Transformasi Bentuk dan Material Rumah di Permukiman Pesisir Suku Bajoe di Bone

by

Nurul Nadjmi1, Inya Masita Talaohu2

1 Laboratorium Desain Perumahan dan Lingkungan Permukiman/Program Studi Arsitektur/Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik/Universitas Hasanuddin.
2 Program Studi Arsitektur/Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik/Universitas Hasanuddin

https://doi.org/10.32315/jlbi.8.1.29

Abstrak

Kebudayaan bermukim dengan lingkungan masyarakat yang berbudayamemberikan nuansa masa lampau yang terbentuk dalam sebuah wujud budaya dan telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam perjalanannya budaya tersebut mengalami perubahan dalam proses akulturasi dalam bermukim dari satu individu ke individu yang lain dan juga dari satu generasi ke generasi yang lain. Hal ini di alami oleh Suku Bajoe di Bone. Kebudayaan menjadi bagian yang sangat berpengaruh terhadap bentuk dan material rumah yang ada. Yang mana terdapat nilai-nilai filosofi tersendiri terhadap bentuk dan material rumah serta merupakan faktor yang mentransformasi bentuk rumah pada permukiman Suku Bajoe di Bone. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana transfomasi terhadap bentuk dan material pada rumah dipermukiman pesisir Suku Bajoe yang berada di tiga tempat yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sehingga didapatkan bentuk transformasi yang terjadi pada bentuk dan material rumah pada permukiman Suku Bajoe.

Kata-kunci : Transformas, Bentuk Rumah, Material Rumah, Permukiman Pesisir, Suku Bajoe.

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia 8 (1), 29-35
Download PDF

Daftar Pustaka

  1. Antariksa, & Sari, N. (2010). Pelestarian Pola Permukiman Masyarakat Using di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Tata Kota dan Daerah. II (1)
  2. Ayuninggar, D. P. (2013). Sosial Budaya Pembentuk Permukiman Masyarakat Tengger
  3. Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Jurnal Tata Kota dan Daerah. V
  4. Ching, D. K. (1993). Architecture: Form, Space and Order (Arsitektur: Bentuk, Ruang dan Susunannya). Jakarta: Erlangga.
  5. Ronald, A. (2006). Nilai-Nilai Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  6. Sare, Y. (2006). Antropologi. Jakarta: Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia)
  7. Wibowo, W. (2011). Cara Cerdas Menulis Artikel Ilmiah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
  8. Koentjaraningrat. (1982). Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press
  9. Koentjaraningrat. (1984). Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.
  10. Krisna, R. (2005). Studi Pelestarian Kawasan Wisata Budaya di Dusun SadeKabupaten Lombok Tengah. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Brawijaya.
  11. Krisna, R., Antariksa & Dwi Ari, I. R. 2005. Studi Pelestarian Kawasan WisataBudaya di Dusun SadeKabupaten Lombok Tengah. Jurnal Plannit. 3 (2), 124-133.
  12. Maria, S., Limbeng, J. & Sunarto. (2006). Kepercayaan Komunitas Adat Suku Dawan Pada Siklus Ritus Tani Lahan Kering Di Kampung Maslete, Kecamatan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa TenggaraTimur.
  13. Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, Departemen Kebudayaandan Pariwisata.Nuraini, C. 2004. Permukiman Suku Batak Mandailing . Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity Press.
  14. Permatasari, Ike. 2008. Permukiman Perdesaan Di Desa Trowulan KecamatanTrowulan Kabupaten Mojokerto. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang:Universitas Brawijaya.
  15. Rapoport, A. 1993.Development, Culture,Change and Supportive Design. USA:University of Wisconsin-Milwaukee.