Pasar Rakyat: antara Desain dan Tatakelola

by

Agus Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, aekomadyo00(at)gmail(dot)com

 

Wow, Pasar Peterongan jadi cagar budaya kota Semarang!

Bagian depan pasar ini pun dirancang menjadi ruang publik, tempat duduk-duduk, dinaungi pohon tua yang sengaja ditempatkan pada sumbu simetri bangunan untuk menjadi tengaran. Ada dua prasasti disematkan di tempat ini, menegaskan kepedulian pemerintah kota terhadap keberadaan pasar rakyat.

Masuk ke dalam bangunan, kesan lapang dan segar yang menyambut. Bangunan dirancang cukup tinggi, dengan pengolahan “indirect daylighting” pada langit-langit dan atap bangunan. Sepintas terlihat sang arsitek terinspirasi oleh Thomas Karsten, yg menerapkan teknik ini pada 3 pasar yang dirancangnya untuk kota Semarang.

Meski “well-designed”, tetapi ada yg terasa kurang di pasar ini: kehidupan, hiruk pikuk aktivitas jual beli. Awalnya saya mengira datang terlalu pagi, pasar baru saja mulai, pedagang belum semuanya datang. Atau belum semua kembali dari acara lebaran di desanya masing-masing.

 

Setelah “mblusuk” lebih dalam, saya menemukan keramaian pasar yang sesungguhnya. Pada ruas jalan di belakang, hiruk pikuk aktivitas jual beli menciptakan suasana khas pasar rakyat. Termasuk semrawutnya: motor, becak, penjual, pembeli, tempat sampah, (dan fotografer tentunya, he3x) bercampur jadi satu. Jelas tidak nyaman buat jalan-jalan, motret-motret apalagi selfie, duduk-duduk menikmati suasana, dan aneka aktivitas wisata lainnya.

Pertanyaannya, mengapa pedagang lebih memilih berdagang di jalan daripada di dalam bangunan? Jawabannya klasik memang, karena jalan lebih mudah dijangkau pembeli. Lebih aksesibel, kalau bahasa arsitekturnya. Pembeli akan memilih kemudahan dalam berbelanja. Tanpa pembeli, apalah daya para pedagang pasar.

Tetapi pedagang “jalanan” di Pasar Peterongan punya karakter yang unik. Menurut informasi yang saya dapatkan, yang mereka bukan pedagang asli pasar ini, sebagian adalah pedagang dadakan dari kawasan perdesaan penghasil sayur mayur di sekitar Semarang: Bandungan, Sumowono, Mranggen. Acapkali sayur mayur tidak berharga di desa asal mereka: lebih baik dijual sangat murah daripada membusuk atau jadi makanan kambing. Mereka memilih menyewa kendaraan terbuka, membawa sayur mayur ke kota, dan menjualnya langsung di pasar. Lebih menguntungkan.

Tampaknya tesis bu Ramalis S. Prihandana, berlaku di sini: pasar rakyat harus dilihat sebagai sarana penghidupan (livelihood) yang terbangun dari jejaring sosial-ekonomi desa-kota. Pasar rakyat bukan sekadar ruang publik yang dikonsumsi oleh warga kota pada umumnya, ada aspek produksi ruang yang terkait dengan ekonomi dan sosial budaya masyarakat. Maka desain pasar rakyat yang baik sekadar jalan untuk membuka pada permasalahan yang lebih luas untuk diselesaikan: masalah tatakelola pasar (public market governance). Sebaik-baiknya desain adalah yang mampu menciptakan tempat bagi “kehidupan” penggunanya (a living place, place for livelihood). Ketika desain merupakan suatu proses sosial yang melibatkan banyak pihak, ia tidak bisa berdiri sendiri: desain adalah bagian dari tatakelola.