eha dan Surabi Cihapit di Cihapit, dan Kupat Tahu Gempol, dan Roti Gempol di Gempol.

Namun ada perbedaan untuk kedua kawasan itu, terutama keberadaan pasar-nya. Pasar Cihapit masih eksis hingga saat ini, dan dikenal dengan pasar rakyat yang punya konsumen dari kalangan menengah ke atas. Selain Cihapit, ada pasar Pamoyanan di Bandung yang juga konsumennya dari kalangan menengah atas: keduanya menyajikan komoditas yang memang berkualitas. Sementara Pasar Gempol kini lebih didominasi fasilitas kuliner. Fungsi-fungsi pasar tradisional lebih ditunjukkan oleh beberapa toko kelontong kecil dan seorang penjual sayur temporer. Menurut informasi dari lapangan, generasi penerus pedagang awal pasar memilih untuk tidak melanjutkan usaha dagang orang tuanya di pasar ini.

Ketika meneliti Cihapit, saya membangun pertanyaan, mengapa komoditas di pasar itu relatif mahal dan berkualitas baik? Mengapa kalangan menengah ke atas masih bersedia berbelanja ke pasar rakyat, meski di beberapa tempat sudah bersih, namun masih banyak tempat yang becek-becek? Awalnya saya menduga karena ada relasi sosial yang khusus antara penjual dan pembeli. Di Cihapit, para orang tua bisa berbelanja sambil belanjaannya dibawakan oleh pesuruh toko dan tukang parkir. Di supermarket, ini “layanan sosial” ini tidak bisa didapatkan, karena modernitas pasar ini menganut kejelasan fungsi: form follow function. Pesuruh ya membersihkan supermarket, tukang parkir ngurusin parkir saja, kalau bertugas di luar itu akan dianggap melanggar SOP. Relasi sosial ini yang mendorong loyalitas para orang tua, yang tinggal di kawasan kota Eropa di pusat kota Bandung, untuk berbelanja di Pasar Cihapit ini.

Namun kelamaan nongkrong di Cihapit membawa saya mulai lebih tahu mengapa pasar ini mampu menghadirkan komoditas yang memikat konsumen kalangan menengah ke atas: lokasi! Ini bukan sekadar cucoklogi terhadap kunci sukses memasarkan apartemen: lokasi, lokasi, lokasi. Tetapi bicara tentang pasar, apa pun bentuknya, akan terkait dengan lokasi. Lokasi yang menunjukkan di tempat mana orang banyak cenderung berkumpul.

Pasar Cihapit dan Pasar Gempol menempati ruang yang dibuat ketika kota Bandung menjadi kota kolonial pada masa lalu. Ketika dibangun, artifak-artifak arsitektur kolonial itu didirikan di pusat kota. Ketika kota ini berkembang pada masa kini, kawasan kolonial itu semakin menjadi pusat kota, karena pembangunan kota semakin meluas ke kawasan pinggiran. Ditambah keelokan arsitekturalnya, posisi pusat secara lokasi ini semakin menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Ketika kegiatan wisatawan tumbuh, maka komoditas yang muncul pun mengikuti selera pasar. Ketika sesuatu yang berlokasi “pusat” mampu menaikkan nilai konsumsi secara ekonomi, proses produksi pun akan terhela. Ada suatu proses konstruksi sosial di sini. Ketika

Pasar Gempol dan Pasar Cihapit bisa menjadi contoh relasi mutal antara formalitas dan informalitas untuk kualitas kota. Karakter unik kedua tempat itu dinikmati oleh orang awam karena informalitasnya, yaitu para pedagang yang mampu menyajikan komoditas berkualitas baik. Kualitas ini didorong oleh permintaan konsumen yang tinggal dan beraktivitas di kawasan ini. Karakter tempat tinggal dan aktivitas ini ditentukan oleh formalitas kawasan ini sebagai kawasan peninggalan kolonial masa lalu.

Tetapi ini baru kesimpulan sementara. Masih perlu banyak nongkrong lebih lagi di kedua pasar ini sembari mencoba memahami kira-kira apa yang dipikirkan Lefebvre tentang Rhytmanalisis (1992) di kawasan ini. Berharap bisa menjelaskan social matrix dalam urban process yang membentuk wujud fisik kota dalam kehidupan sehari-hari. “Urban form is never innocent of social content, it is the matrix within we organize daily life” (Kostof, 1992:71-73).

Referensi

Kostof, S. (1992).  The City Assembled: The Elements of Urban Form through History.  London, Thames and Hudson.

Lefebvre, H. (2004/ 1992) Rhythmanalysis: Space,Time and Everyday Life. New York Continuum.

Siregar, S. A. (1990). Bandung: the Architecture of a City in Development: Urban Analysis of a Regional Capital as a Contribution to the Present Debate on Indonesian Urbanity and Architectural Identity. Doctoral Theses. Faculty of Applied Science Katholieke Univ. Leuven.

.

PageLines