Sayembara Bahan Bakar untuk Berkembang: LABO Architecture+Design

by

Dimas Satrio Danardono (15216060)          
Muhammad Fahmi Widiarto (15216024)      
Mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur Institut Teknologi Bandung.

Mungkin kita sering mendengar sayembara-sayembara arsitektur kini bertebaran di Indonesia. Ada yang menjanjikan hadiah uang, ada pula yang menjanjikan karya akan dibangun. Banyak orang yang berhubungan dengan arsitektur, mulai dari mahasiswa, profesional, bahkan sekedar peminat pun tertarik untuk ikut serta dan mendapatkan sesuatu darinya. Ada yang menginginkan hadiah materi untuk dibawa pulang. Ada yang menginginkan kebanggaan diri melihat idenya direalisasikan. Ada pula yang hanya ingin membawa pulang pengalaman. Sungguh banyak alasan mengapa banyak orang ingin ikut serta dalam suatu sayembara arsitektur. Termasuk salah satunya firma arsitektur LABO

LABO Architecture+Design, sebuah firma yang berfokus di bidang arsitektur, perencanaan, desain produk serta interior, didirikan oleh pasangan suami-istri Deddy Wahjudi dan Nelly Daniel. didirikan atas dasar keinginan untuk mengembangkan diri. “Sehabis lulus kuliah, jujur kami agak bingung; habis ini mau ngapain?. Apa yang bisa kami kasih buat orang-orang?,” ujar Nelly ketika diwawancara di kantornya, LABO The Mori, di bilangan Bukit Dago, Bandung (27/4/2018). “Akhirnya, kami memutuskan membuat biro (desain) saja. Biro yang didirikan oleh pasangan suami-istri sendiri bukanlah hal yang baru setelah sebelumnya dikenal nama FOA Architect, sebuah biro arsitektur di Inggris. Baginya, desain yang baik adalah desain yang bisa memberikan nilai tambah bagi para penggunanya. “Kami mendirikan LABO sebagai tim yang bukan cuma membuat sesuatu, tapi juga memberi nilai tambah bagi semuanya. Alam dan manusia.”

Bermula dari sebuah flat di Nerima, Tokyo, tahun 2006,  LABO menjejakkan kakinya di Indonesia mulai 2007—tak lama setelah pendirinya kembali ke Indonesia–dan resmi menjadi sebuah PT pada 2008. Mulanya, kantor biro ini di Indonesia hanyalah sebagian dari garasi kediaman Nelly di bilangan Gatot Subroto, Bandung. Stafnya pun hanya pasangan Deddy-Nelly saja. “Seiring waktu, kami berkembang dan kantor di garasi itu terus meluber sampai ke semua bagian bawah rumah,” ujar Nelly sambil tertawa. Sejak 2011, LABO membangun kantor baru yang sekarang ditempati yang juga berfungsi sebagai kediaman baru keluarga Deddy-Nelly bersama kedua anaknya. Firma tersebut kini terdiri dari belasan orang. “Kantor ini adalah cerminan dari apa yang kita ingin kembangkan”, sambung Nelly sambil menunjuk ke sistem landscaping kantor LABO yang rindang, mengarah ke lembah sungai Cikapundung.

Sebagai langkah awal, LABO membangun portofolionya dengan cara mengikuti sayembara. Salah satu sayembara yang mereka ikuti saat itu adalah sayembara terbuka Masjid Raya Sumatera Barat. “Saat itu, kami melihat betapa pemain lama masih mendominasi dunia arsitektur Indonesia”, cerita Nelly mengingat pertemuannya dengan berbagai arsitek senior tanah air—termasuk beberapa dosennya saat kuliah di ITB. Meski akhirnya “hanya” mendapatkan urutan ketiga dan karyanya tidak lantas dibangun, namun sayembara tersebut meninggalkan pengalaman positif yang mendalam. “Lepas dari situ, kami menyadari kalau prospek arsitektur di Indonesia, terutama buat pemain baru, masih luas. Sayembara adalah salah satu jalannya.”

Meskipun kini LABO sudah memiliki banyak klien tetap—umumnya dari pihak swasta maupun individu, mereka tetap rajin mengikuti sayembara, di dalam maupun di luar negeri. Tujuan utama mereka mengikuti sayembara bukanlah karena hadiah, janji-janji uang ataupun karya yang dibangun. “Kami menganggap itu sebagai bonus saja,” menurut Nelly. Baginya, sayembara juga merupakan salah satu cara untuk membangun jaringan dan kepercayaan klien aktif maupun prospektif. “Sekali ikut sayembara, mereka (penyelenggara sayembara) tak akan segan untuk mengundang lagi dan lagi karena sudah percaya.” Sayembara juga merupakan ajang publikasi. “Kami juga bisa sekalian publikasi dengan ikut sayembara-sayembara seperti itu”, sambung Nelly sambil memaparkan rencana roadshow LABO ke berbagai kota di Indonesia pada Mei mendatang. Menurut Nelly, hal tersebut merupakan salah satu berkah sayembara. Selain itu, sayembara merupakan salah satu metode untuk menjaga kualitas LABO agar tetap terkendali. “Sayembara juga kami gunakan untuk benchmarking; bagaimana kemampuan tim kami untuk mengerjakan suatu proyek dalam besaran tertentu,” papar Nelly. “Dari sana kami tahu bagian mana-mana saja yang harus diperbaiki dan dipertahankan.”

Menurut Nelly, sambil menutup wawancara, sayembara adalah kunci bagi calon arsitek dan arsitek muda untuk berkembang. Sayembara merupakan salah satu langkah awal untuk menemukan pengalaman, menggali potensi, serta menjalin hubungan profesional. “Kami sendiri masih akan jadi peserta setia sayembara hingga tahun-tahun yang akan datang”, pungkasnya.

PageLines