Psikologi Belajar dalam Pendidikan Arsitektur

by

Tjahja Tribinuka | Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS | E-mail tribinuka(at)ymail.com

Pelaksanaan pendidikan arsitektur merupakan proses belajar mengajar, oleh karenanya penting untuk mengetahui ilmu mengenai kata ‘belajar’ tersebut. Bidang ilmu yang sesuai adalah ‘psikologi belajar’. Burton (1929) mendefinisikan ‘belajar’ adalah perubahan dalam individu karena pelajaran yang dilakukan oleh individu dan lingkungannya, yang merupakan kebutuhan dan membuatnya lebih mampu berurusan secara memadai dengan lingkungannya. Perubahan tersebut menurut Bloom (1956) terkait dengan 3 hal yang dimiliki individu yaitu pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif) dan ketrampilan (psikomotorik).

Penyelenggaraan pendidikan arsitektur dilakukan dengan proses belajar antara mahasiswa dan dosen arsitektur. Seorang mahasiswa adalah lulusan dari sekolah tingkat atas, dengan demikian dosen di tingkat pendidikan dasar arsitektur perlu mengetahui dasar pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa arsitektur tingkat awal tersebut. Dengan memahami pengetahuan awal yang dikuasai siswa baru, maka pendidikan bisa berjalan, yaitu memproses individu pada pengetahuan, perilaku, dan ketrampilan dari segala hal di sekolah tingkat atas untuk bisa berubah menjadi pengetahuan, perilaku, dan ketrampilan dari lulusan yang diharapkan.

Setiap perguruan tinggi penyelenggara pendidikan arsitektur pasti memiliki ke-khas-an tersendiri bagi tujuan yang ingin dicapai oleh lulusannya. Hal tersebut bukanlah masalah yang penting karena arsitektur memang demikian beragam. Yang menjadi masalah adalah bagaimana perguruan tinggi tersebut menyelenggarakan pendidikan yang benar untuk mengubah potensi yang dimiliki mahasiswa baru menjadi lulusan dengan kemampuan yang diharapkan. Sampai dengan hari ini pendidikan yang dilaksanakan di perguruan tinggi penyelenggara pendidikan arsitektur dengan sistem studio dari 1, 2, 3, 4 dan seterusnya sampai tugas akhir atau skripsi. Namun apakah studio 1 misalnya sudah menjadi transisi bagi 3 ranah afektif, kognitif dan psikomotorik untuk menjalani tahap awal dari potensi yang dimiliki lulusan sekolah tingkat atas menjadi potensi yang dimiliki mahasiswa tingkat awal ? Hal ini perlu mendapat jawqaban yang baik.

Hal yang banyak dilakukan dalam menetapkan tahap demi tahap studio perancangan adalah mencontoh perguruan tinggi lain yang dianggap maju, atau bahkan hanya melanjutkan apa yang pernah diajarkan oleh dosen di masa lalu kepada dosen yang sekarang mengajar. Jika menggunakan psikologi belajar, maka taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Anderson (2001) menetapkan proses belajar dari yang mudah ke yang sulit dengan urutan :  mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, menilai dan yang terakhir adalah menciptakan.

Selayaknya sebuah proses belajar arsitektur di semester awal fokusnya untuk mengetahui, yaitu mengenal apa yang disebut dengan arsitektur, juga pengetahuan-pengetahuan lainnya terkait dengan ciri arsitektur apa yang ingin dicapai oleh lulusan, misalnya arsitektur nusantara, arsitektur hijau dan sebagainya. Kemudian pada semester berikutnya difokuskan untuk kegiatan pemahaman, bahwa apa yang sudah diketahui kemudian diterjemahkan, dijabarkan, ditafsirkan, dihitung dan disederhanakan. Semester selanjutnya dikerjakan dengan berbagai aplikasi dari hal-hal yang telah dipahami. Aplikasi ini dengan menerapkan pemahaman pada pola dan situasi yang berbeda-beda. Semester berikutnya difokuskan untuk kegiatan analisis, bahwa setiap penerapan memiliki pola dan konteks tertentu. Semester berikutnya difokuskan untuk menilai mengenai apa yang telah dibuat kualitasnya seberapa tinggi. Pada semester akhir difokuskan untuk kegiatan menciptakan, dengan menggabungkan beberapa faktor ke dalam pola dan konteks tertentu.

Dengan proses ini, maka pada tahap awal studio perancangan bisa langsung dilatih mendesain yang tujuannya adalah pengenalan. Misalnya mengenal bagaimana memahami bentuk dengan berbagai macam variasi dan dampak yang ditimbulkannya. Disertai dengan pemahaman mengenai ruang dengan berbagai macam variasi dan dampak yang ditimbulkannya pula. Selain bentuk dan ruang, maka perlu pula dikenalkan hal yang terkait dengan karakter, yaitu warna dan tekstur. Pada saat studio perancangan di semester selanjutnya, pengetahuan terhadap bentuk, ruang dan karakter tersebut meningkat agar bisa dipahami oleh mahasiswa. Perlu pemahaman bahwa bentuk, ruang dan karakter tersebut ketika didesain dengan cara tertentu akan menghasilkan kesan dan suasana tertentu. Semester selanjutnya, dari pemahaman terhadap kesan dan suasana pada bentuk, ruang serta karakter dikembangkan lebih rumit untuk bisa mengaplikasikannya, aplikasi tersebut terkait dengan berbagai tujuan, misalnya guna dari arsitektur, atau citra dari arsitektur yang ingin ditampilkan. Semester berikutnya adalah pelatihan dari kemampuan menganalisis, guna dan citra dari rancangan yang dibuat perlu untuk mampu didefinisikan mahasiswa dalam pola dan konteks tertentu. Semester berikutnya hasil rancangan yang telah dianalisa perlu ditinjau kualitasnya, seberapa baik rancangan tersebut. Setelah mahasiswa mampu menilai kualitas dari apa yang didesainnya, maka tibalah di semester akhir untuk bisa mencipta. Pada semester ini berbagai hal yang telah dipelajari digabungkan dalam suatu formulasi hingga menghasilkan sebuah desain yang sesuai dengan kemampuan yang diinginkan oleh perguruan tinggi terhadap lulusan.

Kembali ke tiga ranah yaitu pengetahuan (kognitif), perilaku (afektif) dan ketrampilan (psikomotorik). Pelaksanaan studio perlu dikontrol untuk tetap melatih tiga ranah tersebut. Mahasiswa tidak bisa langsung dilepas dengan asal diberi tugas sesuai tahap-tahap studio saja. tetapi tugas-tugas desain tersebut apakah juga tetap membuat terlatihnya mahasiswa dengan ketiga ranah dari potensi yang dimiliki manusia itu. Dengan koordinasi ini maka proses belajar arsitektur yang dilakukan setahap demi setahap, dalam pelaksanaan satu studio menuju studio yang lain, bisa mengubah orang yang hanya punya potensi senilai lulusan sekolah tingkat atas, menjadi sarjana yang memahami ilmu arsitektur, memiliki sikap sebagai seorang sarjana arsitektur dan terampil mendesain layaknya arsitek yang baru lulus.

Referensi :

Anderson, Lorin W., David R. Krathwohl, Benjamin Samuel Bloom, A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives, Longman, 2001

Bloom, B.S. and Krathwohl, D. R., dkk, Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, by a committee of college and university examiners. Handbook I: Cognitive Domain, NY, NY: Longmans, Green, 1956

Burton, William Henry, The Nature and Direction of Learning, D. Appleton, 1929