Teori Belajar dalam Pendidikan Arsitektur

by

Tjahja Tribinuka | Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS | E-mail tribinuka(at)ymail.com

Ada berbagai macam tipe dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Arsitektur, ada tipe dosen yang killer, ada tipe yang ramah. Ada tipe dosen yang sulit memberi nilai tinggi, ada tipe yang mudah memberi nilai tinggi. Sebenarnya acuan yang bagaimana yang benar untuk dipegang oleh pendidik arsitektur di Perguruan tinggi. Hal tersebut memerlukan ilmu yang lebih dari sekedar mengajar susuai dengan karakter dari pendidik saja, apalagi jika karakter itu terbangun dengan sekedar mencontoh dosen senior yang diidolakan oleh dosen yunior. Pendidik tidak bisa membenarkan dirinya memiliki karakter killer, sehingga mengajarnya juga harus killer, atau membenarkan dirinya memiliki karakter ramah, sehingga mengajarnya juga harus ramah. Pendidik perlu tahu apa dampaknya jika mendidik dengan killer, dan apa dampaknya jika mendidik dengan ramah. Dalam psikologi belajar ada yang dinamakan ‘teori belajar’, yaitu cara dan prinsip seseorang dalam mengajar, disertai dengan pemikiran dan dampaknya kepada anak didik.

Teori belajar dalam paham behaviourisme mengutamakan penelusuran dari stimulus dan respon pada anak didik. Sitmulus awal yang dimiliki anak didik perlu dikuatkan dengan respon agar sesuai dengan tujuan materi yang diajarkan. Penguatan stimulus dan respon ini dilakukan dengan pemberian berbagai latihan. Latihan perlu dirancang dengan tugas dari yang sederhana sesuai analisis awal stimulus yang dimiliki mahasiswa, kemudian berkembang ke hal yang semakin sulit dan luas. Misalnya pada semeseter awal jika siswa menguasai menggambar garis, angka dan huruf dari pelajarannya di SMA, maka tugas awalnya mengembangkan latihan pembuatan garis, angka dan huruf tersebut secara berulang-ulang sampai dalam jumlah latihan tertentu mahasiswa dianggap mampu mengerjakan tugas selanjutnya yang lebih kompleks. Tugas selanjutnya bisa dengan mulai menerapkan garis, angka dan huruf tersebut untuk menggambar langsung benda seberhana yang diberi keterangan berupa angka dan huruf. Tugas selanjutnya bisa ditambah lebih berat untuk penggambaran proyeksi, atau perspektif atau aksonometri.

Teori belajar dalam paham kognitivisme lebih luas membahas mengenai kemampuan mahasiswa untuk memahami susunan pengetahuan yang sedang dipelajarinya dari proses kemanusiaan. Bahwa ketika dosen memberi kuliah atau latihan dengan tugas perlu memahami psikologi dari mahasiswa yang berbeda dengan diri dosennya sendiri, selain itu perlu memahami bahwa setiap mahasiswa memiliki psikologi yang berbeda-beda secara khas. Dalam contoh kasus di atas, paling tidak dosen membebaskan mahasiswa untuk memilih obyek apa yang akan digambarnya. Dosen tidak harus menentukan bahwa obyek yang digambar mahasiswa harus sama semua. Keberagaman tugas tersebut juga dalam hal seberapa besar obyek yang digambar, dari sudut pandang mana menggambarnya, digambar bersama temannya atau sendirian, dan lain-lain. Tugas bukan hanya dinilai hasilnya saja, tetapi penting bagi mahasiswa menuliskan satu atau dua lembar pengalamannya ketika mengerjakan tugas menggambar obyek. Pengalaman tersebut adalah hal yang khas pada diri tiap mahasiswa, dan baik jika bisa saling didiskusikan. Pemberian tugas dengan interaksi berupa diskusi bersama, mengemukakan pendapat dan tidak tergesa-gesa menetapkan bahwa gambar ini bagus dan gambar itu. Setiap gambar tidak bisa langsung dihakimi sebagai gambar yang bagus atau jelek, tetapi gambar tipe A yang dianggap bagus dibuat dengan kondisi A1, pemikiran A2, teknik A3, dan lain-lain. sedangkan gambar tipe B yang dianggap jelek dibuat dengan kondisi B1, pemikiran B2, teknik B3, dan lain-lain. Bagus atau jeleknya gambar bisa dianggap relatif, jika konsisten antara alasan atau konsep penggambaran dan hasil gambarnya hingga bermanfaat pada ilmu, maka gambar yang jelek bisa mendapat nilai yang baik. Jika tidak konsisten dan sedikit manfaat ilmu yang didapat, maka gambar yang bagus bisa pula mendapat nilai yang buruk.

Teori belajar dalam paham konstruktivisme pada saat ini sepertinya sesuai dengan konsep ‘Student Base Learning’. Dosen bukan lagi menjadi pendidik yang total mengajarkan ilmu ke mahasiswa, tetapi mahasiswa sendiri yang berupaya mencari ilmu dari tugas-tugas yang dikerjakan. Dosen hanya berposisi sebagai fasilitator dan motivator saja, sedang mahasiswa dituntut untuk lebih aktif menjalani kuliah. Hal terpenting yang perlu dipahami bahwa ‘mengajar adalah proses membantu mahasiswa untuk belajar’. Tugas yang diberikan bukanlah penyelesaian soal dengan ilmu tunggal, tetapi soal terbuka yang bisa diselesaikan dengan beragam ilmu dan teknik. Mahasiswa bisa mengetahui sendiri dengan mencari ilmu untuk menyelesaikan tugas, bahkan bisa memadukan beragam ilmu, bahkan bisa menyalahkan ilmu jika memang tidak sesuai dan memperbaiki dengan ilmu yang lebih sesuai. Jika mahasiswa diajari ilmu, maka dia akan menyelesaikan masalah dengan ilmu yang diajarkan, dan ketika sebuah masalah perlu diselesaikan dengan ilmu yang lain akan membuatnya kebingungan. Jika mahasiswa diajarkan untuk mencari ilmu, maka dia akan menyelesaikan masalah dengan mencari ilmu yang bisa menyelesaikan masalah terebut.

Teori belajar observasional dengan pembelajaran sosial membahas kegiatan belajar dalam lingkup yang lebih dari sekedar penguatan antara stimulus dan respon. Proses belajar lebih luas tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dipengaruhi lingkungannya. Ketika memberikan tugas, maka dosen perlu memberikan wahana agar tugas tersebut dapat dikerjakan dalam lingkungan yang mendukung pembelajaran mahasiswa. Seseorang yang sedang belajar bisa dipengaruhi oleh lingkungan belajarnya, ketika lingkungan belajar tersebut dianggap ideal, maka seseorang bisa mengubah perilakunya meniru lingkungan ideal tersebut. Dosen perlu memahami bahwa teori belajar ini memungkinkan terjadinya peniruan (imitation), oleh karenanya dosen perlu membuat pengkondisian yang baik dan sesuai tujuan dari situasi belajar yang sedang diembannya.

Dengan memahami berbagai teori belajar ini, maka dosen bisa mempertimbangkan hal terbaik yang mana yang paling sesuai untuk diterapkan dalam proses belajar dan mengajar arsitektur. Sebuah tugas desain yang terkait dengan kreativitas memerlukan pembukaan seluas-luasnya terhadap berbagai varian penerapan ilmu. Dosen perlu untuk bisa legawa bahwa ilmu yang telah dimilikinya kemungkinan bisa tertinggal dengan ilmu yang didapat oleh mahasiswa melalui berbagai informasi elektronik yang saat ini sudah semakin cepat dan meluas. Dosen perlu memahami bahwa tugasnya mendidik adalah membentuk eksistensi mahasiswa dalam bidang arsitektur dan mengesampingkan dirinya sendiri untuk dieksiskan mahasiswa. Dosen perlu memahami bahwa dalam proses mendidik tersebut yang penting adalah mahasiswanya di masa depan akan menjadi apa, dalam proses itu yang penting bukan dosennya, karena di masa depan dia tetap akan jadi dosen.

PageLines