Perspektif dalam Membaca Arsitektur Kota: Catatan Sejenak Menelusuri Pasar Kenari Jakarta

by

Agus S. Ekomadyo, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, aekomadyo00(at)gmail.com

Download versi pdf:Ekomadyo – Artikel Perspektif dalam Membaca Arsitektur Kota Pasar Kenari (IPLBI)

Di Jakarta ada sebuah tempat bernama Pasar Kenari. Ketertarikan saya karena pasar ini terletak di sebelah kantor tempat saya bergabung dengan komisi yang menyusun aneka standar untuk fasilitas perdagangan di Indonesia, sebagai kelanjutan dari penyusunan standar untuk Pasar Rakyat. Selain itu, nama “Kenari” mempunyai asosiasi dengan brand sebuah produk bahan bangunan yang dikenal berkualitas tinggi. Saya berharap bahwa tempat ini mempunyai cerita tentang bagaimana suatu usaha perdagangan kota dibangun. Apalagi ketika tukang ojek bercerita, bahwa Pasar Kenari merupakan Glodok kedua bagi Jakarta.

Penjelajahan saya ke tempat ini dimulai dari perspektif satelit. Tepatnya dengan peta digital yang tersedia di internet (gambar 1). Perspektif ini memberikan orientasi tentang tempat ini. Di peta, Pasar Kenari ternyata terletak di persimpangan jalan. Di seberang pasar ada tempat bernama Plaza Kenari Mas dan Pasar Paseban. Selintas langsung terbayang bahwa kedua tempat ini terkait dengan keberadaan Pasar Kenari, dan akan bisa menjelaskan bagaimana aktivitas perdagangan berkembang di tempat ini. Selain itu, perspektif satelit (lewat peta) membantu orientasi saat nanti mendapat kesempatan melakukan penjelajahan lewat darat.

Gambar 1: Peta Kawasan Pasar Kenari Jakarta

Penjelajahan kedua lewat perspektif jalan raya. Saya menemukan 4 bangunan utama yang menjadi tengaran kawasan ini: Pasar Kenari Lama, Pasar Kenari Baru, Pasar Paseban, dan Plaza Kenari Mas (gambar 2). Keempat bangunan tersebut mengapit pertigaan Jalan Salemba dan Jalan Paseban. Segeralah terbayang dugaan sejarah perkembangan kawasan ini. Aktivitas perdagangan sehari-hari dimulai di pertigaan Salemba Paseban, sebagai tempat simpul lalu lintas orang, sehingga muncullah sebuah pasar yang tumbuh merespon keramaian ini. Beberapa pengusaha komoditas tertentu, yaitu produk elektronik, memilih tempat sebagai alternatif tempat usaha di luar pusat kota Jakarta sebagai strategi positioning dalam bisnis. Merespon perkembangan zaman, dibangun pasar yang lebih baru dan modern. Kemudian dibangun lagi fasilitas perbelanjaan berkarakter mall, untuk merespon kebutuhan berbelanja sebagai bagian dari gaya hidup. Bisa ditebak kira-kira pada tahun berapa keempat bangunan tersebut dibangun, karena masing-masing mewakili zamannya.

Gambar 2: Empat bangunan penanda kawasan pasar kenari: Pasar Kenari Lama (Kiri atas), Pasar Kenari Baru (kanan Atas), Pasar Paseban (kiri bawah) dan Plaza Kenari Mas (kanan bawah)

Perspektif ketiga adalah perspektif “blusukan” ke dalam bangunan-bangunan tersebut. Blusukan adalah metode cepat untuk mencari Genius Loci kawasan ini. “Blusukan” serius dilakukan Cullen (1961) lalu menghasilkan pemikiran tentang bentang kota. Bersama dengan Norberg-Schultz (1991), Cullen disebut sebagai penganut mazhab humanistik dalam arsitektur kota (Attoe, 1989).

Dari tiga bangunan yang saya jelajahi (kecuali Plaza Kenari Mas sebagai bangunan terbaru) saya mencoba melacak Genius Loci kawasan ini. Ketiganya lebih banyak hadir sebagai bangunan perdagangan semata. Tidak banyak aktivitas rekreatif pada bangunan-bangunan ini. Kegiatan sosio-kultural lebih sebagai akibat dari kegiatan perdagangan, tidak ada sesuatu yang khas yang bisa memberi pelajaran tentang akar budaya kawasan ini. Blusukan di ketiga bangunan penulis memilih tidak mengambil gambar, karena khawatir menganggu aktivitas niaga yang cenderung kurang tertutup. Beda dengan beberapa pasar yang sering digunakan rekreasi, para pedagang relatif terbuka kalau diambil gambarnya.

Menjelang kembali dari blusukan, tiba-tiba saya menemukan jalan yang tidak terperhatikan saat melihat peta: Jalan Kenari. Rupanya morfologi kawasan ini bukan dibentuk oleh pertigaan, tetapi perempatan: dua ruas jalan Salemba Raya, jalan Paseban, dan jalan Kenari! Jalan Kenari, meskipun berukuran kecil, menyerupai gang, rupanya menjadi penanda mengapa pasar di sini disebut sebagai Pasar Kenari. Dan memasuki jalan, ini langsung tergambar Genius Loci Pasar Kenari sebagai kawasan perdagangan alat-alat listrik dan sebangsanya. Kios-kios dengan ukuran yang mirip berjejer menampilkan komoditas yang juga mirip, memberikan karakter informal bentang jalan (streetscape) ini. Di ruas jalan ini, para pedagang dan pembeli bukan saja bertransaksi, tetapi juga berinteraksi: saling bercerita, saling bercanda. Morfologi gang yang tidak lurus dan bercabang menyediakan aneka pengalaman ruang yang kaya (gambar 3).

Gambar 3: Suasana perdagangan di Jalan Kenari

Sejenak blusukan di kawasan Pasar Kenari, saya belajar tentang proses perkotaan (urban process) dalam kehidupan sehari-hari (everyday life). Kostof (1991) menyebutkan, lewat sejarah dan tinjauan morfologi kota kita perlu mengenal social matrix yang membentuknya. Dan lewat irama kehidupan sehari-hari (Lefebvre, 1992) matriks sosial tersebut menunjukkan jejaknya. Lewat penjelajahan morfologi, penampilan luar bangunan, dan suasana ruang jalan di kawasan Pasar Kenari, bisa menjadi bahan awal kajian lebih lengkap mengenai proses terbentuknya karakter tempat (becoming places) di kawasan ini.

Tetapi lebih dari itu, saya belajar tentang perspektif dalam mempelajari arsitektur kota. Melihat kota dari perspektif satelit (lewat peta), melihat penampilan bangunan (lewat jalan raya), dan menikmati suasana ruang (lewat gang) ternyata membangun pengetahuan yang berbeda-beda. Semakin detail kita melihat, semakin dalam dan semakin unik fenomena yang kita temukan. Kadang-kadang keunikan suatu tempat (Genius Loci) muncul tanpa diduga, hadir dalam perjalanan menjelajahi tempat itu. Itu sebabnya arsitek suka jalan-jalan, karena keunikan-keunikan tempat -sebagai modal kreativitasnya dalam berkarya- sering muncul dari perjalanan itu, dan bukan sekadar dari informasi yang disajikan oleh aneka media.

Referensi

Attoe, W., dan Logan, D. (1989) : American Urban Architecture: Catalyst in Design of the Cities, Universiy of California Press, Barkeley.
Cullen, G. (1961). Townscape. Reinhold Book Corporation, New York.
Kostof, S. (1992). The City Assembled: The Elements of Urban Form through History.  London, Thames and Hudson.
Lefebvre, H. (2004/ 1992). Rhythmanalysis: Space,Time and Everyday Life. New York Continuum.
Norberg-Schultz, C. (1991). Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture. New York: Rizzoli.