Produksi Dan Diseminasi Pengetahuan Lewat Desain Arsitektur

by

Catatan dari Pameran dan Talkshow AR3290 2019: Site Sensitivities and Market-Oriented Building System Design

Galeri Arsitektur ITB, 16-21 September 2019.

Agus S. Ekomadyo. Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung. Email: aekomadyo(at)gmail.com

“Arsitektur adalah hal yang sangat dekat dengan kita. Arsitektur hidup bukan hanya dari penggunanya, melainkan juga dari hal-hal yang berada di sekitarnya. Lingkungan dan masyarakat sekitar, budaya, cuaca, ketinggian tanah, hingga sistem peraturan daerah setempat sangat berperan penting dalam menghidupkan sebuah karya arsitektur. Keduanya memiliki peran penting. Saling melengkapi, saling menyeimbangi”

Kalimat di atas adalah kutipan diatas ditulis oleh mahasiswa arsitektur sebagai peserta sekaligus panitia pameran dan Talkshow “Site Sensitivities and Site Sensitivities and Market-Oriented Building System Design. Ungkapan tersebut bisa dibaca sebagai refleksi mahasiswa setelah satu semester mengalami proses pembelajaran di studio. Arsitektur dipahami sebagai bagian dari keseharian. Meski ketika merancang, bekerja di studio, harus mengambil jarak dari realitas, namun kepekaan dan representasi terhadap realitas itu tetap menjadi perhatian. Ketika desain dipresentasikan, direfleksikan, dan didesimenisakan, merupakan representasi dari realitas  yang dicerap oleh para perancang.

Pameran dan talkshow ini merangkum tugas-tugas terbaik mahasiswa semester genap tingkat 3 tahun 2019 pada Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Tugas 01 mengambil pendekatan perancangan kepekaan terhadap tapak berkontur, dengan kasus Perancangan SMK Pertanian di kawasan Paronpong Kabupaten Bandung Barat. Tugas 02 mengambil  pendekatan perancangan sistem bangunan, dengan kasus Apartemen Tingkat Menengah (Midrise Apartment) di Jalan Soekarno Hatta Bandung. Untuk memberikan asupan substansi kepada mahasiswa, diselenggarakan beberapa kuliah instruksional dan kuliah tamu yang relevan dengan tema-tema tugas mahasiswa (Gambar 1 dan Gambar 2). Untuk membangun suasana akademis dalam belajar, studio dijalankan relasi-relasi yang cair antar dosen, antara dosen dengan mahasiswa, dan di antara mahasiswa itu sendiri (Gambar 3).

Gambar 1: materi kuliah tugas 01 tentang tapak berkontur
Gambar 2: poster kuliah tamu dan diskusi mahasiswa dengan narasumber untuk perancangan midrise apartment
Gambar 2: suasana cair antar mahasiswa, dosen dengan mahasiswa, dan antar dosen dalam proses pembelajaran di studio

Ada dua semangat pameran ini. Pertama, bahwa desain dalam studio di arsitektur ini dilihat sebagai proses belajar, “desain as learning” (Dorst, 2003). Artinya, meskipun desain berorientasi pada pemecahan masalah, proses mendapatkan pengetahuan menjadi perhatian dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Kegiatan pameran menjadi kegiatan diseminasi pengetahuan. Dengan mencatat semua pengetahuan yang didapatkan, maka aneka proses bisa terlacak dengan baik demi perbaikan secara berkelanjutan.

Kedua, adalah semangat kolektivitas. Pameran dan Talkshow ini sepenuhnya dilaksanakan oleh mahasiswa peserta pameran sebagai panitia (gambar 3, 4, dan 5). Beberapa arsitek senior (Pak Firmansyah dan Pak Georgius Boegar) dilibatkan untuk memberikan kurasi terhadap karya-karya mahasiswa. Diharapkan masukan dari arsitek senior bukan saja menjadi modal untuk peningkatan kompetensi, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri. Dari sini, meski kerja desain dilakukan secara personal, apresiasi yang didapatkan lewat pameran mendorong karya arsitektur menjadi karya kolektif, karena melibatkan koordinator studio, dosen pembimbing, panitia pameran, kurator, dan publik yang memberikan apresiasi.

Gambar 4: persiapan mahasiswa peserta yang juga peserta pameran.
Gambar 5: poster dan suasana pameran
Gambar 6: Beberapa karya mahasiswa yang dipamerkan

Ke depan, model-model self-exhibition ini bisa menjadi alternatif diseminasi pengetahuan arsitektur secara kolektif namun efisien.Dalam skala lebih besar, kegiatan ini seperti ini dijumpai dalam Indonesian Architects Week @Seoul 2017 (Nogroho, 2017), Bintaro Design District (Widjanarko, 2018), atau Inisatif Arsitek Bandung (Andhini, 2016). Dengan semangat kolektivitas, pameran bisa diselenggarakan secara kontinu untuk mendekatkan karya arsitektur kepada publik.

Referensi:

  1. Andhini, D.P. (2016). Arsip Arsitektur Vol. 01”, Ruang Karya Bagi Arsitek Bandung. https://roi-radio.com/arsip-arsitektur-vol-01-ruang-karya-bagi-arsitek-bandung/ Dorst, K. (2003). Understanding Design: 175 Reflection on Being Designer. Bis Publishers, Sydney
  2. Nugroho, R.S. (2017).IAWS 2017: Sajian Karya Arsitek Indonesia Merespon Kota. http://www.arsitekturindonesia.org/museum/iaws-2017-sajian-karya-arsitek-indonesia-merespon-kota
  3. Widjanarko, B.A. (2018). “Bintaro Design District, Inisiatif Desainer dan Arsitek Berbagi Bersama Warga”, https://properti.kompas.com/read/2018/10/20/220412421/bintaro-design-district-inisiatif-desainer-dan-arsitek-berbagi-bersama?page=all.