Sajak Wastu Mangunwijaya

by

Bennedictus Bagustantyo | Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur Institut Teknologi Bandung | beni.bagus(at)gmail.com

“Kang ingaran urip mono mung, Jumbuhing badan wadhag lan batinѐ, pepindhanѐ wadhan lan isinѐ…
Jeneng wadhan yѐn tanpa isi, alah dѐnѐ aranѐ wadhah,tanpa tanja tan ana pigunanѐ. Semono uga isi tanpa wadhah, yekti barang mokal… Tumrap urip kang utama, tertamtu ambutuhakѐ wadhah lan isinѐ, Kang utama karo-karonѐ.”

“Yang disebut hidup (sejati) tak lain, adalah leburnya tubuh, jasmani dengan batinnya. Ibarat bejana dan isinya…
Disebut bejana bila tiada isi, Tak ada artinya disebut bejana, Sia-sia tak ada gunanya. Demikian juga isi tanpa bejana, sungguh hal yang mustahil… Demi hidup yang baik, Tentulah dibutuhkan bejana dan isi yang baik (atau: sebaiknyalah) kedua-duanya.”

(Dialog Sang Hyang Bhatara Wairocono dengan Sang Kunjorokarno & Purnowijoyo)

Kutipan tersebut berasal dari “Serat Dewa Ruci”, sajak indah nenek moyang kita yang tampaknya sangat mengilhami Dipl. Ing. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr (1929-1999) atau yang biasa dipanggil Romo Mangun dalam me-lakoni, merefleksikan, dan berkarya selama hidupnya. Menurut Romo Mangun, agar menjadi badan manusiawi yang sempurna, manusia harus menjadi rohn (Mangunwijaya, 2013: 15). Perkataan J.B. Metz pun melengkapi dialog yang menjadi refleksi Romo Mangun tersebut: “Agar menjadi roh manusiawi yang sempurna, ia (manusia) harus menjadi badan”. Semua itu memiliki inti bahwa pada dasarnya manusia merupakan kesatuan tunggal hakiki: rohani-jasmani. Bukan dualisme jasmani dan rohani. Hal ini semua terbukti dan ditegaskan dalam beberapa tulisan Romo Mangun yang beberapa kali menyertakan dialog pembuka tulisan ini (secara tersurat maupun tersirat), tak terkecuali dalam pasal “Bahasa Ungkapan” buku “Wastu Citra” (1988).

Romo Mangun yang merupakan seorang rohaniwan, budayawan, pendidik, dan arsitek memang telah menulis lebih dari 20 buku baik nonfiksi maupun fiksi, sastra maupun non-sastra. Buku tentang arsitektur yang pernah ditulisnya adalah Pasal-Pasal Pengantar Fisika Bangunan (1980) dan Wastu Citra (1988) yang telah disebutkan tadi. Erwinthon P. Napitupulu (2009), arsitek, pendokumentasi karya-karya wastu Romo Mangun menyatakan bahwa sesungguhnya “Wastu Citra” adalah salah satu karya arsitektur Romo Mangun dalam wujud tulisan. Atau bahkan dapat disimpulkan bahwa karya-karya arsitektur Romo Mangun adalah juga Wastu Citra dalam wujud fisik. Karena menurutnya, terdapat kesesuaian antara yang-dituliskan dengan yang-diwujudkan oleh Romo Mangun (Napitupulu, 2013).

Wujud karya arsitektur Romo Mangun sendiri yang tercatat mencapai 84 buah, baik yang dibangun, tidak dibangun, dan sudah dibongkar. Dua dari karya-karyanya berhasil meraih penghargaan, yaitu AgaKhanAward for Architecture untuk Permukiman Tepi Kali Code, Yogyakarta, dan penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk tempat penziarahan Sendangsono. Penulis sendiri baru pernah mengunjungi 2 buah karyanya yaitu Kampung Kali Code pada tahun 2014 dan Sekolah Dasar Eksperimental Kanisius Mangunan (SD Mangunan) pada tahun 2012 yang kedua-duanya berlokasi di Yogyakarta.

Kupasan Wastu Citra Permukiman Tepi Kali Code

Apabila kita ingin memahami “Wastu Citra” Romo Mangun dalam konteks teori perancangan arsitektur, akan lebih mudah bila melihat karya nyata Romo Mangun di ranah arsitektur.  Karya yang mudah dan lengkap untuk pembelajaran ini adalah Permukiman Tepi Kali Code.

Permukiman Tepi Kali Code atau lazim disebut Kampung Kali Code, Yogyakarta pada awalnya merupakan permukiman liar dan kumuh di tepi kali yang dihuni oleh orang-orang yang termarginalkan, bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat yang terdiri atas gelandangan, kriminal, dan prostitusi. Hingga akhirnya pada tahun 1980, pemerintah pun merencanakan untuk menggusur permukiman tersebut demi wajah Kota Yogyakarta yang lebih baik (Al-radi dan Moore, 1992).

  Beni Bagus - YBM 02


Gambar 1:
Gerbang masuk Kampung Kali Code, Gondolayu, Yogyakarta pada tahun 2014. Kampung Kali Code ini merupakan peninggalan Romo Mangun (kiri). Balai Rukun Tetangga sebagai pusat Kampung Kali Code yang menstimulasi adanya dialog dan musyawarah dalam keseharian warga Kampung (kanan).  Foto©Bennedictus Bagustantyo.

Romo Mangun merupakan salah satu orang yang berdiri di depan untuk menentang rencana pemerintah. Beliau meyakini bahwa menggusur warga bukanlah solusi yang tepat atas persoalan yang terjadi. Baginya masyarakat Kali Code bisa memperbaiki pemukimannya sendiri asal diberi kesempatan. Ia pun terlibat dalam konflik sosial dengan berpolitik sekaligus membangun Permukiman Tepi Kali Code yang layak dan baik bersama masyarakat.

Lebih sebagai seorang arsitek, pendekatan awal yang dilakukan oleh Romo Mangun adalah merelakan diri menjadi bagian dari masyarakat. Kurang lebih selama 6 tahun menghuni, Romo Mangun merancang mentalitas, membangun penyadaran diri masyarakat, bahwa masih ada yang mengasihi dan peduli terhadap mereka. Hal ini merupakan pendekatan pedagogis yang seturut dengan kebijaksanaan kuna Jawa: ajrih-asih (ajrih: takut; asih: kasih). Target awalnya adalah warga kampung yang menjadi korban sekaligus yang paling menderita, yaitu anak-anak. Setelah itu baru orang dewasa, terutama kaum hawa. Sehingga masyarakat mampu sadar diri, peduli sesama dan lingkungannya. Mentalitas itu kemudian diejawantahkan dalam arsitekur rumah komunal. Hal ini sebagai tempat proses musyawarah atau dialog komunitas. Sehingga, didirikanlah Balai Rukun Tetangga sebagai tahap awal pembangunan Kampung Kali Code.

Penataan dan rancangan Balai Rukun Tetangga serta rumah-rumah penduduk berasal dari kondisi tapak yang ada. Kali Code menjadi halaman depan bangunan agar masyarakat sadar untuk merawat dan menjaganya. Selain itu, bentuk bangunan dirancang rendah hati menampilkan identitas lokal. Konsep utamanya adalah menghadirkan rumah yang tidak hanya sehat jasmani, tetapi juga secara psikis. Rancangan mengoptimalkan terbentuknya keseharian dialog informal para warganya. Hal ini dimulai sejak dari pembangunannya. Pembangunan kampung dengan gotong royong, yang merupakan akar dari falsafah Pancasila. Masyarakat bekerja sama mulai dari membangun, mewarnai bersama bangunannya, hingga merawat Kampungnya. Sehingga material yang digunakan tidak hanya dipilih berdasarkan aspek perawatan saja, melainkan juga keberlanjutan dan biaya. Material bahan bangunan tersebut adalah yang akrab dengan rakyat, seperti bambu sebagai tiang, gedeg (anyaman bambu) sebagai tembok, serta seng sebagai atap dipilih untuk mengisi bangunan.

Apa yang telah dilakukan Romo Mangun ternyata berdampak besar. Masyarakat tumbuh dan berkembang dari bukan siapa-siapa menjadi sebuah laskar mandiri. Dari sini, Romo Mangun menampilkan pelbagai gejala arsitektur secara holistik. Bukan hanya tentang keterampilan teknis yang bersifat praktis, ataupun tentang estetis serta fungsional belaka.   Melainkan pula mencerminkan jiwa, mental, serta sikap budaya si pembuat dan si pemiliknya yang murni mengangkat hakikat dan martabat alam.

Beni Bagus - YBM 03

Gambar 2. Sketsa tangan Romo Mangun berupa perancangan rumah dan Balai Rukun Tetangga Kampung Kali Code. Sumber: Agha Khan Award for Architecture

                                                                                                                                    

Konsistensi Karya Wastu

Pada dasarnya tiap-tiap karya dari seorang arsitek tentu memiliki strategi dan metode perancangan yang berbeda-beda sesuai dengan konteks persoalan yang dihadapi. Tak terkecuali Romo Mangun. Meskipun demikian, dari berbagai karya, terdapat benang merah yang jelas untuk dapat memahami strategi dan metode perancangan Romo Mangun. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Erwinthon P. Napitupulu mengenai konsistensi Romo Mangun yang  tampak bukan hanya dalam kiprahnya di dunia Arsitektur, namun juga dalam karyanya di  bidang lain.

Pada SD Mangunan misalnya, Romo Mangun merancang bangunan sekolah tersebut dengan sangat sederhana. Meski demikian, ada nilai yang menjiwai bangunan sekolahan tersebut. Yang dirancang oleh Romo Mangun lebih dari sekedar bangunan, melainkan sebuah konsep pendidikan. Nilai falsafah jawa Ajri-asih yang Romo Mangun terapkan ketika tinggal bersama dengan warga Kali Code dijadikan sebagai proses pembelajaran SD Mangunan (Pradipto, 2007:53). Hal ini berdasarkan keprihatian Romo Mangun pada pendidikan dasar di Indonesia dan keberpihakan Romo Mangun pada kaum miskin dan papa yang tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Motivasi, perancangan, dan perwujudannya serupa dengan Kampung Kali Code, tetapi tidaklah sama.

Beni Bagus - YBM 04

 

Gambar 3. Bangunan kelas SD Mangunan pada tahun 2012. Tampak sederhana, namun jiwa dan konsep pendidikan yang ada tidaklah sederhana. Foto©Bennedictus Bagustantyo.

Lilianny S Arifin dari Laboratorium Sejarah & Teori Arsitektur Universitas Kristen Petra mengatakan “Karya bangun Mangunwijaya tumbuh dari suatu keakraban dengan alam setempat, dengan penyampaian yang wajar tapi sarat pesan. Keinginan Mangunwijaya menghadirkan sebuah substansi untuk mendorong hadirnya arsitekur nusantara terlihat dari penjiwaannya terhadap arsitektur rumah – rumah tradisional dan juga candi di Indonesia” (Arifin, 2012). Gaya arsitektur nusantara tersebut telah kita lihat bersama diterapkan dalam permukiman Kali Code. Namun, penelitian Arifin justru bertolak ukur dari peziarahan Sendangsono dan pertapaan Gedono yang keduanya juga merupakan buah karya Romo Mangun. Hal ini ia simpulkan dari tatanan kolom bangunan yang mencerminkan tatanan rumah tradisional dan tatanan lengkung yang mengingatkan bentuk lengkung pintu candi. Serta perpaduan material dan konstruksinya yang menghadirkan sebuah harmoni arsitektur nusantara.

Konsistensi tersebut dapat dikatakan tercipta sejak karya Romo Mangun yang pertama. Yaitu Gereja Santa Maria Assumpta, Klaten, Jawa Tengah pada tahun 1968:

“Sebagian orang memaknai bentuk bangunan Gereja Santa Maria Assumpta, Klaten ini sebagai ‘burung yang sedang membentangkan sayap’. Sebagian lagi juga melihat symbol-simbol pohon kehidupan pada relief dinding luarnya. Lebih jauh lagi ternyata kolom yang berada di tengah adalah bagian dari saka guru (simbol jawa). Di dalamnya sangat banyak komponen bangunan dengan berbagai makna. Bangunan ini sungguh kaya dari segi bentuk dan pemaknaannya” (Napitupulu, 2013)

Berdasarkan pemaparan di atas, kita bisa melihat pola-pola dan karakteristik karya Romo Mangun yang sebenarnya memiliki koherensi satu sama lain. Karakteristik tersebut antara lain, keberpihakan rancangan pada manusia terutama yang lemah, penggunaan arsitektur nusantara sebagai kearifan lokal, keselarasan rancangan dengan martabat alam, dan dialog kemanunggalan rohani-jasmani arsitektur yang berasal dari sosio-kultural manusia itu sendiri yang sarat dengan makna serta pesan. Dari ciri-ciri karya arsitektural yang koheren itulah kita bisa mengaitkan dengan tulisan dan pandangannya di bidang arsitektur: Wastu Citra. Sehingga, bisa ditarik kesimpulan pembelajaran teori desain arsitektur Romo Mangun.

 

Pemikiran Perancangan Romo Mangun: Sajak Wastu

Dalam bab terakhir “Wastu Citra” (1988) yang berjudul “Mencari Kembali Makna Arsitektur”, Romo Mangun secara tegas menyatakan ketidakberpihakan dia pada terminologi istilah ‘Arsitektur’ yang memiliki makna terbatas pada teknis statika bangunan belaka. Meskipun demikian, ia memakluminya sebagai penghayatan ontologis yang otonom. Ia cenderung setuju dengan kebijaksanaan nenek moyang yang menyebut ‘Arsitektur’ sebagai Vasthu/Wastu. Vasthu/Wastu memilki makna yang jauh lebih luas. Ada aspek pembangunan rohani-jasmani yang berfalsafahkan trans-formasi: pengubahan radikal ke-ada-an manusia.

Vasthu/Wastu yang benar tersebut dapat terwujud sesuai dengan dua prinsip perancangan: Guna dan Citra. ‘Guna’ di sini dapat dikatakan mencakup prinsip firmitas dan utilitas yang dicetuskan oleh Vitruvius. Bahwa ‘Guna’ tidak hanya berarti bermanfaat, untung materiil belaka, tetapi lebih dari itu punya Daya yang menyebabkan manusia bisa hidup lebih meningkat (Mangunwijaya, 2013:52). Semua itu bertalian dengan ‘Citra’, yang dapat dikatakan mencakup prinsip venustas, bahkan lebih dari sekedar estetika belaka. Citra menunjuk pada suatu kesan penghayatan yang menangkap arti bagi seseorang (Mangunwijaya, 2013:52). Terkait dengan Citra ini, Romo Mangun memberikan suatu penekanan:

“Citra yang menunjuk kepada sesuatu yang transedens, yang memberi makna, yang mampu membuat kita melihat beyond atau di balik ‘yang hanya-di-sini’, mengatasi hal-hal wadaq materialistik belaka atau ekonomik kalkulabel belaka, dan sebagainya. Arti, makna, kesejatian, citra, semua itu mencakup estetika, namun juga kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, yang bukan seerba kebetulan atau kesemerawutan, melainkan suatu kosmos teratur lagi harmonis” (Mangunwijaya, 2013:52)

Berdasarkan semua hal di atas, dapat disimpulkan tiga teori Arsitektur Romo Mangun yang tampak dalam karya-karyanya. Hal ini seturut dengan yang disampaikan Arifin (2012). Pertama, arsitektur adalah simbol dari sebuah kosmos. Suatu hal yang sangat dekat dengan falsafah Jawa kuna: Ajrih-asih. Bahwa menciptakan arsitektur adalah memanfaatkan dan mengangkat martabat alam. Sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi. Kedua, arsitektur adalah cermin dari sebuah sikap hidup. Sikap hidup ini dilatarbelakangi oleh orientasi diri yang berdasarkan pada kecerlangan kebenaran. Kebenaran bahwa manusia merupakan keesaan dari jasmani-rohani yang menjadi pembuka tulisan ini. Contohnya adalah kesadaran tentang jiwa bangsa-negara yang terejawantahkan dalam arsitektur vernakular. Ketiga, arsitektur membutuhkan suatu ekspresi yang mandiri. Tidak hanya berbicara mengenai feminim dan maskulin atau statis dan dinamis (dalam bahasa Romo Mangun: Arjuna dan Rahwana atau Kemantapan dan Gerak), tetapi terutama pada pengungkapan ke-ada-an diri.

Oleh karena itu, bagaimana Romo Mangun merancang merupakan suatu hal yang lebih dari Designer as Black Boxes ataupun Designer as Glass Boxes milik Christopher Jones (1972). Hal ini dikarenakan Romo Mangun tidak secara ajaib memunculkan suatu gagasan perancangan. Bahkan ia berusaha menerangkan perancangannya melalui tulisan-tulisannya. Ataupun tidak begitu rasional dan ontologis terhadap perancangannya. Tetapi ia menyentuh sendi-sendi dasar rohani manusia. Melainkan berasitektur bagi Romo Mangun adalah beraktivitas, termasuk di antaranya bertukang, sesuatu yang buat sebagian orang dianggap tidak setinggi mendesain. Romo Mangun bahkan secara tulus dan serius mempersembahkan buku “Wastu Citra”-nya untuk para tukang dan karyawan lapangan yang telah menjadi mahaguru baginya.

Maka, perancangan Romo Mangun yang telah diteorikan tersebut justru sangat dekat dengan teori desain “Poetics of Architecture” oleh Anthony C. Antoniades (1990). Yaitu sebuah teori yang menganalogikan arsitektur sebagai puisi yang terdiri atas unsur-unsur intrinsik serta ekstrinsik. Seolah-olah, buah karya arsitektur merupakan sebuah puisi, dan arsitek merupakan pujangganya. Meskipun demikian, karya-karya Romo Mangun lebih tepat dianalogikan bagai sebuah sajak. Sajak yang dikenali sebagai puisi modern adalah bebas daripada peraturan-peraturan penciptaan dibandingkan dengan puisi. Berbagai irama dan peraturan lainnya adalah berdasarkan tujuan penulis atau penyair. Hal ini demi memberi kebebasan kepada penulisnya untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dengan cara yang sesuai dengan konteks zamannya.

Sajak indah nenek moyang kita yang telah menjadi pembuka tulisan ini, tampaknya tepat digunakan kembali untuk menjadi penutup tulisan ini. Sajak itulah yang tergambarkan dalam karya Romo Mangun. Bagi Romo Mangun, arsitek (wadah/bejana) sejatinya kembali ke hakikatnya (isi bejana) yang menguasai berbagai bidang ilmu dan ketrampilan. Kepiawaian untuk berpikir holistik jarang bersatu atau mengkristal dalam diri seseorang. Serta harus adil terhadap semua orang. Bahkan berpihak pada yang lemah dan tertindas. Hal ini tentunya demi terciptanya kehidupan yang baik, dan utuh secara jasmani-rohani.

Daftar Pustaka

Al-Radi, Selma, dan Charles Moore. 1992. Kampung Kali Cho-de. In Architecture for a Changing World. James Steele, ed. London: Academy Editions.

Antoniades, Anthony C. 1990. Poetics of Architecture: Theory of Design.

Arifin, Lilianny S. 2012. “Arsitektur Nusantara Ala Mangunwijaya: Membangkitkan makna Vernakular lewat Jiwa Tradisi”.  Universitas Kristen Petra: Laboratorium Sejarah & Teori Arsitektur.

Mangunwijaya, Yusuf Bilyarta. 2013 (edisi baru). Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-Sendi Filsafatnya Beserta Contoh-Contoh Praktis. Jakarta: Gramedia.

Napitupulu, Erwinthon P.  2013.  “Wastu Citra dan Citra Wastu Y.B. Mangunwijaya: Kesesuaian Antara Yang-Dituliskan dan Yang-Diwujudkan”. dalam pembuka edisi baru Wastu Citra. Jakarta: Gramedia.

Pradipto, Yosef Dedy. 2007. Belajar Sejati Versus Kurikulum Nasional – Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar. Yogyakarta: Kanisius.

  1. Y. B. Mangunwijaya. https://en.wikipedia.org/wiki/Y._B._Mangunwijaya (Diakses: 26 Oktober 2013)

(Artikel ini merupakan bagian dari tugas matakuliah AR2211 Te ori Desain Arsitektur tahun 2015)