Warisan Perkotaan Menuju Identitas Kota Indonesia: Jakarta Masa Kolonial hingga Pasca-Kolonial

by

Ary Sulistyo
Pengiat Komunitas Sejarah-Budaya
Email: sulistyo.ary26@gmail.com, Telp : 0896-6596-1356

Download PDF

Kota-kota di Indonesia khususnya Pulau Jawa, mayoritas adalah kota-kota besar yang bersejarah, yang lokasinya berada di tepi-tepi pantai dan  maupun di pedalaman. Salah satunya Jakarta yang dulunya bernama Batavia. Jakarta sebagai ibukota negara merupakan satu-kesatuan ruang geografis yang di huni dan di tempati oleh manusia dengan segala perangkat kebudayaannya. Secara historis, kota-kota di Pulau Jawa berkembang dari kota-kota pra kolonial yang kemudian berkembang menjadi kota-kota kolonial hasil dari rancang bangun kolonial Belanda. 

Perkembangan kota sejak awal abad ke-20 ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan kompleksitas elemen dan permasalahan perkotaan yang muncul salah satu persoalan perkotaan dan masyakatnya yang semakin kompleks dengan masuk melalui konsep modernitas. Modern, modernisasi, modernism, dan juga modernitas adalah konsep sejarah yang menjadi alat baca dalam mengurai kompleksitas itu dalam rentang waktu yang ada. Makna modernitas ini merupakan usaha untuk menjelaskan lebih beragam atas kenyataan sejarah perkotaan di Indonesia (Makkelo, 2017).

Pada mulanya Jakarta yang berkembang dari sebuah pelabuhan Sunda Kelapa (Abad ke 5-15 M) kemudian Keraton Jayakarta (tahun 1527) dan digantikan oleh Kota Batavia (tahun 1619-1942) yang secara morfologis telah melewati tahap-tahap, yaitu pembangunan kota lama, perluasan pinggiran kota hingga Weltevreden, penyatuan Meester Cornelis, perluasan pinggiran kota ke Kebayoran dan perlebaran kawasan perkotaan (Nas dan Grijns, 2007: 5).  Perencanaan Kota Weltrevreden pada abad ke 19, memiliki persamaan dengan pola kota-kota lain di Indonesia (Jawa) dengan alun-alun di tengah-tengah dan jalan-jalan lebar saling bersilangan yang memberikan ruang untuk jalan-jalan sekunder[1]

Dalam perkembangan kebudayaan perkotaan, berlaku pula unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, sistem religi, dan kesenian (Koentjaraningrat, 2002: 203—204). Kebudayaan sebagai blueprint, disain atau pedoman menyeluruh bagi kehidupan manusia. Kebudayaan milik masyarakat, sedangkan individu-individu yang menjadi warga masyarakat tersebut mempunyai pengetahuan kebudayaan. Konsep kebudayaan relevan kaitannya dengan usaha untuk memahami tindakan-tindakan para warga masyarakat yang menjadi pendukung kebudayaan. Kecenderungan tindakan manusia untuk selalu berpola dan kecenderungan dari pola kelakuan untuk tidak berubah dari masa ke masa dan kecenderungannya untuk selalu berubah (Suparlan, 2004: 158). 

Dalam membentuk budaya kota Jakarta tentunya merupakan budaya hasil akulturasi, asimilasi, difusi dan penetrasi dengan kebudayaan lain yang mulai dalam rentang waktu prasejarah[2] hingga kini (kontemporer). Harmonisasi selama berabad-abad telah menciptakan suatu irama ke ‘Indonesiaan’. Dalam istilah sederhana local genius (kecerdasan lokal) di mana kebudayaan Indonesia adalah adalah proses akulturasi dari kebudayaan yang datang dari Indo-Cina, India, Islam, Cina, dan Eropa. Menjadi perhatian bahwa dari banyaknya momen sejarah yang dialami oleh bangsa Indonesia terdapat tiga momen yang sangat berperan bagi kesatuan kebudayaan kita sejak dari masa prasejarah (terutama neolitik, karena adanya gejala perkembangan lokal serta revolusi teknik dan sosial-ekonomi) kemudian berlanjut kepada anasir-anasir India sejak abad IV dan mencapai puncaknya pada abad XVII (masa kerajaan Hindu-Buda), yang selanjutnya digantikan jaman “baru” Islam dan Kolonial Belanda di Indonesia (Fadillah, 1999: 129). Oleh karena itu, dipahami bahwa “nasionalisme” yang kita miliki ternyata sudah ada sejak dahulu kala sebelum berdirinya bangsa-negara (nation state) seperti sekarang ini.

Sebagai perkembangan dalam pendekatan studi, teori yang digunakan seringkali tidak pernah lepas dari evolusi budaya berpikir masyarakat global. Hubungan yang saling mempengaruhi secara dua arah ini dapat dilihat secara sinkronik maupun diakronik. Pada masa kolonial, interpretasi terhadap situs dan kawasan arkeologi[3] kerap diselimuti oleh bias ras, agama, dan kesukuan. Paradigma post-kolonialisme hadir sebagai kritik terhadap hegemoni berpikir supremasi kulit putih tersebut. Namun kenyataannya, bahkan di era pasca kolonialisme, praktik serupa masih kerap terjadi. Cara pandang neo-kolonialisme masih dapat ditemui hingga saat ini. Bidang studi sosial-budaya (khususnya arkeologi dan arkeologi perkotaan) tidak hanya ditempatkan sebagai bidang ilmu yang netral, namun masih menjadi salah satu isu sentral sebagai simbol personifikasi jati diri, harga diri, maupun propaganda politik (Kaharudin dan Asyrafi, 2019: 55).

Tabel Perkembangan Jakarta dari Masa Prasejarah hingga Sekarang

Jaman Periode waktu Pengaruh Budaya Peralihan Budaya Proses Kebudayaan Kota
Prasejarah Sebelum abad ke 5 Neolitik ? Akulturasi ?
Tarmanegara Abad 5-10 Hindu Prasejarah-Hindu Akulturasi Tradisional
Kalapa Abad 10-16 Hindu Hindu-Islam Akulturasi Tradisional
Jayakarta 1527-1619 Islam Islam-Kolonial Penetrasi Tradisional
Batavia 1620-1799 Islam Kolonial-Indisch Asimilasi Kolonial
Nieuw Batavia 1800-1941 Indisch Indisch–Jepang Penetrasi Kolonial-Indisch
Djakarta 1942-1945 Jepang Jepang-Anti Barat Penetrasi Post-Kolonial
Kotapraja Jakarta 1945-1965 Anti Barat Anti Barat-Barat Difusi Post-Kolonial
DKI Jakarta (1) 1965-1998 Barat Anti Barat-Barat Difusi Post-Kolonial
DKI Jakarta (2) 1999-kini Barat ? Difusi Post-Kolonial

Sumber: diolah dari Attahiyat, 2019

Lapisan-lapisan kebudayaan Kota Jakarta sebagai suatu kawasan dan meninggalkan bukti-bukti perkembangan fisik kota yang bermula dari muara Sungai Ciliwung hingga menjadi kota seperti sekarang. Namun demikian, dalam pencarian identitas Kota Jakarta tidaklah lepas dari momen bersejarah yaitu kemerdekaan republik Indonesia tahun 1945. Perkembangan Kota Jakarta sebelum kemerdekaan masih kuat dipengaruhi oleh unsur kolonial Belanda, dan setelah kemerdekaan Indonesia (Kotapraja Djakarta). Namun demikian perkembangan Kota Jakarta pada masa orde Baru hingga kini kembali mendapatkan pengaruh barat melalui difusi kebudayaan, seperti modernisasi dan banyak ahli-ahli perencanaan yang mendapat pendidikan barat yang kemudian menerapkan perencanaan kota modern (lihat tabel). Pada akhirnya perencanaan kota tidak lagi melihat aspek sosial-historis dimana ciri kota ‘nasionalis’ Indonesia hilang.

Kota Jakarta sendiri pada awal kemerdekaan Indonesia, Presiden Sukarno ikut merancang Kota Jakarta sebagai kekuasaan pusat kota, dan Jakarta yang pada masa itu merupakan pusat dari Negara yang merdeka, dengan merencanakan membangun tugu monumen nasional (MONAS), Mesjid Istiqlal, dan Hotel Indonesia, namun dianggap kurang dalam memperhatikan pembangunan fasilitas-fasilitas publik. Jakarta menjadi ‘kota tanpa urbanisme’ dengan menempatkan monumen di tengah-tengah pusat kota (Evers, 2011: 189). Kemudian, pada Perancangan Kota tahun 1965-1985, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966-1977) baru membawa perubahan baru dalam modernisasi kota, namun bangunan-bangunan lama mendapatkan tekanan seperti kawasan Kotatua dan bangunan-bangunan bersejarah. Pada tahun 1968, baru dilakukan upaya-upaya perlindungan dan pengembangan bangunan lama dan baru (Eryudhawan, 2017).

Monas sebagai struktur simbolik atau simbol perlawanan dan kemerdekaan dari Kolonialisme Belanda di  kota Jakarta yang dibangun pada tahun 1961 oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno

Pada masa Orde Lama, hubungan yang terbangun antara pra-dan post-kolonial menjadi dasar dalam pembentukan sebuah bangsa dan negara. Kemudian pada masa Orde Baru dibawah Presiden Soeharto pembangunan seperti Monumen Lubang Buaya untuk mengenang pembunuhan para Jendral dan pengkhianatan PKI tahun 1965, lalu kemudian pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai miniatur suku dan budaya Indonesia. Perkembangan ekonomi pada tahun 1980an dan 1990an direfleksikan dengan bertambahnya kelas menengah serta pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan apartemen mewah. Lambat laun, bermunculannya gedung-gedung pencakar langit (city skyline) menetralisir lapisan-lapisan simbolik yang pernah dibangun pada era sebelumnya, termasuk kawasan Kotatua di pantai utara Jakarta.

Monumen Lumbang Buaya (Pancasila Sakti) yang dibangun pada masa Presiden Soeharto yang juga digunakan sebagai monumen pengingat akan peristiwa penting tahun 1965.

Gedung-gedung pencakar langit Jakarta memudarkan citra kota “simbolisme material” pada pembangunan kota era sebelumnya. Kini Jakarta memiliki image sebagai kota modern dan internasional

Kota Jakarta yang dipopulerkan sebagai image kota modern dan internasional baik administratif dan sektor pariwisata, hal ini menjadi imajinasi untuk menjadi negara besar yang biasa dipamerkan dalam bentuk iklan dan berita. Ever (2011) menyatakan juga bahwa Jakarta berfungsi sebagai ‘negara teater’. Simbol-simbol menciptakan fasad modernitas dengan identitas sebagai kota Internasional, namun ada yang disembunyikan oleh Jakarta. Sungai Ciliwung yang sudah tercemar berat, mengalir lurus melalui kota dengan tingkat sedimentasi dan limbah menjadi pengganggu utama “gambar cantik”. Sungai Ciliwung sendiri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari banyak penduduk untuk mencuci dan mandi; namun juga ancaman banjir tahunan bagi Jakarta (Nas, de Groot dan Schut, 2011: 9)

Pemerintah pusat dan kota pada masa sekarang, bertujuan mengamankan Jakarta di tingkat nasional dan internasional. Namun sayangnya kendali ditingkat lokal belum mampu menjadikan ‘Jakarta yang boombastis’ atau “Jakarta Ibukota Negara” atau “Jakarta Pusat Segalannya” dimana masih banyak kekurangan infrastruktur publik yang belum memadai dan terpenuhinya kebutuhan warga. Sehingga terkesan dimanipulasi oleh arsitektur dan monumen saja. Padahal sungai juga merupakan simbol alam yang kuat dari sebuah kota.

Lalu bagaimanakah dengan rencana pemindahan ibukota baru ke Kalimantan? Apakah rancangan kota baru tersebut akan meninggalkan struktur-struktur/material simbolis atau lebih kepertimbangan lain?

DAFTAR PUSTAKA

Attahiyat, C., 2019. “Perpaduan dan Pembauran Budaya di Kantong Etnik Kotatua Jakarta,” dalam Seminar Akulturasi Budaya, Museum Bank Indonesia 16 Februari 2019. Eryudhawan, Bambang, 2017. “Urban Conservation in Jakarta since 1968” Journal of Archaeology and Fine Arts in Southeast Asia, Vol 1 (2017) pp. 1—20. SEAMEO Regional Centre for Archaeology and Fine Arts (SPAFA)
Evers, Hans-Dieter, 2011. “Urban Symbolism and the New Urbanism of Indonesia,” Peter J.M. Nas (ed.) Cities Full of Symbols: A Theory of Urban Space and Culture. Pp. 187-193. Leiden: Leiden University Press.
Fadillah, Ali Moh. 1999 “Etnisitas dan Nasionalisme Indonesia: Perspektif Arkeologi,”dalam Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Denys Lombard; hlm. 120—135. Henri Chambert-Loir dan Hasan M. Ambary (ed.). Jakarta: Ecole Francaise d’Extreme-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi dan Yayasan Obor Indonesia
Haris, Tawalinuddin, 2007. Kota dan Masyarakat Jakarta: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial Abad XVII – XVII. Jakarta: Wedatama Widya Sastra
Kaharudin Hendri A.F., dan Muhammad Asyrafi, 2019. “Archaeology in the Making of Nations: The Juxtaposition of Postcolonial Archaeology Study,” Amerta: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Vol. 3 No. 1 Juni 2019; hlm. 55-69. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
Koentjaraningrat, 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta (cetakan kedelapan)
Makkelo, Ilham, D., 2017. “Sejarah Perkotaan: Sebuah Tinjauan Historiografis dan Tematis,” dalam Lensa Budaya: Journal of Cultural Sciences, Vol 12 No. 2: 83-101. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makasar.
Nas, Peter J.M., Marlies de Groot dan Michelle Schut, 2011. “Introduction: Variety of Symbols,” dalam Peter J.M. Nas (ed.) Cities Full of Symbols: A Theory of Urban Space and Culture, pp. 7-25. Leiden University Press. 
Nas, Peter J.M, dan Kees Grijns, (ed.), 2007. “Jakarta-Batavia: Suatu Sampel Penelitian Sosio-Historis Mutahir,” Jakarta-Batavia: Esai Sosio-Kultural, hlm 1-23. Jakarta: Banana dan KITLV.Suparlan, P., 2004. Hubungan Antar Suku Bangsa. Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian, Fakultas Pascasarjana, Universitas Indonesia.
Zielenbach, S., 2000. The Art of Revitalization: Improving Condition in Distressed Inner-City Neigborhoods. New York: Garland.


[1] G.E. Jobst, “De stedebouwkundige ontwikkeling van Batavia,” Indisch Bouwkunding Tidjdschrift, 27, 1927, hlm 76; Siswadi, “Perkembangan Kota Jakarta: Suatu Tinjauan Sosial-Historis,” dalam Abdurahman Surjomihardjo, Beberapa Segi Sejarah Masyarakat-Budaya Jakarta. Jakarta, 1977, hlm. 38; Tawalinuddin Haris, 2007. Kota dan Masyarakat Jakarta: Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial Abad XVII – XVII. Jakarta.
[2] Hasan Djafar, 1982.  “Gerabah Prasejarah dari Situs-Situs Arkeologi di Daerah Aliran Sungai Ciliwung, DKI Jakarta,” dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia Jilid XI No. 02, Oktober 1982. hlm. 173-185. Jakarta: Fakultas Sastra UI
[3] Tinggalan arkeologi berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan