Sains, Permukiman, Lansekap, Urban, Ekologi, Struktur dan Konstruksi Arsitektur Nusantara

by

Tjahja Tribinuka | Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS | E-mail tribinuka(at)ymail.com


Sebuah contoh upaya menghadirkan Arsitektur Nusantara di masa kini dari bentuk Joglo (Tribinuka 2017)

Arsitektur Nusantara bukanlah arsitektur tradisional, namun arsitektur tradisional bisa masuk dalam Arsitektur Nusantara. Inti dari Arsitektur Nusantara adalah pemahaman berarsitektur yang mempertimbangkan sejarah dan potensi ke-Nusantara-an. Sejarah arsitektur di Nusantara sudah lahir bersamaan dengan arsitektur di Yunani yang dituliskan oleh Vitruvius. Arsitektur Nusantara tumbuh dan berkembang selama ratusan tahun, hingga datanglah pengaruh Barat yang membuat prinsip berarsitektur di Indonesia tidak lagi melanjutkan perkembangan arsitektur di Nusantara, tetapi menggantinya dengan Arsitektur Barat yang Vitruvian. Penggantian ini bukan hanya dalam praktik arsitektur, tetapi yang lebih mendasar pada materi pendidikan arsitektur. Semua materi pendidikan arsitektur di indonesia bersumber dari arsitektur Barat yang Vitruvian, tidak bersumber dari ilmu arsitektur yang digali dari Bumi Pertiwi. Minimal apa yang didapat dari ilmu arsitektur Barat yang Vitruvian jika difilter dengan ke-Nusantara-an, semestinya akan menghasilkan ilmu yang khas dari Bumi Pertiwi.

Potensi ke-Nusantara-an dalam berarsitektur  memang belum pernah digali dan dibakukan menjadi sebuah ilmu arsitektur. Potensi ke-Nusantara-an ini hanya terpenggal-penggal dihasilkan dari penelitian-penelitian arsitektur tradisional di Nusantara. Sebuah bangunan semacam Candi Borobudur yang bisa berdiri sampai setinggi 8 lantai di abad ke 8 belum pernah diteliti dan dijadikan sebagai acuan ilmu konstruksi yang diajarkan di lembaga pendidikan arsitektur. Ilmu pembangunan candi sampai 8 lantai ini jika dalam pendidikan saja diabaikan, maka apalagi untuk dipraktekkan dalam berarsitektur. Ilmu pembangunan candi di abad 8 ini tidak pernah ditumbuh kembangkan dan disesuaikan dari masa ke masa sehingga bisa dipakai di era masa kini. Kenyamanan thermal berada dalam rumah Bolon di Batak tidak pernah dibakukan sebagai ilmu sains arsitektur untuk bekal dalam menjalani studio desain di kampus. Permukiman dari rumah lanting di Palembang dan Banjar juga tidak pernah dijadikan sebuah mata kuliah khusus mengenai waterfront settlement. Lansekap rumah-rumah Tongkonan di Sulawesi tidak pernah dijadikan dasar keilmuan untuk acuan penataan lansekap yang ditumbuh kembangkan sesuai dengan kebutuhan masa kini. Penataan kota dengan mempertimbangkan pampatan agung dalam tradisi Bali tidak pernah dijadikan dasar mata kuliah urban desain. Pertimbangan ekologis dalam pembangunan rumah bubungan tinggi di Banjarmasin tidak diintisarikan agar menjadi ilmu yang bisa menjadi pertimbangan dalam desain berbasis kelestarian lingkungan hidup. Semua acuan mata kuliah dari lembaga pendidikan arsitektur berasal dari literatur Barat yang Vitruvian.

Ilmu arsitektur Barat yang Vitruvian tidak semuanya sesuai dengan negara Indonesia. Beberapa tahun terakhir kita dihembusi dengan isu mengenai penyelamatan lingkungan melalui bidang arsitektur. Studio-studio desain ramai mempraktikkan perancangan arsitektur dengan green building. Banyak mahasiswa yang mendesain dengan menyediakan taman atap (roof garden), berharap ikut serta menjalankan program penyelamatan lingkungan hidup dengan memperbanyak tanaman di bangunan. Jika kita meninjau Arsitektur Nusantara, konsep untuk menyelamatkan lingkungannya dengan efisiensi dan efektifitas yang tinggi dalam pemilihan bahan alam dan bentuk bangunannya dalam berhadapan dengan alam. Tanaman dalam arsitektur nusantara tidak pernah dimaksudkan untuk diletakkan di atas lantai, tetapi selalu menancap ke bumi. Jika ingin memperbanyak tanaman bisa dilakukan dengan konsep rumah panggung, bukan roof garden. Membiarkan manusia dan aktifitasnya ada di atas, dan tanaman tetap berada di bawah, menyaru dengan bumi. Mempertimbangkan bahwa tanah tidak perlu ditutup bangunan sehingga menghalangi serapan air hujan menjadi air tanah. Tanah hanya diisi dengan tiang-tiang penyangga bangunan dari rumah panggung saja. Energi membawa air ke atas untuk menyiram tanaman pada roof garden tidak perlu dibuang, apalagi kalau roof garden tersebut terletak di atas lantai banyak, berapa listrik yang dibuang hanya untuk memompa air dari bawah ke atas. Berapa biaya perawatan tanaman untuk membawa pupuk menaiki lift, membuang waktu dan energi listrik. Dan banyak pertimbangan lagi. Ilmu perancangan arsitektur berdasarkan arsitektur Nusantara tidak mengijinkan untuk membuat roof garden, tetapi membuat tanaman ada di tanah, di bawah bangunan panggung.

Salah satu contoh pemikiran bangunan dengan rumah panggung nusantara di atas bisa dipertimbangkan dari ilmu arsitektur lansekap. Lembaga pendidikan arsitektur dengan acuan teori perancangan arsitektur lansekap dari Barat menyajikan alternatif untuk membuat grading tanah, melakukan cut and fill. Kearifan lokal Arsitektur Nusantara berbeda lagi, berupaya membiarkan tanah apa adanya dan mendirikan bangunan panggung di atasnya. Kearifan lokal arsitektur nusantara membiarkan bentuk tanah yang sudah didesain oleh Tuhan tetap dalam bentuknya semula. Energi tidak perlu dibuang dengan mendatangkan excavator untuk membuat basement dan dinding penahan urugan tanah yang tinggi. Tanah yang sudah distabilkan oleh Tuhan dengan bentuknya dihormati dan dibiarkan saja, manusia hanya menumpang dengan rumah panggung di atasnya.

Tulisan-tulisan di atas hanya sekedar contoh saja, akan banyak lagi yang bisa digali jika potensi arsitektur nusantara dijadikan prinsip dalam merancang arsitektur. Masyarakat Barat tertarik untuk datang ke Toraja, Batak dan Bali bukan karena di sana banyak arsitektur minimalis atau neo modern, tetapi tertarik karena kearifan lokal dari arsitek tanpa pendidikan arsitektur formal yang menghasilkan karya-karya yang mampu menyejukkan hati mereka. Semoga akan semakin banyak hasil karya Arsitektur Nusantara dalam berbagai bidang di era masa kini, sehingga jati diri arsitektur di negara Indonesia bisa mencapai tingkat yang setara dengan Jati diri arsitektur Barat.