Reflective Practitioning: Menarik Nilai-nilai dari Praktik Arsitek

by

Agus S. Ekomadyo, Staf Pengajar Program Studi Arsitektur ITB, aekomadyo00(at)gmail.com

 

Konsep Reflective Practitioner dikembangkan oleh Donald Schon dalam membangun masyarakat belajar (learning society) dalam suatu organisasi. Di sini dia mengkritik pendekatan rasional-teknikal untuk pengetahuan profesional yang dinilai terlalu positivistik dan deterministik dan sering tidak mampu menjawab masalah relevansi pengetahuan dengan kondisi nyata yang terjadi. Pendekatan reflektif dikembangkan Schon dengan pendekatan “seni bertindak”, mencoba mencari pelajaran-pelajaran berharga dari pengalaman yang dirasakan, untuk kemudian ditarik kembali ke teori-teori yang digunakan.

Dalam sebuah tugas untuk mempelajari “Design Thinking” dari para arsitek, dua kelompok mahasiswa mendapat kesempatan untuk mewawancarai langsung para arsitek dari dua biro: Gensler dan Atelier Riri. Berbeda dengan kelompok lain yang hanya mendapatkan informasi lewat data sekunder, wawancara langsung ternyata mampu menghadirkan nilai-nilai (values) dari arsitek dalam bekerja. Kelompok Atelier Riri bisa mendapatkan value pendekatan personal dari biro ini dalam memproduksi karya arsitektural yang berkelanjutan, sementara kelompok Gensler bisa menarik nilai-nilai dari biro ini yang banyak mengembangkan cerita lewat karya-karya arsitektur yang dihasikan (good ideas, big stories). Dalam wawancara tersebut, para arsitek secara tidak langsung melakukan refleksi terhadap pengalaman praktik mereka, men-sari-kan nilai-nilai yang didapatkan dari pengalaman untuk disesuaikan dengan apa yang ingin diketahui dan dianggap bermanfaat bagi mahasiswa.

Pendekatan reflective practitioner dari Schon juga mengambil praktik desain sebagai sebuah contoh refleksi. Desain merupakan proses iteratif antara permasalahan, gagasan, dan solusi selayaknya sebuah percakapan: dialog yang bersifat timbal balik. Oleh pemikir desain Brian Lawson, metode percakapan ini bagian dari metode bercerita (story telling) dalam design thinking. Lewat analogi bercerita, desainer mencoba mengembangkan gagasan untuk mencari kecocokan antara solusi dan permasalahan desain. Berbeda dengan metode ceramah atau orasi yang bersifat satu arah, metode bercerita lebih bersifat dua arah/ dialogis: sang pencerita perlu berempati pada pendengar agar pendengar mampu mengikuti, menikmati dan mengembangkan imajinasi dalam alur cerita yang dibangun.

Metode refleksi pengalaman melalui bercerita (story telling) merupakan bagian dari proses pembelajaran sosial (social learning). Dengan story telling, ada yang membagi cerita, ada yang mendengar, dan yang mendengar bisa langsung memberikan tanggapan agar jalan cerita bisa dinikmati dengan baik secara bersama-sama. Dalam kasus wawancara arsitek di atas, sang arsitek membagi cerita dengan mengembangkan empati: refleksi dari pengalamannya bisa fokus untuk menjawab keingintahuan tentang design thinking dari mahasiswa.

Dalam dunia profesi, pendekatan refleksi menjad penting karena di sini bisa dipelajari nilai-nilai yang terbangun dalam bekerja, bukan sekadar pengetahuan teknis rasional. Nilai-nilai ini menjadi dasar dari pembentukan etika profesi. Etika menyangkut nilai-nilai yang perlu dijaga bersama agar suasana saling menghormati bisa terjaga. Dalam dunia profesi, etika terbangun dari nilai-nilai personal yang terajut menjadi nilai bersama secara kolektif. Etika mendorong perjuangan pribadi sebagai bagian dari perjuangan bersama, dan nilai-nilai  yang dijaga secara pribadi menjadi nilai-nilai yang dijaga bersama. Etika akan tumbuh kuat ketika kebutuhan dan kesadaran akan keadilan (fairness, justice) menguat di kalangan komunitas tertentu, termasuk komunitas profesi.

Dalam tradisi Jawa, dikenal istilah “ngangsu kawruh”, yang berarti menimba kearifan. Bedanya, dalam “ngangsu kawruh” ada konotasi yang muda belajar ke yang tua. Di sini yang tua merefleksikan sariati nilai-nilai dalam perjalanan hidupnya, yang dianggap bermanfaat bagi kehidupan yang muda. Reflective practitioning mempunyai semangat yang serupa, namun lebih punya konotasi yang setara: yang tua bisa belajar yang muda, yang muda bisa belajar dari yang muda lainnya. Dalam reflective practitioner yang terjadi adalah saling menimba kearifan satu sama lain, dan lebih terbatas pada dunia kerja. Di sini proses belajar bukan sekadar mendapatkan pengetahuan (knolwledge), tetapi juga nilai-nilai (values): bukan sekadar saling menimba ilmu, tetapi juga saling menimba kearifan.