Pecinan Glodok riwayat mu dulu…

by

Download PDF

Yup, bicara soal Pecinan, beruntung Jakarta punya Glodok. Setiap orang pasti tahu bila menginginkan membeli barang-barang elektronik pasti Glodok menjadi tujuan. Tentunya sebelum online shop merebak sekarang. Glodok, glodok… bagi teman-teman komunitas sejarah budaya, kawasan ini bagai lahan walkingtour yang unik sekaligus menantang. Walaupun kawasan ini terkesan semrawut, padat, dan kumuh tetapi kawasan ini bagai ‘harta karun’ sejarah bagi kota Jakarta dan bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Kawasan ini banyak terdapat historical-site attraction atau destinasi wisata sejarah seperti pusat-pusat aktivitas sakral (klenteng/vihara, dan gereja), maupun pusat kegiatan profan (pasar, jalan/gang, dan lainnya). Adapun pusat kegiatan sakral dibangun abad 17-19 M, pada umumnya adalah bangunan berupa klenteng/vihara di antaranya adalah klenteng Li Tie Guai/ Vihara Budhi Dharma, Klenteng Nan Jing Miao/Vihara Arya Marga, Vihara/Klenteng Toa Se Bio, Vihara Dharma Bakti/Klenteng Kwan Im Teng, Gereja Kristen Indonesia Perniagaan, dan Gereja Santa Maria De Fatima. Sedangkan pusat kegiatan profan berupa pusat-pusat aktivitas ekonomi seperti Pasar Asemka, Gang Gloria, Jalan Perniagaan Raya, dan Jalan Jelangkeng dan pusat kegiatan lainnya berupa sekolah, seperti SMAN 19 yang terkenal dengan nama Pa Hua atau Cap Kau, serta Rumah Keluarga Souw.

Wah ternyata banyak yah yang bisa kita kunjungi. Bagi yang doyan makan-makan Chinese Food, gang Gloria-lah tempatnya, dan tidak di rekomendasikan untuk rekan-rekan muslim lho. Ada lagi Klenteng Kwan Im Teng atau Jin De Yuan yang merupakan Klenteng tertua, yang dibangun pada pertengahan abad ke 17, wah belum lahir nih. Bangunan klenteng dipugar total pada tahun 1755 oleh seorang Kapiten Tionghoa Oei Tsi Lauw sehingga kemudian menamai klenteng ini dengan nama Jin De Yuan (berarti Kebajikan Emas). Pemugaran pertama kali ini dilakukan setelah peristiwa kebakaran yang melanda bangunan klenteng pada tahun 1740 (Direktorat Purbakala, 2000: 49; Salmon dan Lombard, 2003: 18, Heuken, 2016: 254). Keren kan! Apalagi sekarang di dalam klenteng sudah ada gambar sketsa dan rancangan maket untuk pengembangan-nya.

Gambar kiri: Foto Klenteng Jin de Yuan pada tahun 1920an (Sumber: Heuken, 2016: 254)
Gambar kanan: Foto Klenteng tahun 2018 pasca kebakaran pada tahun 2015

Nah bagi kamu-kamu yang suka belanja ada lagi pasti tau deh Pasar Asemka. Pasar Asemka terletak di Jalan Pintu Kecil, Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pada abad ke 17-awal 18 M, di daerah ini terdapat pintu kecil (kleine port) untuk masuk Kota Batavia khusus bagi etnis Cina. Sedangkan nama dari Asemka, merupakan toponomi kawasan ini pada masa lalu kemungkinan banyak ditumbuhi oleh pohon asam jawa (Tamarindus indica). Pada awal tahun 1920an hingga pasca kemerdekaan, daerah ini masih bernama Passer Pagi Straat atau Jalan Pasar Pagi  (Vletter, Voskuil, & Diessen, 1997).

Kawasan Pasar Pagi dan Pintu Kecil (Kleine Poort) merupakan daerah keluar masuk ke Kota Batavia di sisi selatan yang dibangun pada 1638, yang terletak di Kubu Bastion Diest, maka bernama Diestpoort, yang sudah dikenal sebagai pusat perdagangan di Batavia yang dekat dengan kawasan Pecinan (Het Chine Kwartier). Namun sejak perisitiwa kerusuhan Tionghoa 1740, banyak etnis Tionghoa ditempatkan di luar tembok kota. Pada awal tahun 1920an sudah dikenal sebagai pusat perdagangan di daerah Glodok dan Asemka. Hal ini terkait kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang memberikan hak istimewa kepada kalangan Cina untuk membangun pemukimannya dengan segala bentuk kebudayaannya. Jalan Pasar Pagi dahulu dikenal dengan nama Passer Pagi

Suasana Pasar Asemka dari Jalan Pasar Pagi (Ulfiana, 2018)

Sejak masa lalu, Asemka selalu menjadi magnet bagi warga Ibu Kota dan sekitarnya. Transaksi di sana mulai tergerus oleh pertumbuhan e-commerce.

Perubahan demi perubahan terus berlangsung, tanpa memperhatikan prinsip pelestarian. Namun tradisi imlek dan cap go meh masih sangat kental. Ini berarti bahwa masih adanya budaya intangible yang tersisa dari budaya yang tangible. Kita berharap kedepan, semua stakeholder lebih peduli mengembangkan pariwisata berbasis pelestarian (conservation based tourism). Sehingga otentisitas bangunan dan karakter kawasan tidak banyak berubah dan masih bisa terus dilihat hingga anak cucu (sustainable).

Nah, sekian dulu yah.. Bagi teman-teman yang ingin membaca lebih lanjut cerita-cerita sejarahnya nih bisa di baca dalam beberapa buku di bawah agar tidak penasaran. Salam budaya!

Tangerang Selatan, 17 Mei 2019 

Daftar Bacaan

Diessen, J.R.Van, J.Ormeling, F., & Braam, R. (2004). Grote Atlas van Nederlands Oost-Indie: Comprehensive Atlas of The Netherlands East Indies. Zierikzee: Asia Maior.
Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dan Pusat Dokumentasi Arsitektur, (2004). Pembuatan dan Informasi Bangunan Cagar Budaya Guna Menyempurnakan SK Gubernur No. 475/1993. Jakarta.
Heuken, A. (2016). Tempat-Tempat Bersejarah Di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
Heuken, Adolf, (2003). “Gereja-Gereja Tua di Jakarta,” dalam Gedung-Gedung Ibadat Yang Tua Di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka (edisi kedua).
Koentjaraningrat. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Purbakala, D. (2000). Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Direktorat Purbakala, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Surjadi, J. (2018, June Wednesday). Nama Jalan di Batavia berdasarkan Kartu. Dalam  http://dedjadoel.blogspot.com/2018/06/nama-jalan-di-batavia-berdasarkan-kartu.html. Diakses tanggal 14 Maret 2019.
Salmon, Claudine dan Denys Lombard, (2003). Klenteng-Klenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka (edisi kedua).
Tan, H. (2018, October 28). Perjuangan Sekolah Tionghoa Hwee Koan dan Cara Mereka Menghina Tionghoa. dalam https://www.tionghoa.info/perjuangan-sekolah-tiong-hoa-hwee-koan-dan-cara-mereka-menghina-tionghoa/
Tim Direktorat Purbakala, (2000). Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Direktorat Purbakala, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ulfiana, A. D. (2018, Desember Tuesday). Katadata. dalam https://katadata.co.id/foto/2018/12/11/pernak-pernik-natal. Diakses tanggal 14 Maret 2019.
Vletter, M. d., Voskuil, R., & Diessen, J. v. (1997). Batavia/Djakarta/Jakarta Beeld van een metamorfose. Purmerend: Asia Maior.